<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ahmadiyah Kepulauan Bangka Belitung</title>
	<atom:link href="http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Nov 2009 01:15:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ahamadiyahkepbabel.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ahmadiyah Kepulauan Bangka Belitung</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/osd.xml" title="Ahmadiyah Kepulauan Bangka Belitung" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Riwayat Singkat Pendiri Ahmadiyah Bagian 1</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-1/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 01:15:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafat]]></category>
		<category><![CDATA[Para Pemimpin Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ta&#039;lim]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyat]]></category>
		<category><![CDATA[Umur Amah]]></category>
		<category><![CDATA[Umur Kharikiah]]></category>
		<category><![CDATA[Ghulam Ahmad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-1/</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Kemajuan Jemaat Ahmadiyah yang pesat dan mengagumkan di seluruh dunia menarik serta membangkitkan perhatian umum untuk mempelajari hal ikhwal gerakan yang meluas ini dengan lebih mendalam. Terutama untuk mengenal keadaan orang yang mendirikan gerakan Ahmadiyah ini. Oleh karena itu saya bermaksud menguraikan secara ringkas dan tegas tentang riwayat hidup pendiri gerakan Ahmadiyah. Supaya, dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=89&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Kemajuan Jemaat Ahmadiyah yang pesat dan mengagumkan di seluruh dunia menarik serta membangkitkan perhatian umum untuk mempelajari hal ikhwal gerakan yang meluas ini dengan lebih mendalam.</p>
<p>Terutama untuk mengenal keadaan orang yang mendirikan gerakan Ahmadiyah ini. Oleh karena itu saya bermaksud menguraikan secara ringkas dan tegas tentang riwayat hidup pendiri gerakan Ahmadiyah. Supaya, dengan karunia llahi, penjelasan ini akan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang mencari kebenaran, dan menggerakkan hati mereka untuk menyelidiki lebih lanjut, serta meratakan jalan bagi orang-orang yang hendak masuk ke dalam kerajaan Ilahi. Amin.</p>
<p><strong>A h m a d</strong></p>
<p>Pendiri Jemaat Ahmadiyah bernama Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Nama beliau yang asli hanyalah Ghulam Ahmad. Mirza melambangkan keturunan Moghul. Kebiasaan beliau adalah suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka, waktu menerima baiat dari orang-orang, beliau hanya memakai nama Ahmad. Dalam ilham-ilham , Allah Ta’ala sering memanggil beliau dengan nama Ahmad juga. Hazrat Ahmad as. lahir pada tanggal 13 Februari 1835 M, atau 14 Syawal 1250 H, hari Jumat, pada waktu shalat Subuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar. Yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama kemudian meninggal dunia. Demikianlah sempurna sudah kabar-ghaib yang tertera di dalam kitab-kitab agama Islam bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar. Qadian terletak 57 km sebelah Timur kota Lahore, dan 24 km dari kota Amritsar di propinsi Punjab, India.</p>
<p><strong>Keturunan Barlas</strong></p>
<p>Hazrat Ahmad as. adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap disana. Tetapi pada abad kesepuluh Hijriah atau abad keenambelas masehi, seorang keturunan Haji Barlas, bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias dengan mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km jauhnya darii sungai tersebut.</p>
<p><strong>Q a d i a n</strong></p>
<p>Mirza Hadi Beg adalah seorang cerdik pandai, karena beliau oleh pemerintah pusat Delhi diangkat sebagai qadhi (hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai qadhi itulah maka tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. lambat laun kata Islampur hilang, tinggal Qadhi saja. Dikarenakan logat daerah setempat, akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.</p>
<p>Demikianlah keluarga Barlas tesebut pindah dari Khorasan ke Qadian secara permanen. Selama kerajaan Moghul berkuasa, keluarga inii senantiasa memperoleh kedudukan mulia dan terpandang dalam pemerintahan negara. Setelah kejatuhan kerajaan Moghul, keluarga ini tetap menguasai kawasan 60 pal sekitar Qadian, sebagai kawasan otonomi. Tetapi lambat laun bangsa Sikh mulai berkuasa dan kuat, dan beberapa suku Sikh dari Ramgarhia, setelah bersatu mulai menyerang keluarga ini. Selama itu buyut Hazrat Ahmad as. tetap mempertahankan diri dari serangan musuh. Teapi di zaman kakek beliau, daerah otonomi keluarga ini menjadi sangat lemah, dan hanya terbatas di dalam Qadian saja yang menyerupai benteng dengan tembok pertahanan di sekelilingnya. Daerah-daerah lain telah jatuh ke tangan musuh. Akhirnya bangsa Sikh dapat juga menguasai Qadian dengan jalan mengadakan kontak rahasia dengan beberapa penduduk Qadian, dan semua anggota keluarga ini ditawan oleh bangsa Sikh. Tetapi setelah beberapa hari, keluarga ini diiziinkan meninggalkan Qadian, lalu mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala dan menetap disana selama 12 tahun. Setelah itu tibalah zaman kekuasaan Maharaja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, dan beliau mengembalikan sebagian harta benda keluarga tersebut kepada ayah Hazrat Ahmad as. yang bekerja dalam tentara Maharaja itu beserta saudara-saudaranya.</p>
<p>Kemudian datanglah bangsa Inggris yang mengalahkan pemerintah Sikh, dan merampas segala kekayaan keluarga ini, kecuali satu daerah Qadian yang amat kecil dibiarkan dalam kepemilikan keluarga tersebut.</p>
<p><strong>Dokumen Tentang Keluarga</strong></p>
<p>Baiklah sekarang kami cantumkan di bawah iini apa yang ditulii oleh Sir Lepel Griffin dalam bukunya The Punjab Chiefs, tentang keluarga Hazrat Ahmad as :</p>
<p>        &#8220;Pada tahun 1530, tahun-tahun terakhir pemerintahan kaisar Babar, Hadi Beg, seorang Moghul dari Samarkand , hijrah ke Punjab dan menetap di daerah Gurdaspur. Ia adalah seorang terpelajar serta bijak, dan diangkat oleh pemerintah menjadi qazi atau magistrate untuk 70 kampung di sekitar Qadian. Dialah yang mendirikan Qadian, dan mula-mula dinamainya Islampur Qazi, yang lambat laun berubah menjadi Qadian. Keluarga ini tetap memegang kedudukan dan pangkat yang pantas serta terpandang dalam pemerintahan hingga beberapa turunan. Hanya waktu pemerintahan Sikh keluarga ini jatuh miskin.&#8221;</p>
<p>        &#8220;Gul Muhammad dan puteranya yang bernama Ata Muhammad, terus menerus bertempur dengan Ramgarhia serta Kanahaya Misals yang menguasai kawasan-kawasan sekitar Qadian. Akhirnya semua daerah itu lepas dari tangan mereka, dan Ata Muhammad melarikan diri ke Begowal meminta perlindungan pada Sardar Fateh Singh Ahluwalia (buyut kepala suku penguasa kawasan Kapurtala sekarang), dan ia menetap disana selama 12 tahun. Ketika (Maharaja) Ranjit Singh menaklukkan seluruh kawasan Ramgarhia Misal, ia mengundang Ghulam Murtaza kembali ke Qadian dan mengembalikan sebagian warisan kekeyaan nenek moyangnya kepadanya.&#8221;</p>
<p>      <em>  &#8220;Kemudian Ghulam Murtaza dan saudaranya menjadi tentara Maharaja, dan menjalankan tugas-tugas pentingnya di tapal batas Kashmir serta tempat-tempat lainnya.&#8221;</em></p>
<p>        &#8220;Pada zaman Nao Nihal Singh dan Darbar, Ghulam Murtaza rutin memegang jabatan (di ketentaraan). Pada tahun 1841, ia dikirim ke daerah Mandi dan Kulu beserta Jenderal Ventura. Pada tahun 1843 ia memimpin tentara yang dikirim ke Peshawar dan dalam kerusuhan di Hazarah ia berjasa besar. Dalam pemberontakan tahun 1848, ia tetap setia pada pemerintah dan bersama saudaranya, Ghulam Muhyiddn, ikut membantu pemerintah. Tatkala Bhai Maharaj Singh sedang membawa pasukannya ke Multan untuk menolong Diwan Mul Raj, waktu itu Ghulam Muhyiddin beserta kepala suku lainnya, Langer Khan Sahiwal dan Sahib Khan Tiwana menggerakan orang-orang Islam, dan dengan tentara Misra Sahib Dayal menyerang kaum pemberontak dan mengalahkan mereka secara total; mengusir mereka sampai ke [sungai] Chenab, disana mereka 600 orang mati tenggelam.&#8221;</p>
<p>        &#8220;[Ketika Inggris menguasai Punjab], harta benda dan tanah milik keluarga ini dirampas kembali. Hanya satu, pensiun sebesar 700 rupis, dan hak miliik untuk Qadian serta beberapa kampung sekitarnya ditetapkan bagi Ghulam Murtaza serta saudara-saudaranya. Dalam pemberontakan tahun 1857, keluarga ini memainkan peran yang terpuji. Ghulam Murtaza memasukkan banyak orang ke dalam tentara, dan anaknya yang bernama Ghulam Qadir ikut dalam tentara Jendral Nicholson di Trimughat ketika menghancurkan para pemberontak 46 Native Infantry melarikan diri dari Sialkot.&#8221;</p>
<p>       <em> &#8220;Jendral Nicholson telah memberikan sebuah surat penghargaan kepada Ghulam Qadir yang menyatakan bahwa dalam tahun 1857 keluarganya di Qadian distrik Gurdaspur betul-betul telah membantu dan setia kepada pemerintah, melebih keluarga-keluarga lain di kawasan itu.&#8221;1</em></p>
<p>Ghulam Murtaza adalah seorang tabib yang sangat mahir. Ia wafat pada tahun 1876, dan anaknya Ghulam Qadir senantiasa suka membantu para pejabat pemerintah dan ia mendapat banyak surat penghargaan dari pemerintah. Ghulam Qadir pernah bekerja sebagai superintendant di kantor pemerintah distrik dii Gudaspur. Anaknya meningal waktu kecil, dan ia pungut keponakannya, Sultan Ahmad (putra Hazrat Ahmad as. sendiri-pen), sebagai anak. Ghulam Qadir wafat pada tahun 1883. Mirza Sultan Ahmad pun mulai jadi pegawai pemerintah sebagai asisten wedana, dan sekarang2 menjadi collecteur serta kepala daerah Qadian. Saudara Nizamuddin yang bernama Isamuddin wafat pada tahun 1904, dan waktu pengepungan Delhi, ia menjadi kepala pasukan dalam tentara Hadson Horse, dan bapaknya yang bernama Ghulam Muhyiddin menjabat wedana.</p>
<p>Perlu rasanya disebutkan disini, anak kedua Ghulam Mutaza, bernama Ghulam Ahmad adalah orang yang mendirikan jemaat Ahmadiyah yang mashur ini dalam Islam. beliau lahir pada tahun 1835, dan memperoleh pelajaran serta pendiidikan yang baik. Pada tahun 1891 beliau menda&#8217;wakan diri sebagai Imam Mahdi atau Masih Mau&#8217;ud menurut agama Islam. Beliau adalah seorang yang pandai dan alim, sehingga perlahan-lahan banyaklah orang yang mengikuti beliau. Dan sekarang Jemaat Ahmadiyah di Punjab serta kawasan-kawasan lainnya di India telah melebihi tiga ratus ribu orang. Mirza Ghulam Ahmad mengarang benyak buku dalam bahasa Arab, Farsi dan Urdu, serta memberikan penjelasan yang benar tentang masalah jihad. Orang-orang berpendapat buku-buku itu sungguh telah menguntungkan orang-orang Islam. Lama beliau mengalami penderitaan karena perlawanan pihak lain. Acapkali beliau diseret ke pengadilan maupun ke dalam perdebatan-perdebatan. Akan tetapi sebelum beliau wafat pada tahun 1908, beliau telah memperoleh kedudukan yang demikian rupa sehingga orang-orang yang menentang pun menghormati beliau.</p>
<p>Pusat golongan ini di Qadian. Disana Anjuman Ahmadiyah telah mendirikan sebuah sekolah dasar dan percetakan yang digunakan untuk menyiarkan ajaran serta berita-berita tentang Jemaat ini. Pengganti Mirza Ghulam Ahmad as. yang pertama adalah Maulvi Nuruddin, yang pernah menjadi tabib terkemuka di Maharaja Kashmir beberapa tahun lamanya.</p>
<p>Keluarga ini mempunyai hak kekuasaan atas seluruh kawasan Qadian dan hak untuk menarik pajak 5 % dari tiga desa yang berdampingan dengan Qadian.</p>
<p><strong>Masa Kanak-kanak<br />
</strong><br />
Setelah sejarah ringkas silsilah Hz. Mirza Ghulam Ahmad as., baiklah sekarang saya terangkan keadaan beliau dimasa kanak-kanak. Sebagaimana telah dijelaskan, Hz. Ahmad lahir pada tahun 1835 ketika ayah beliau sedang jaya dan gembira karena berhasil mendapatkan kembali tanah-tanah pusaka, serta mempunyai kedudukan yang baik di kerajaan Maharaja Ranjit Singh. Akan tetapi Allah Ta’ala menghendaki supaya Hazrat Ahmad mendapat pendidikan dan pemeliharaan dalam suasana yang lebih menarik perhatian beliau kepada-Nya.</p>
<p>Tiga tahun setelah Hazrat Ahmad as. lahir, Maharaja Ranjit Singh meninggal dunia, dan kerajaan Sikh mulai melemah. Kejadian ini mempengaruhi keadaan ayah beliau. Dan ketika seluruh Punjab jatuh ke tangan Inggris, tanah-tanah pusaka dirampas kembali. Meskipun ayah beliau membelanjakan puluhan ribu rupis untuk mengambil kembali tanah-tanah pusaka tersebut, tetap tak berhasil. Dan hal ini sangat menyedihkan hatinya. Hazrat Ahmad as. sendiri telah menerangkan hal itu dalam sebuah buku beliau sbb :</p>
<p>        &#8220;Ayahanda berduka dan bersedih hati karena kekalahan-kekalahan yang dialaminya dalam perkara-perkara untuk mendapatkan kembali tanah-tanah pusakanya. Beliau telah membelanjakan 70.000 rupis dalam perkara-perkara semacam itu, yang kesemuanya tidak berhasil sedikit pun. Kehilangan semua harta pusaka dari tangan kami yang tidak mungkin diperoleh kembali. Kerugian ini sangat menyedihkan ayahanda, dan beliau menjalani hidupnya dengan penuh duka dan penyesalan yang amat dalam. Melihat keadaan ayahanda demikian, saya mendapat gerakan dan kesempatan untuk mengadakan perubahan suci dan sejati dalam diri saya. Pengalaman yang sedih dan pahit dari kehidupan ayahanda menjadi pelajaran bagi saya untuk mencari kehidupan yang suci dan bersih dari kekotoran dunia. Walaupun ayahanda masih memiliki beberapa kampung dan mendapat hadiah tahunan dari pemerintah serta menerima pula pensiun dari dinasnya, namun kesemuanya itu tidak berarti baginya dibandingkan dengan kejayaannya dahulu. Oleh karena itulah beliau selalu sedih dan berduka. Biasanya ayahanda suka mengatakan: &#8220;Usaha dan perjuangannya yang telah aku lakukan untuk dunia yang kotor ini aku sudah menjadi wali atau orang suci.&#8221;</p>
<p>        Demikian pula beliau sering membaca syair-syair yang menyatakan betapa dalam penyesalan hati beliau atas kehidupannya sendiri yang sebagian besar disia-siakannya dalam urusan dunia belaka. Dan hati beliau berhasrat untuk mendapat rahmat serta karunia Allah.</p>
<p>        Penyesalan beliau&#8211; karena tidak mengusahakan apa-apa untuk menghadap ke hadirat Ilahi&#8211;makin lama semakin bertambah kuat di hati beliau. Dengan sedih beliau sering berkata: &#8220;Sayang aku telah merusak hidupku untuk urusan dunia yang sia-sia belaka.&#8221;</p>
<p>Tulisan tentang keadaan ayah beliau tersebut, sewaktu beliau masih kanak-kanak sampai baligh, menyatakan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan kondisi tertentu sebagai pelajaran dan pendidikan bagi beliau sehingga kecintaan terhadap dunia tidak timbul di hati beliau. Ayah serta kakek beliau pada waktu itu memiliki kedudukan tinggi dan terhormat di masyarakat dunia, dan para pejabat negara sangat hormat serta ta&#8217;zim kepada mereka. Tetapi upaya mereka seumur hidup &#8212; untuk merebut kemuliaan dan kekayaan dunia sebagaimana yang mereka inginkan menurut hak keluarga itu &#8212; akhirnya gagal semua. Hal ini menjadi pelajaran bagi seorang yang hatinya suci dari segala kekotoran, bahwasanya dunia ini tidak kekal dan akhirat-lah yang disukai oleh Allah. Maka Hazrat Ahmad as. pun tidak melupakan pelajaran ini sampai wafat. Walau dunia mencoba menarik beliau dengan berbagai cara untuk menyesatkan beliau dari tujuan, beliau tetap tidak pernah tergoda untuk keluar setapak pun dari jalan yang benar.</p>
<p>Pendek kata, Hazrat Ahmad as. sewaktu kanak-kanak telah menyaksikan contoh-contoh yang begitu pahit dalam kehidupan ayah beliau, sehingga kemauan untuk dunia telah padam dari sanubari beliau. Ketika masih kecil sekali, segala keinginan dan cita-cita beliau as. ditujukan pada keridhoan Ilahi.</p>
<p>Tuan Syekh Yaqub Ali, pengarang riiwayat hidup Hazrat Ahmad as., telah mencantumkan suatu kejadian yang amat menarik. Ketika kecil, Hazrat Ahmad as. sering mengatakan kepada seorang anak perempuan yang seumur dengan beliau, &#8220;Doakanlah, supaya Allah memberi taufik kepada saya untuk shalat.&#8221; Perkataan ini menyatakan betapa perasaan suci bergelora dalam sanubari beliau ketika masih kanak-kanak. Dan segala keinginan serta cita-cita beliau as. hanya ditujukan kepada Allah Ta’ala semata.</p>
<p>Demikianlah pula hal ini menampilkan anggapan beliau ketika kecil bahwa hanya Allah lah yang dapat menyempurnakan segala keinginan dan yang memberi taufik, juga untuk beribadah. Sejak kecil beliau hidup dalam keluarga yang sama sekali condong kepada dunia belaka. Tetapi beliau as. pada waktu kanak-kanak mempunyai keinginan untuk shalat dan percaya bahwa taufik untuk menyempurnakan keinginan itu hanya Allah lah yang dapat memberikannya.</p>
<p>Hal ini membuktikan bahwa keadan semacam itu tidak mungkin timbul dalam sanubari seseorang selain yang hatinya suci dari sentuhan dunia sama sekali, serta yang ditolong oleh Allah untuk mengadakan suatu perubahan agung dan suci di dunia ini.</p>
<p><strong>Masa-Masa Pendidikan</strong></p>
<p>Kejahilan/kebodohan benar-benar dominan ketika Hazrat Ahmad as. lahir ke dunia ini. Orang-orang umumnya tidak memberikan perhatian pada pelajaran dan pengetahuan sedikitpun. Pada zaman pemerintahan Sikh, jarang terdapat orang yang pandai membaca dan menulis. Sebagian besar orang-orang kaya dan terpandang pun buta huruf. Tetapi karena Allah Ta’ala hendak menggunakan beliau as. untuk suatu pekerjaan yang sangat agung, maka Dia menanamkan kemauan yang cukup kepada beliau as.</p>
<p>Berbagai macam hambatan dan keadaan jahiliah zaman itu tidak melalaikan sang ayah dari kewajibannya menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya. Waktu Hazrat Ahmad as. masih kanak-kanak, ayah beliau telah mempekerjakan seorang guru bernama Fazal Ilahi untuk mengajar beliau mengaji Al Quran serta beberapa kitab bahasa Farsi (1841). Setelah berusia 10 tahun, dipanggil lagi seorang guru bernama Fazal Ahmad yang amat baik dan benar-benar beragama (1845). Hazrat Ahmad as. sendiri menuliskan bahwa guru itu mengajar beliau beberapa kitab saraf-nahu (gramatika) bahasa Arab, dengan giat dan penuh kecintaan. Setelah beliau as berusia 17 tahun, ditetapkan seorang guru lain bernama Gul Ali Shah, untuk mengajarkan beberapa kitab nahu dan mantik ( logika). Ilmu ketabihan beliau pelajari dari ayah beliau sendiri yang merupakan seorang tabib mahir dan pandai. Pelajaran semacam ini pada zaman itu terpandang cukup tinggi, namun bila dibandingkan dengan kewajiban yang akan beliau emban, hal itu tidak berarti sedikit pun. Kami telah menyaksikan sendiri orang-orang lain yang ikut belajar bersama beliau as. dari guru-guru yang sama. Mereka tidak memiliki kepandaian yang luar biasa dan mereka tidak berbeda dengan orang-orang lain yang mendapatkan pelajaran semacam itu. Begitu pun guru-guru yang mengajar beliau as. bukanlah alim ulama yang tinggi ilmunya, melainkan hanya menguasai beberapa kitab bahasa Arab serta Farsi saja. Pelajaran yang diberikan kepada beliau as. pada waktu itu sama sekali tidak cukup untuk mempersiapkan beliau terhadap kewajiban yang bakal Allah Ta’ala serahkan kepada beliau as.</p>
<p><strong>Setelah Masa Pendidikan</strong></p>
<p>Ketika Hazrat Ahmad as. selesai menuntut pelajaran, waktu itu pemerintah Inggris sepenuhnya telah menguasai seluruh Punjab. Dan bahaya pemberontakan pun telah padam. Warga India telah mulai bekerja di pemerintah Inggris untuk mendapakan kedudukan dan kemajuan. Para pemuda dari berbagai keluarga telah mulai bekerja di kantor-kantor pemerintah. Dalam situasi demikian, Hazrat Ahmad as. yang sama sekali tidak tertarik pada pekerjaan pertanian &#8212; atas kehendak ayah beliau &#8212; berangkat di kantor Bupati Sialkot. Tetapi sebagian besar waktu beliau digunakan untuk menimba ilmu. Waktu di luar beliau pakai untuk menelaah buku-buku atau mengajar orang lain, berdiskusi tentang agama. Walupun beliau masih muda &#8212; waktu itu berusia 28 tahun &#8212; karena taqwa dan kesucian amal beliau, para orang tua dari golongan Islam maupun Hindu sama-sama menghormati beliau. Pada waktu itu beliau jarang bepergian, justru suka menyendiri dan menyepi.</p>
<p>Para pendeta Kristen pun pada waktu itu mulai menyebarkan agama mereka di Punjab. Sebagian besar orang Islam tidak dapat menjawab serangan-serangan mereka. Tetapi ketika berdiskusi dengan Hazrat Ahmad as., senantiasa saja orang-orang Kristen mengalami kekalahan dan dari antara pendeta Kristen, mereka yang mencintai kebenaran sangat hormat terhadap beliau as.. Seorang pendeta Kristen bernama Mr. Butler M.A. yang bekerja di Scoth Mission di kota Sialkot, sering bertukar pikiran dengan Hazrat Ahmad as., dan sangat tertarik pada beliau. Tatkala Mr. Butler hendak kembali ke negerinya, ia datang ke kantor kabupaten Sialkot untuk berjumpa dengan Hazrat Ahmad as.. Bupati menanyakan, untuk apa tuan datang ke kantor kami? Dijawab oleh Mr. Butler, bahwa ia datang hanya untuk berjumpa dengan Tuan Mirza Ghulam Ahmad saja. kemudian ia terus pergi ke tempat Hazrat Ahmad as., dan setelah berbincang-bincang beberapa saat, ia pun pulang.</p>
<p>Ada waktu itu, para pendeta Kristen menganggap kemenangan pemerintah Inggris sebagai kemenangan agama mereka, dan mereka sangat sombong serta karangan-karangan mereka ketika itu menyatakan keinginan mereka untuk memasukkan semua orang Islam ke dalam agama Kristen melalui tangan besi pemerintah. Mereka menggunaan kata-kata yang sangat kotor dan keji terhadap agama Islam dan Nabi Muhammad saw.. Beberapa orang Eropa yang ahli, pernah menyatakan bahwa kemungkinan timbulnya kembali pemberontakan seperti tahun 1857 dapat muncul akibat tulisan-tulisan yang sekeji itu dari kalangan Kristen. Lama sekali para pendeta Kristen berpendirian seolah-olah merekalah yang berkuasa di India, dan bukan pemerintah Inggris. Tetapi akhirnya mereka insyaf juga , bahwa pemeriintah Inggris yang bekuasa di India dan pemerintahan Ratu Victoria tidak ingin mengembangkan agama Kristen dengan tangan besi, dan sama sekali tidak ingin mengganggu agama manapun.</p>
<p>Boleh dikatakan bahwa pergeseran antara orang-orang Islam dan Kristen ketika itu sangat hebat. Para pendeta Kristen suka marah kepada siapa saja yang berani membantah keterangan-keterangan mereka. Meski pun Hazrat Ahmad as. senantiasa menyalahkan keterangan-keterangan Kristen, tetapi pendeta Butler M.A. sangat tertarik pada kesucian, ketaqwaan dan keikhlasan beliau as.. Sekali pun Mr. Butler mengetahui bahwa ia tidak akan dapat menarik Hazrat Ahmad as. dan malahan ia sendiri yang akan tertarik oleh keterangan-keterangan yang jitu dari Hazrat Ahmad as., namun ia tidak mampu menjauhkan diri dari beliau as.. Mr. Butler benar-benar tertarik pada kesucian dan ketaqwaan Hazrat Ahmad as. dan ketika hendak pulang ke negerinya, ia menyempatkan waktu untuk berjumpa dengan Hazrat Ahmad as. terlebih dahulu.</p>
<p><strong>Behenti Bekerja</strong></p>
<p>Hampir 4 tahun lamanya Hazrat Ahmad as. bekerja di Sialkot dengan memaksakan diri. Namun akhirnya setelah mendapat izin dari sang ayah, beliau as. minta berhenti dari pekerjaan beliau dan pulang dari Qadian.</p>
<p>Berdasarkan perintah sang ayah, beliau as. bekerja harus mengikuti perkara-perkara pengadilan tanah pusaka keluarga, namun hati beliau sama sekali tidak tertarik pada hal-hal semacam itu. Beliau as. sangat patuh dan tunduk terhadap perintah orang-tua beliau. Beliau tidak mau membantah perintah sang ayah. padahal beliau sendiri tidak senang terhadap pekerjaan itu. Seringkali setelah kalah dalam suatu perkara beliau pulang dengan air muka yang berseri-seri, sehingga orang-orang menganggap beliau as. telah menang dalam perkara tersebut. Tatkala beliau as. menerangkan bahwa beliau kalah dalam perkara itu, orang-orang bertanya, mengapa Tuan begitu gembira? Beliau as menjawab, &#8220;Saya telah berupaya tetapi terjadi apa yang telah dikehendaki oleh Allah Ta’ala, dan dengan selesainya perkara ini saya mendapat kelonggaran waktu untuk mengingat Allah Ta’ala.&#8221;</p>
<p>Itulah masa yang sangat sukar dan ganjil bagi Hazrat Ahmad as.. Sang ayah menghendaki beliau as. mengurus tanah-tanahnya atau mencari pekerjaan lain, sedangkan kedua hal itu tidak beliau sukai. Oleh karenanya, sering beliau as. dicela atau dimarahi, tetapi ketika ibu beliau masiih hidup, sang ibu senantiasa melindungi beliau as.. Setelah ibu beliau wafat, beliau as. sering menanggung kemarahan serta celaan dari kakak dan ayah beliau, sebab mereka menganggap beliau as. tidak suka bekerja untuk penghidupan hanya karena malas.</p>
<p>Ayah beliau sering mengatakan dengan sedih, &#8220;Bagaimanakah anakku ini akan memperoleh penghidupannya, dan juga sangat sedih kalau nanti untuk keperluan hidupnya ia memerlukan pemberian kakaknya saja.&#8221; Melihat Hazrat Ahmad as. siang malam hanya membaca buku saja, sang ayah sering gusar hati, dengan menamakan beliau maulvi (kiai) sang ayah mengatakan: &#8220;Dari mana pula maulvi yang satu ini telah muncul di rumah kita ?&#8221;</p>
<p>Walau pun begitu, sang ayah sangat terkesan oleh kesucian dan ketakwaan beliau as.. Apalagi ketika merasakan dan teringat akan kekalahan dalam usaha-usaha duniawinya. Sang ayah gembira juga melihat beliau as. begitu giat dalam keagamaan dengan mengatakan, &#8220;Inilah sebenarnya pekerjaan yang tengah dikerjakan oleh anakku ini.&#8221; Disebabkan ayah beliau seumur hidup berjuang hanya untuk dunia saja, maka rasa penyesalan sering mempengaruhi Hazrat Ahmad as.. Tetapi hal itu sama sekali tidak menghalangi beliau as. dari tujuan yang sebenarnya. Bahkan as. sering membacakan Alquran dan Hadis bagi ayah beliau.</p>
<p>Itulah suatu kondisi yang amat menakjubkan, bapak dan anak asyik dalam suatu tujuan yang berlainan, masing-masing hendak menarik yang lain kepada tujuannya. Sang bapak ingin supaya anaknya menyetujui pendiriannya dan berjuang untuk kehormatan serta kekayaan dunia, tetapi sang anak berkeinginan agar bapaknya lepas dari cengkeraman dunia dan masuk dalam kecintaan Ilahi. Pendek kata, keadaan hari-hari itu tidak dapat digambarkan dalam tulisan. Masing-masing hanya dapat dibayangkan dalam sanubarinya.</p>
<p>Sekali lagi beliau as. dimintakan untuk menjadi kepala pendidikan di Kesultanan Kapurtala, tetapi itu pun beliau tolak dan lebih suka tnggal di rumah saja, supaya sedapat mungkin menolong sang ayah yang amat sedih itu. Sebagaimana telah dijelaskan, beliau memang tidak menyuka urusan-urusan tanah pusaka itu, tetapi atas perintah ayah beliau dan guna menggembirakan serta menghibur sang ayah yang sudah lanjut usia itu, beliau as. dengan giat menjalankan perkara-perkara tersebut tanpa memperhatikan menang kalahnya.</p>
<p>Walau pun Hazrat Ahmad as. menjalankan perkara-perkara tu sekedar untuk membantu ayah beliau, namun hati beliau tetap terkat dalam kecintaan Ilahi. Misi beliau as. adalah : &#8220;Tangan bekerja, hati tertumpu pada Sang Kekasih.&#8221; Setiap selesai urusan perkara-perkara itu beliau as. langsung kembali tenggelam dalam ibadah dan zikir Ilahi. Selama bepergian untuk perkara-perkara tersebut, tidak ada satu shalat pun yang tidak beliau kerjakan pada waktunya. Bahkan ketika pengadilan sedang berlangsung, shalat tetap tidak beliau lewatkan dari waktunya.</p>
<p>Sekali peristiwa, beliau as. pergi ke pengadilan untuk suatu urusan perkara yang sangat penting dan dapat mempengaruhi perkara-perkara lainnya. Waktu itu hakim sedang memeriksa perkara lain, maka perkara beliau lambat diperiksa. Sementara menunggu giliran perkara beliau, waktu shalat sudah mulai sempit, maka setelah berwudhu beliau langsung shalat di bawah pohon, dengan menyerahkan perkara itu kepada Allah Ta’ala. Ketika beliau as. sedang shalat, hakim memanggil nama beliau, tetapi beliau as. dengan tenang terus saja mengerjakan shalat beliau dan sama sekali tidak peduli pada hal-hal lain. Menurut peraturan pengadilan, dalam suatu perkara kalau satu pihak tidak hadir bila dipanggil, maka perkara itu akan diputuskan dengan memenangkan pihak yang lain. Maka setelah shalat, beliau as. menganggap tentu perkara beliau telah dikalahkan, dan beliau menuju ke ruang pengadilan untuk mendapatkan kabar tentang keputusan perkara tersebut. Kepala pengadilan disitu adalah seorang Inggris. Setelah memeriksa berkas-berkas perkara tersebut, kepala pengadilan itu ternyata telah memutuskan perkara tersebut dengan kemenangan di pihak Hazrat Ahmad as..</p>
<p>Demikianlah Allah Ta’ala menolong beliau. Dapat dikatakan bahwa beliau as. menjalankan tugas itu seperti dipaksakan mengerjakan hal-hal yang tidak beliau sukai. Padahal perkara-perkara itu akan bermanfaat bagi di beliau as.. Sebab dengan terpeliharanya harta pusaka sang ayah, berarti terpelihara pula harta pusaka bagi diri beliau as. sendiri, karena beliau akan mewarisinya. meskipun beliau as. cukup cerdas dan cerdik, beliau tetap tidak suka perkara-perkara demikian. Hal itu membuktikan bahwa beliau as. sangat tidak menyukai keduniawian dan hanya bertujuan kepada Allah Ta’ala semata.</p>
<p><strong>Rajin Bekerja</strong></p>
<p>Sekali pun beliau as. tidak menyukai keduniaan, beliau sama sekali bukan orang yang malas. Justru beliau sangat rajin dan suka bekerja keras. Beliau suka menyepi dan menyendiri, tetapi sedikitpun tidak berarti menjauhkan diri dari kerja keras. Kadangkala bila bepergian, Khadim disuruh menunggang kuda ke depan lebih dulu dan beliau sendiri jalan kaki sampai lebih dari 20 pal hingga ke tujuan. Jarang sekali beliau memakai kendaraan, bahkan sering pergi dengan berjalan kaki saja. Sampai akhir hayat pun beliau biasa berjalan kaki demikian. Walau usia telah lebih 70 tahun dan beliau sering sakit keras, namun hampir tiap hari beliau berjalan kaki empat sampai lima pal. Bahkan kadang-kadang sampai tujuh pal. Sebelum beliau terlalu tua, kadang-kadang sebelum Subuh beliau as. berangkat dari rumah ddi Qadian untuk berjalan kaki dan setelah sampai di kampung Wadulah yang terletak lima setengah pal dari Qadian barulah masuk waktu untuk shalat Subuh.</p>
<p><strong>Kewafatan Sang Ayah &amp; Ilham Pertama</strong></p>
<p>Pada tahun 1876 Hazrat as berusia kurang lebih 40 tahun ketika ayah beliau sakit, dan penyakitnya tidaklah begitu berbahaya. Tetapi Allah Ta’ala menurunkan ilham berikut ini kepada beliau as:</p>
<p>        Persumpahan demi Langit yang merupakan sumber takdir, dan demi peristiwa yang akan terjadi setelah tenggelamnya matahari pada hari in3 i.</p>
<p>Beriringan dengan itu kepada beliau diberikan pengertian bahwa ilham ini mengabarkan tentang kewafatan ayah beliau as. yang akan terjadi setelah Maghrib. Sebelum ilham ini, sudah lama Hazrat Ahmad as. sering mendapat ru&#8217;ya shalihah (mimpi yang benar) yang telah sempurna dengan jelas pada waktunya, dan disaksikan pula oleh orang-orang Sikh dan Hindu yang sebagian masih hidup sampai sekarang. Tetapi sebagai ilham, inilah ilham yang pertama beliau terima , dan dengan perantaraan ilham ini Allah Ta’ala dengan cinta-Nya seolah-olah menyatakan behwa : ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu.</p>
<p>Demikianlah ilham pertama yang diterima Hz. Masih Mau&#8217;ud as. yang mengabarkan tentang kewafatan sang ayah. Sudah wajar khabar ini membuat hati beliau sedih, bahkan kesedihan itu ditambah dengan kekhawatiran tentang siapa yang akan mengurus penghidupan beliau as. selanjutnya? Oleh sebab itu Allah Ta’ala memberikan ilham kedua kepada beliau as. untuk menenteramkan hati beliau. Baiklah, kejadian itu saya terangkan dalam kata-kata Hazrat Ahmad as. sendiri:</p>
<p>        &#8220;Ketika saya diberi khabar oleh-Nya bahwa ayahanda akan wafat setelah matahari terbenam, sebagai manusia hati saya sangat sedih dan gelisah. Sebagian besar penghidupan kami bergantung pada ayahanda. Sebab beliau biasa mendapat pensiun dan hadiah yang agak besar dari pemerintah, yang tentu akan dihentikan setelah beliau wafat. Maka timbullah di dalam pikiran, apa yang akan terjadi setelah ayahanda wafat? Hati merasa khawatir kalau-kalau dalam hari-hari mendatang kami akan menderita kesusahan dan kesukaran. Semua pikiran ini secepat kilat melewati diri saya, tiba-tiba saya rasakan seperti tidur dan menerima ilham yang kedua ini :</p>
<p><em>Apakah Allah tidak cukup bagi hamba- Nya?</em></p>
<p>        Dari ilham ini hati saya menjadi teguh, bagai luka parah yang tiba-tiba menjadi sembuh dan pulih karena suatu obat. Setelah mendapat ilham &#8216;Alaysallaahu bikaafin &#8216;abdahu&#8217; saya yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan menolong saya. Kemudian saya memanggil seorang warga Hindu penduduk Qadian, bernama Malawa Mal yang hingga kini masih hidup, dan menceritakan semua kejadian itu kepadanya. Lalu saya serahkan tulisan ilham itu kepadanya dan menyuruhnya pergi ke Amritsar minta tolong Hakim Maulvi Muhammadd Syarif Kalanauri untuk mengukirkan ilham tersebut pada sebuah mata cincin berupa stempel (cap). Untuk menyelesaikan urusan ini saya sengaja memilih orang Hindu supaya ia menjadi saksi tentang khabar ghaib itu. Maka cincin cap itu diselesaikan oleh Maulvi tersebut dengan harga 5 rupis, kemudian oleh Malawa Mal diserahkan pada saya.&#8221;</p>
<p>Cincin itu sampai sekarang ada pada saya (Khalifatul Masih II, penulis buku ini-pen.). Pendek kata, pada hari kewafatan beliau., beberapa jam sebelum Maghrib Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang kewafatan ayah beliau. Sesudah itu Allah Ta’ala menenteramkan dan membesarkan hati beliau dengan menerangkan bahwa beliau tidak perlu khawatir, sebab Allah Ta’ala lah yang akan mengatur segala urusan beliau. Pada hari beliau mendapat ilham-iham itu, ayah beliau as. pun wafat setelah Maghrib, dan mulailah suatu era baru dalam kehidupan beliau as.</p>
<p>Harta pusaka ayah beliau berupa rumah-rumah, toko dan tanah-tanah terletak di kota Batala, Amritsar, Gurdaspur dan Qadian. Beliau punya saudara seorang lagi, sehingga hanya dua orang saja yang akan mewarisi harta pusaka ayah beliau. Yakni beliau as. berhak mendapat setengah harta pusaka itu yang akan mencukupi keperluan hidup beliau as.. Tetapi beliau tidak minta harta benda itu dibagi, melainkan apa saja yang diberi oleh kakak beliau, beliau terima dengan rasa syukur dan senang.</p>
<p>Demikianlah Hazrat Ahmad as. menganggap sang kakak sebagai pengganti ayah beliau. Tetapi berhubung sang kakak dinas dan tinggal di Gurdaspur, waktu itu beliau as. selalu mengalami kesulitan yang berlanjut sampai kewafatan sang kakak. Dapat dikatakan beliau as. mendapat cobaan yang berat dalam tahun-tahun itu. Namun beliau as. tetap sabar dan teguh menghadapi cobaan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa beliau as. sangat mulia dan tinggi dalam kerohaniannya.</p>
<p>Walau pun beliau as. mampunyai hak sama dalam harta pusaka itu, namun melihat sang kakak sangat cenderung pada keduniaan, beliau as. tidak meminta bagian sendiri dan hanya mencukupkan diri dengan pakaian dan makanan saja. Sang kakak pun, karena cinta dan hormat, menurut perasaannya ingin mencukupi keperluan-keperluan beliau as.. Tetapi sang kakak lebih mencintai keduniaan, sedangkan beliau as. sangat tidak menyukai keduniaan. Oleh sebab itu sang kakak menganggap beliau pemalas dan tidak mengenal tuntutan zaman. Malah sang kakak sering mengungkapkan kekesalannya, karena beliau as. tidak mau memperhatikan urusan-urusan keduniaan.</p>
<p>Sekali peristiwa Hazrat Ahmad as. meminta sedikit uang untuk berlangganan sebuah surat kabar, namun meskipun menguasai harta pusaka beliau as. sang kakak menolak permintaan itu dengan mengatakannya sebagai pemborosan untuk orang yang tidak mau bekerja dan hanya duduk-duduk saja membaca surat kabar serta buku-buku.</p>
<p>Demikianlah sang kakak tenggelam dalam keduniaan, sehingga tidak mau tahu akan keperluan-keperluan beliau as. serta tidak mau memberikan perhatian guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keadaan itu sangat menyusahkan beliau as., tetapi hal yang lebih menyusahkan dari itu adalah, sang kakak jarang tinggal di Qadian. Maka pegawai dan pengurus-pengurus hartanyapun mendapat kesempatan untuk lebih menyusahkan Hazrat Ahmad as..</p>
<p><strong>Mujahidah</strong></p>
<p>Dalam masa itu Allah Ta’ala menerangkan kepada beliau as. bahwa untuk mendapatkan nikmat-nikmat Ilahi perlu melakukan mujahidah juga. Yakni beliau as. harus berpuasa. Menurut perintah Ilahi ini beliau as. berpuasa berturut-turut 6 bulan lamanya. Acapkali makanan yang dikirim untuk beliau telah beliau bagikan kepada fakir miskin. Setelah berbuka puasa, bila beliau as. meminta makanan dari rumah, sering ditolak. Karena itu Hazrat Ahmad as. mencukupkan hanya dengan sedikit air, atau barang lain semacam itu, dan esok harinya berpuasa terus tanpa makan sahur lebih dahulu.</p>
<p>Pendek kata, pada waktu itu beliau dalam keadaaan mujahiidah yang tinggi, dan beliau menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Pada waktu yang amat susah sekali pun beliau as. tidak menunjukkan&#8211; secara langsung ataupun dengan isyarat &#8212; untuk memperoleh bagian dari harta pusaka beliau. Bukan hanya selama hari-hari puasa itu saja, bahkan pada waktu-waktu lainnya pun Hazrat Ahmad as. suka membagikan makanan kepada orang-orang miskin, dan untuk diri sendiri beliau as. hanya mencukupkan dengan sekerat roti yang tidak lebih dari 50 gram. Kadang-kadang beliau hanya makan kacang-kacangan yang disangrai, sedangkan makanan beliau dibagikan kepada fakir miskin. Maka banyak para fakir miskin suka tinggal dengan Hazrat Ahmad as.. Mereka diperhatikan dan diurus oleh beliau lebih dari keperluan dan kepentingan sendiri &#8212; walau pun beliau as. sendiri berada dalam kesusahan. Sedangkan kakak beliau hanya bergaul dan bersahabat dengan orang-orang kaya saja.</p>
<p><strong>Tampil di Hadapan Umum</strong></p>
<p>Hazrat Ahmad as. mulai mengkhidmati agama Islam dengan mengarang buku yang berisi keterangan-keterangan untuk melawan agama Kristen dan Hindu Ariya. Karangan-karangan beliau diterbitkan juga di surat-surat kabar. Karena karangan-karangan inilah nama Hazrat Ahmad as. populer di masyarakat umum, meski pun beliau sendiri jarang keluar dari ruangan yang kecil dan sunyi itu. Malah para tamu sering beliau terima di dalam mesjid, atau suka berdiam di rumah saja. Pada waktu tu nama Hazrat Ahmad as. telah mulai dikenal dan tersiar, tetapi beliau sendiri tidak tampil di hadapan umum, dan tetap dalam suasana yang sunyi dan terpisah itu.</p>
<p>Ketika Hazrat Ahmad as. tengah menjalankan mujahidah tersebut, Allah Ta’ala sering memberi ilham kepada beliau yang mengandung kabar-kabar ghaib, dan menjadi sempurna pada waktunya. Hal-hal ini menambah keimanan serta keyakinan beliau maupun rekan-rekan beliau yang diantaranya terdapat juga orang-orang Sikh serta Hindu. Mereka amat heran dan takjub melihat kejadian-kejadian itu.</p>
<p>Mula-mula beliau as. memuat karangan dalam surat-surat kabar saja. Tetapi ketika beliau melihat bahwa musuh Islam menyerang dengan lebih hebat dan orang-orang Islam tidak mampu menjawab serangan-serangan itu, hingga ghairat Islam bergolak di dada beliau as. Maka berdasarkan ilham dan wahyu Ilahi, beliau bangkit untuk mengarang sebuah buku yang menerangkan perkara-perkara tentang kebenaran agama Islam, yang betul-betul tidak dapat dijawab oleh para musuh Islam untuk selamanya. Tiap-tiap orang Islam dapat mempergunakan keterangan-keterangan itu untuk menjawab segala serangan terhadap Islam. Dengan kemauan dan tujuan itulah beliau as. mulai mengarang buku yang terkenal dengan nama Barahiyn Ahmadiyah, yang tidak ada bandingannya dari karangan-karangan orang lain.</p>
<p>Ketika sebagian karangan telah selesai, beliau as. menganjurkan agar dicetak, dan atas pertolongan orang-orang yang sangat gemar dan memuji karangan-karangan beliau, dapatlah tercetak bagian pertama berupa suatu pengumuman dan seruan. Bagian yang pertama itu saja telah menggoncangkan dan menggemparkan seluruh negeri. Walau pun bagian pertama itu hanya berupa pengumuman dan seruan, tetapi di dalamnya diterangkan juga hal-hal tertentu untuk membuktikan kebenaran Islam, yang amat menarik dan mendapat pujian dari para pembaca buku tersebut.</p>
<p>Dalam pengumuman itu Hazrat Ahmad as. mengemukakan suatu syarat, bahwa keindahan-keindahan Islam yang akan beliau terangkan, jika hal demikian dapat dipaparkan oleh seorang pengikut suatu agama lain dalam agamanya, atau setengahnya saja, atau malah seperempatnya saja sekali pun, maka beliau as. akan menghadiahkan seluruh harta pusaka beliau yang berharga 10.000 rupis kepada orang itu. Inilah pertama kali beliau as. menggunakan harta pusaka beliau dengan menetapkannya sebagai hadiah demi memaparkan keindahan-keindahan Islam, supaya para pengikut agama lain memberanikan diri tampil melawan Islam, yang akhirnya akan membuktikan keunggulan serta kemenangan Islam.</p>
<p>Bagian pertama buku ini dicetak pada tahun 1880, bagian kedua pada tahun 1881, bagian ketiga tahun 1880 dan bagian keempat pada tahun 1884. Sebelum selesai penulisan seluruh buku ini, Allah Ta’ala telah memberi ilham bahwa beliau akan membela dan menyiarkan Islam dengan cara yang lain lagi. Tetapi apa yang telah ditulis dalam buku tersebut pun cukuplah untuk membukakan mata dunia. Setelah tersiarnya buku itu, lawan mau pun kawan memuji serta yakin akan kecakapan beliau as. Tidak seorang pun musuh-musuh Islam dapat menyanggah buku itu. Orang-orang Islam sangat bergembira hati dan mulai menganggap beliau sebagai mujaddid, padahal waktu itu beliau as. belum menda&#8217;wakan apa-apa. Para alim ulama pun mengaku kepandaian beliau.</p>
<p>Mlv. Muhammad Hussein Batalwi yang memimpin golongan Ahli-hadiis dan Wahabi &#8212; pemerintah pun waktu itu menghormatinya &#8212; menulis komentar panjang lebar yang memuji buku Barahiyn Ahmadiyah, dan menerangkan bahwa dalam 13 abad sebelumnya, tidak pernah terbit sebuah buku yang membela Islam sedemikian rupa seperti buku tersebut.</p>
<p>Di dalam buku itu Hazrat Ahmad as. juga mencantumkan beberapa ilham yang beliau terima, sebagian diantaranya kami paparkan disini supaya dapat terlihat bukti-bukti kebenarannya :</p>
<p>Seorang nabi telah datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya4</p>
<p>        Akan datang kepadamu hadiah-hadiah dari tempat-tempat yang jauh, dan orang-orang banyak akan datang dari tempat-tempat yang jauh5.</p>
<p>Raja-raja akan mencari berkat dari pakaian-pakaianmu6</p>
<p>Ilham-ilham ini telah dicetak dalam Barahiyn Ahmadiyah pada tahun 1884, ketika beliau as. masih hidup dalam suasana yang sepi dan terpisah dari dunia ramai. Tetapi setelah terbitnya buku itu, nama Hazrat Ahmad as. mulai tersiar ke seluruh India. Banyak pula yang menaruh harapan bahwa pengarang Barahiyn Ahmadiyah akan membela Islam menjawab segala serangan serta tuduhan yang dilontarkan kepada Islam. Dugaan mereka benar, tetapi Allah Ta’ala mengkehendaki agar hal itu sempurna dengan cara lain.</p>
<p>Kejadian-kejadian berikutnya menyatakan bahwa mereka yang tadinya begitu memuliakan serta menghormati beliau as. ternyata merekalah yang menjadi musuh keras beliau, serta berusaha menjatuhkan beliau as. Akan tetapi penerimaan diri beliau capai tidaklah bergantung pada pertolongan manusia, melainkan Allah Ta’ala semata lah yang dengan serangan-serangan hebat akan memastikan dan membuktikan hal itu.</p>
<p><strong>Kewafatan Sang Kakak</strong></p>
<p>Pada tahun 1884 kakak Hazrat Ahmad as, Mirza Ghulum Qadir yang tidak mempunyai keturunan itu telah wafat. dan beliau as. pula yang menjadi warisnya. Tetapi untuk menyenangkan hati janda sang kakak, beliau tidak mengambil harta warisnya. Bahkan atas permintaan janda itu, separuh harta waris beliau as. dipindahkan atas nama Mirza Sultan Ahmad yang telah diangkat sebagai anak pungut oleh janda tersebut.</p>
<p>Hazrat Ahmad as. menyatakan dengan jelas, bahwa menurut Islam tidak ada anak angkat. Tetapi untuk menyenangkan dan menolong janda Mirza Ghulam Qadir itu, beliau as. dengan senang hati telah menyerahkan separuh harta pusakanya. Bagian yang separuh lagi pun tidak segera beliau ambil dan lama dipegang oleh sanak keluarga beliau as.</p>
<p>Satu setengah tahun setelah kewafatan kakak beliau, berdasakan ilham Ilahi, Hazrat Ahmad as. melaksanakan pernikahan kedua di Delhi. [ Selanjutnya ]</p>
<p>Penulis<br />
HM Basyiruddin MA<br />
Muslih Mau&#8217;ud</p>
<p>Sumber</p>
<p>http://ahmadiyya.or.id/</p>
<p>http://ahmadiyah.info/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=89&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Riwayat Singkat Pendiri Ahmadiyah Bagian 2</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-2/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 01:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafat]]></category>
		<category><![CDATA[Para Pemimpin Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ta&#039;lim]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyat]]></category>
		<category><![CDATA[Umur Amah]]></category>
		<category><![CDATA[Umur Kharikiah]]></category>
		<category><![CDATA[Ghulam Ahmad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Bai&#8217;at Pertama Dengan tersiarnya Barahiyn Ahmadiyah orang-orang dari berbagai tempat mulai simpati kepada Hazrat Ahmad as. Qadian yang terletak jauh dan terpencil mulai sering dikunjungi para tamu dari tempat-tempat jauh. Para cendekiawan seperti Hazrat Maulvi Nuruddin, yang dipuji dan dijunjung oleh kawan maupun lawan karena ilmunya, sangat tertarik pula pada Barahiyn Ahmadiyah, sewaktu menjadi tabib [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=85&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bai&#8217;at Pertama</strong></p>
<p>Dengan tersiarnya Barahiyn Ahmadiyah orang-orang dari berbagai tempat mulai simpati kepada Hazrat Ahmad as. Qadian yang terletak jauh dan terpencil mulai sering dikunjungi para tamu dari tempat-tempat jauh. Para cendekiawan seperti Hazrat Maulvi Nuruddin, yang dipuji dan dijunjung oleh kawan maupun lawan karena ilmunya, sangat tertarik pula pada Barahiyn Ahmadiyah, sewaktu menjadi tabib istimewa Maharaja Jammu dan Kashmir. Hz. Mlv. Nuruddin ini kemudan tidak terpisahkan lagi dari Hazrat Ahmad as. untuk selama-lamanya. Barahiyn Ahmadiyah makin lama semakin mengambil tempat di hati umat, bahkan banyak yang mengajukan permintaan supaya Hazrat Ahmad as. mengambil bai&#8217;at. Tetapi permintaan itu senantiasa beliau as. tolak, dengan menjawab bahwa segala urusan beliau berada di tangan Allah.</p>
<p>Akhirnya tibalah bulah Desember 1888 ketika melalui ilham Ilahi, Hazrat Ahmad as. diperintahkan untuk mengambil bai&#8217;at dari orang-orang. Bai&#8217;at yang pertama diselenggarakan di kota Ludhiana pada tanggal 23 Maret 1889 di rumah seorang mukhlis bernama Mia Ahmad Jaan. Dan orang yang bai&#8217;at pertama kali adalah Hz. Maulvi Nuruddin ra.. Pada hari itu kurang lebih 40 orang telah bai&#8217;at. Setelah itu berangsur-angsur semakin banyak yang bai&#8217;at.</p>
<p><strong>Pendakwaan Diri Sebagai Masih Mau&#8217;ud</strong></p>
<p>Tetapi pada tahun 1891 telah terjadi suatu perubahan yang amat besar. Yakni Hazrat Ahmad as. diberi ilham oleh Allah Ta’ala bahwasanya Nabi Isa as. yang ditunggu-tunggu kedatangannya kedua kali kali itu telah wafat dan tidak akan datang lagi ke dunia ini. Kedatangan Nabi Isa kedua, adalah orang lain yang akan datang dengan sifat dan cara seperti Nabi Isa as., yaitu Hazrat Ahmad as. sendiri orangnya.</p>
<p>Ketika hal ini telah betul-betul jelas, dan ilham Ilahi berulang-ulang menyatakan supaya beliau as. mengumumkannya, maka mulailah beliau as. menjalankan kewajiban yang baru dan suci ini. Ilham tersebut turun ketika beliau as. berada di Qadian, lalu beliau menerangkan kepada anggota keluarga beliau bahwa kini beliau telah diserahi suatu kewajiban yang akan menimbulkan perlawanan dari orang-orang.</p>
<p>Setelah itu Hazrat Ahmad as. pergi ke Ludhiana, dan pada tahun 1891 mengumumkan pendakwaan sebagai Masih Mau&#8217;ud (Isa yang dijanjikan) melalui sebuah selebaran.</p>
<p><strong>Awal Timbulnya Pergolakan dan Penentangan</strong></p>
<p>Pengumuman itu tersiar secepat kilat, dan di seluruh India timbul perlawanan serta kehebohan yang sangat hebat terhadap pendakwaan tersebut. Para alim ulama yang dahulu simpatik dan memuji, kini serentak berdiri menentang beliau as. Mlv Muhammad Hussein Batalwi yang dahulu dalam majalahnya Isyaatus Sunnah sangat memuji Hazrat Ahmad as., kini menggunakan segala kekuatannya untuk menentang beliau as. Dengan sombong dia berkata:</p>
<p>        &#8220;Saya yang dahulu telah memajukan orang ini, maka saya lah sekarang yang akan menjatuhkannya. Yakni, dahulu karena pertolongan dan pujian dari saya lah orang ini mendapat kehormatan, dan sekarang saya akan menentangnya dengan gigih, sampai orang ini akan dibenci dan dihina orang-orang.&#8221;</p>
<p>Mlv. Muhammad Hussein Batalwi bersama beberapa ulama lainnya pergi ke Ludhiana menantang Hazrat Ahmad as. untuk berdebat. Hal itu diterima oleh beliau as.. Tetapi dalam perdebatan itu, pihak mereka memakai bermacam cara untuk mengacau, sehingga acara itu gagal. Oleh karena keributan dan kekacauan tersebut, pihak yang berwajib memerintahkan Mlv. Muhammad Hussein Batalwi agar meninggalkan kota Ludhiana pada hari itu juga.</p>
<p>Untuk menghindari suasana yang tidak diinginkan, Hazrat Ahmad as. pun pergi ke Amritsar, dan setelah seminggu beliau kembali ke Ludhiana. Satu minggu beliau menetap disana, kemudian kembali ke Qadian. Beliau as. tinggal di Qadian untuk beberapa lama, kemudian pergi ke Ludhiana lagi untuk beberapa hari. Dari sana beliau terus ke Delhi.</p>
<p><strong>Perdebatan Delhi</strong></p>
<p>Hazrat Ahmad as. tiba di Delhi pada tanggal 27 September 1891. Pada waktu itu Delhi dipandang sebagai pusat ilmu pengetahuan di seluruh India. Dan pihak lawan lebih dahulu telah menghasut penduduk Delhi menentang beliau as.. Maka dengan kedatangan beliau timbulah suatu keributan dan kegoncangan yang hebat. Para ulama menantang Hazrat Ahmad as. berdebat. Akhirnya mereka secara sepihak telah menetapkan Maulvi Nazir Hussein, tokoh Ahli-Hadis, akan berdebat dengan Hazrat Ahmad as. di Masjid Jami&#8217; Delhi. Sedangkan hal itu tidak diberitahukan kepada Hazrat Ahmad as..</p>
<p>Pada waktunya, datanglah Hakim Abdul Majid membawa kendaraan supaya Hazrat Ahmad as. berangkat ke Masjid Jamii&#8217; untuk perdebatan itu. Hazrat Ahmad as. menjawab:</p>
<p>        &#8220;Dalam keributan dan kekacauan yang begini hebat, jika belum ada pengawalan yang lengkap dari pemerintah, saya tidak dapat pergi ke tempat perdebatan itu. Lagi pula, masalah perdebatan serta syarat-syaratnya seharusnya telah dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan saya juga.&#8221;</p>
<p>Atas jawaban ini, para penentang semakin ribut. Oleh karena itu, Hazrat Ahmad as. mengumumkan:</p>
<p>        &#8220;Baiklah, Mlv. Nazir Hussein Delwi menyatakan dengan sumpah di Masjid Jami&#8217;, bahwa menurut ayat-ayat Al-Quran Nabi Isa as. masih hidup dan sampai sekarang belum wafat. Setelah sumpah itu, jika dalam tempo satu tahun Mlv. Nazir Hussein tidak mendapat suatu siksaan dari langit, maka boleh lah saya dianggap sebagai pendusta dan saya akan membakar seluruh buku saya.&#8221;</p>
<p>Untuk hal itu Hazrat Ahmad as. telah pula menetapkan hari dan tanggalnya. Permintaan tersebut sangat menggelisahkan murid-murid Mlv. Nazir Hussein, dan mereka berupaya dengan berbagai cara untuk menghalangi persumpahan itu. Tetapi masyrakat umum mendesak Mlv. Nazir Hussein agar bersumpah bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah dusta dalam pendakwaanya.</p>
<p>Pada waktu itu rakyat jelata berduyun-duyun berkumpul di Masjid Jami&#8217; Delhi. Banyak orang memberi pandangan agar Hazrat Ahmad as. tidak usah pergi ke tempat itu, sebab diri beliau as. terancam dan mungkin timbul bahaya bagi diri beliau. Tetapi Hazrat Ahmad as beserta 12 orang sahabat beliau pergi juga ke tempat itu (Nabi Isa Israili dahulu juga mempunyai 12 orang sahabat/hawariyin, dan pada kejadian ini Hazrat Ahmad as. pun ditemani oleh 12 orang sahabat beliau).</p>
<p>Bagian luar dan dalam Masjid Jamii&#8217; Delhi telah penuh sesak oleh massa, bahkan di tangga-tangga luar pun penuh dengan khalayak ramai. Dalam kerumunan puluhan ribu orang itu &#8212; yang sebagian besar berkumpul karena kebencian terhadap Hazrat Ahmad as. &#8212; telah naik darah dan gelap mata. Beliau as. dengan beberapa sahabat itu berjalan terus melalui kerumunan masa sampai ke tempat imam dalam masjid itu, dan beliau pun duduk disana. Seorang perwira polisi dengan seratus orang pasukannya telah berada di tempat untuk menjaga ketenteraman dan keamanan. Dari antara hadirin banyak pula yang membawa batu untuk melempar Hazrat Ahmad as..</p>
<p>Demikianlah Masih Mau&#8217;ud yang sekarang ini, seperti halnya Masih Israili dahulu juga terancam oleh para ulama dan pendeta. Hanya saja Masih Mau&#8217;ud as. ini bukan disalibkan, melainkan akan dirajam dengan batu-batuan.</p>
<p>Dalam perdebatan itu pihak lawan menderita kekalahan. Tidak ada yang mau memperbincangkan masalah kewafatan Nabi Isa as.. Demikian pula Mlv. Nazir Hussein atau orang lainnya tidak berani bersumpah seperti yang dimintakan. Seorang advokat dari Aligarh bernama Khwaja Muhammad Yusuf, telah menerima tulisan iktikad dan pendirian Hazrat Ahmad as. yang akan dibacakannya di hadapan umum. Tetapi para ulama yang telah menyebarkan fitnah &#8212; bahwa Hazrat Ahmad as. tidak mempercayai Al-Quran, Hadis dan Junjungan Nabi Muhammad saw.&#8211; mereka takut bila tipu muslihat dan fitnah mereka itu terbongkar. Maka mereka terus menghasut, supaya masyarakat umum jangan sampai mendengarkan iktikad dan pendirian Hazrat Ahmad as. yang sebenarnya.</p>
<p>Atas hasutan mereka timbul-lah keributan dan kekacauan besar, sehingga Khwaja Muhammad Yusuf tidak dapat membacakan tulisan itu. Oleh karena keadaan begitu gawat, perwira polisi memberi peringatan untuk membubarkan pertemuan, dan melarang mengadakan perdebatan pada waktu itu. Polisi mengantar Hazrat Ahmad as. sampai ke luar pintu mesjid, dan ketika menunggu kendaraan, banyak orang berkumpul hendak membuat keributan. Lalu beliau as. naik kendaraan untuk pulang, dan polisi membubarkan massa yang ada.</p>
<p>Kemudian pada kesempatan lain, masyarakat Delhi memanggil Maulvi Muhammad Bashir dari Bhopal untuk mengadakan perdebatan dengan Hazrat Ahmad as., dan pesan perdebatan itu telah dicetak juga. Beberapa hari setelah itu Hazrat Ahmad as. kembali ke Qadian. Setelah beberapa bulan, pada tahun 1891 itu juga, beliau as. berangkat ke Lahore dan mengadakan suatu perdebatan dengan Maulvi Abdul Hakim Kalanauri. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke Sialkot, lalu terus ke Jallandar dan Ludhiana. Dari sana beliau as. kembali ke Qadian.</p>
<p><strong>Perdebatan Dengan Pihak Kristen</strong></p>
<p>Pada tahun 1893 berlangsung perdebatan antara Hazrat Ahmad as. dengan Abdullah Atham yang mewakili pihak Kristen. Perdebatan ini diadakan di Amritsar dan berlangsung selama 15 hari, sedangkan hasil perdebatan ini dicetak dalam bentuk buku dengan judul Jangg-e-Muqaddas. Dalam perdebatan ini pihak yang melawan Hazrat Ahmad as. mengalami kekalahan seperti perdebatan-perdebatan lainnya. Perdebatan ini berlangsung secara tertulis. Kedua belah pihak duduk berhadapan satu sama lain dan menulis jawaban-jawabannya. Tulisan-tulisan itu yang kemudian dicetak dalam bentuk buku. Dampaknya, perdebatan tersebut sangat baik dan menyenangkan. Dalam perdebatan itu ternyata kadang-kadang pihak Kristen sama sekali tidak dapat menjawab argumentasi-argumentasi yang dipaparkan oleh Hazrat Ahmad as.. Bahkan kadangkala mereka berputar lidah dan merubah pendirian mereka, serta menggunakan kata-kata kasar yang tidak pada tempatnya.</p>
<p>Hazrat Ahmad as. telah mengemukakan suatu cara baru dalam ilmu kalaam, bahwa tiap pihak harus mengemukakan pendakwaan dan keterangan-keterangan tentang kebenaran agamanya dari kitab suci masing-masing. Dalam perdebatan itu, terjadi pula suatu kejadian aneh yang menggambarkan keunggulan dan kecerdasan Hazrat Ahmad as.. Meski pun hal yang dibahas adalah lain, tetapi untuk menghinakan beliau as. pihak Kristen telah mengumpulkan orang-orang buta, pincang dan cacat yang dihadapkan kepada Hazrat Ahmad as..</p>
<p>Pada saat berlangsung perdebatan, mereka mengatakan : &#8220;Jika betul Tuan sebagai Isa yang dijanjikan, cobalah Tuan sembuhkan orang-orang yang buta, pincang dan cacat ini. Sebab Isa yang dahulu dapat menyembuhkan orang-orang sakit semacam ini.&#8221; Permintaan orang-orang Kristen tersebut sangat mengherankan para hadirin. Dan tiap mereka ingin mendengarkan jawaban darii Hazrat Ahmad as.. Orang-orang Kristen pun merasa gembira, karena menganggap permintaan tersebut tidak akan dapat dijawab oleh Hazrat Ahmad as.. Tetap ketika beliau as. menjawab permintaan itu, maka segala kegembiraan mereka lenyap, berobah menjadi kekalahan. Semua orang merasa puas dan memuji jawaban yang jitu dari Hazrat Ahmad as.. Beliau as. menerangkan :</p>
<p>        &#8220;Menyembuhkan orang-orang sakit semacam itu, adalah tersebut di dalam Injil. Sedangkan kami tidak mempercayai hal-hal demikian. Menurut pendapat kami, mukjizat Nabi Isa as. terjadi di dalam cara dan bentuk yang lain. Injil menyatakan bahwa Nabi Isa as. dapat menyembuhkan penyakit-penyakit zahir dalam badan manusia hanya dengan mengusap-usapkan tangan saja, tanpa menggunakan obat-obatan serta doa. Begitu pun dalam Injil dinyatakan bahwa kalau kamu mempunyai iman walau sebesar biji sawi sekali pun, maka kamu akan dapat melakukan pekerjaan yang lebih ajaib dari ini. Orang-orang sakit semacam ini, bukanlah pihak Kristen yang harus menyodorkannya kepada kami. Justru kami lah yang harus menyodorkannya kepada orang-orang Kristen. Maka orang-orang sakit yang telah dikumpulkan ini, kami serahkan kembali kepada pihak Kristen, dengan mengatakan bahwa jika tuan-tuan memiliki keimanan sebedar biji sawi sekali pun, cobalah dengan hanya meletakkan tangan pada mereka sembuhkanlah orang-orang sakit ini. Jikalau orang-orang sakit ini baik dan sembuh, maka kami akan percaya bahwa Tuan-tuan tidak dapat membuktikan dan menyempurnakan pendirian yang kalian paparkan sendiri, maka bagaimana mungkin kami akan dapat meyakini kebenaran Tuan-tuan?&#8221;</p>
<p>Jawaban Hazrat Ahmad as. ini sangat membingungkan orang-orang Kristen dan mereka tidak dapat menjawab apa-apa lagi, serta mengalihkan pembicaraan kepada hal-hal lain.</p>
<p><strong>Permohonan Libur Umum Pada Hari Jumat</strong></p>
<p>Tidak berapa lama sesudah itu, Hazrat Ahmad as. pergi ke Ferozpur. Pada semua perjalanan ini, di tiap-tiap tempat beliau as selalu disulitkan orang melalui lisan maupun tulisan. Mereka berusaha mencelakakan beliau.</p>
<p>Pada tanggal 1 Januari 1896, Hazrat Ahmad as. memulai suatu upaya baru berkaitan dengan shalat Jumat, untuk menjunjung kehormatan serta peraturan Islam. Beliau mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk menetapkan hari Jumat sebagai hari libur. Sayang pada waktu itu di kalangan umat Islam sendiri sudah banyak timbul perselisihan tentang shalat Jumat. Banyak yang menetapkan berbagai macam syarat tentang boleh atau wajib diadakannya shalat Jumat. Bahkan banyak yang sudah tidak mengerjakan shalat Jumat lagi.</p>
<p>Upaya Hazrat Ahmad as. menghidupkan kembali shalat Jumat dan agar pemerintah menetapkan Jumat sebagai hari libur, adalah satu tanda kebenaran beliau as. yang amat jelas. Sebelum beliau menyampaikan permohonan itu pada pemerintah, para ulama telah menentang dan hendak mengambil alih urusan tersebut. Hazrat Ahmad as. bekerja semata-mata demi Allah dan bukan untuk mendapatkan pujian manusia. Tujuan beliau hanya ingin mengkhidmati dan menegakkan agama Allah semata, tidak peduli siapa pun yang menyelesaikannya.</p>
<p>Atas permintaan MLv. Muhammad Hussein Batalwi, Hazrat Ahmad as. mengumumkan bahwa jika Mlv. Muhammad Hussein mau, ia boleh menyelesaikan urusan libur hari Jumat itu. Sangat disayangkan, Mlv. Muhammad Hussein dengan cara demikian telah mengulur-ulur urusan yang baik itu. Namun anjuran beliau as. ini adalah anjuran Ilahi, dan pekerjaan baik ini akhirnya dilaksanakan sendiri oleh jemaat belaiu as.</p>
<p><strong>Konferensi Agama-agama di Lahore</strong></p>
<p>Pada akhir tahun 1896 beberapa orang membentuk sebuah panitia untuk mengadakan konferensi agama-agama di Lahore dan mengundang tokoh-tokoh dari berbagai agama untuk ikut serta dalam konferensi tersebut. Mereka semua menerima undangan itu dengan senang hati. Dalam konferensi itu ditetapkan satu syarat, bahwa tidak boleh seorang pembicara pun menyerang agama lain. Serta dimintakan kepada para wakil dari berbagai agama untuk menguraikan pandangan agamanya tentang kelima perkara di bawah ini :</p>
<p>   1. Keadaan alami, akhlak dan ruhani manusia<br />
   2. Keadaan manusia sesudah mati<br />
   3. Tujuan hidup manusia di dunia ini, dan cara untuk mencapainya<br />
   4. Dampak amal perbuatan manusia di dunia dan di akhirat<br />
   5. Jalan untuk memperoleh ilmu dan makrifat Ilahi</p>
<p>Orang yang merencanakan konferensi ini datang ke Qadian menjumpai Hazrat Ahmad as., dan beliau menyatakan kesetujuan beliau serta berjanji menolong sedapat mungkin. Bahkan dapat dikatakan bahwa sebenarnya Hazrat Ahmad as. lah yang telah mencetuskan ide konferensi tersebut. Sebelum mulai merencanakan konferensi itu, orang tersebut pernah datang ke Qadian, dan Hazrat Ahmad as. menganjurkan padanya agar menyelenggarakan konferensi semacam itu. Beliau as. senantiasa berusaha menyampaikan amanat dan kebenaran yang beliau bawa tersebut ke seluruh dunia, dan beliau as. sekali-kali tidak mau mengerjakan suatu pekerjaan hanya untuk pamer atau untuk dipuji saja.</p>
<p>Maka Hazrat Ahmad as. menganjurkan kepada orang itu untuk menyelenggarakan konferensi yang dimaksud. Bahkan pengumuman pertamanya dicetak di Qadian. Beliau as. telah berjanji untuk mempersiapkan sebuah karangan tentang perkara-perkara tersebut pada konferensi itu, serta telah menetapkan seorang murid beliau untuk membantu dalam urusan konferensi tersebut. Ketika Hazrat Ahmad as. mulai mempersiapkan naskah untuk konferensi itu, tiba-tiba beliau sakit keras terserang diare. Namun dalam kondisi sakit demikian pun beliau tetap mempersiapkan sebuah karangan. Sewaktu menulis karangan itu lah beliau as. menerima ilham dalam bahasa Urdu sbb:</p>
<p><em>Inilah karangan yang akan unggul atas karangan lainnya1</em></p>
<p>Oleh karenanya, sebelum peristiwa tersebut Hazrat Ahmad as. telah mencetak sebuah selebaran untuk mengumumkan bahwa karangan beliau as. akan unggul dari karangan-karangan orang lain.</p>
<p>Konferensi itu diselenggarakan pada tanggal 26, 27, 28 Desember 1896, yang berlangsung di bawah penilikan 6 orang tokoh: 1. Rai Bahadur Pratul Chandra Chatterji, hakim Pengadilan Tinggi Punjab, 2. Khan Bahadur Shaikh Khuda Bakhs, hakim Pengadilan Negeri Lahore, 3. Rai Bahadur Pandit Radha Kishen, pengacara di pengadilan tinggi dan bekas gubernur Jammu, 4. Hazrat hakiim Maulvi Nuruddin, tabib Maharaja Kashmir, 5. Rai Bahadur Bhavani Darsan, M.A., Settlement Officer, Jhelum, 6. Ardar Jowahar Singh, Sekretaris Khalsa College Committee, Lahore.</p>
<p>Para alim ulama ternama dari masing-masing agama telah mempersiapkan karangan untuk dibacakan dalam konferensi itu. Masyarakat umum memberikan perhatian yang luar biasa terhadap konferensi yang merupakan arena perbandingan agama-agama ini. Tiap-tiap golongan mengharapkan kemenangan bagi utusan mereka. Agama yang tua dan telah memiliki banyak pengikut, lebih kuat dan terjamin di dalam konferensi itu karena pengikutnya banyak yang hadir untuk membela para utusan mereka. Sedangkan Hazrat Ahmad as. pada waktu itu baru mempunyai pengikut sekitar 300 orang saja, dan yang hadir dalam konferensi itu tidak lebih dari 58 orang.</p>
<p>Pidato Hazrat Ahmad as. ditetapkan pada tanggal 27 Desember 1896, dari jam 1.30 sampai 3.30 petang. Beliau sendiri tidak dapat hadir dalam konferensi itu. Beliau serahkan karangan itu pada seorang murid beliau yang mukhlis, bernama Maulvi Abdul Karim Sialkoti, untuk membacakannya pada konferensi tersebut.</p>
<p>Hadirin mendengarkan karangan beliau as. dengan penuh perhatian dan minat yang tinggi. Terpikat sedemikian rupa sehingga semuanya asyik mendengarkannya. Orang-orang terperanjat mendengar bahwa waktu yang ditetapkan untuk pidato Hazrat Ahmad as. itu telah habis. Padahal karangan beliau tentang perkara pertama saja belum lagi selesai dibacakan. Maulvi Mubarik Ali Sialkoti yang akan berpidato sesudah giliran Hazrat Ahmad as. mengumumkan bahwa waktu yang diisediakan bagi pidatonya dengan tulus hati ia serahkan agar dimanfaatkan untuk pembacaan karangan hazrat Ahmad as. lebih lanjut. Hal itu disambut oleh para hadirin dengan sangat senang dan gembira. Maka Mlv. Abdul Karim pun melanjutkan pembacaan pidato Hazrat Ahmad as. itu hingga tiba waktu penutupan acara itu, pukul 4.30 sore. Tetapi perkara pertama pun masih belum selesai dibacakan.</p>
<p>Hadirin mendesak supaya karangan tersebut dibacakan sampai tamat. Oleh karena itu panitia mengumumkan bahwa pidato Hazrat Ahmad as. boleh dilanjutkan tanpa dibatasi waktunya. Akhirnya perkara pertama selesai dibacakan pada pukul 5.30 sore. Dengan segera hadirin kembali mendesak agar konferensi diperpanjang satu hari lagi untuk menyelesaikan pembacaan karangan Hazrat Ahmad as.. Konferensi itu pun ditambah satu hari lagi sampai tanggal 29 Desember 1896.</p>
<p>Dikarenakan banyak orang yang meminta waktu dipercepat, maka diumumkan bahwa keesokkan hari acara akan dimulai pada pukul 9.30 pagi, bukan pukul 10.30, serta pembicara pertama ialah Hazrat Ahmad as. juga. Biasanya pada pukul 10.30 pun para hadirin belum pada datang semuanya, tetapi pada hari itu sebelum pukul 9.00 orang sudah berduyun-duyun datang dari masing-masing golongan, dan berkumpul di arena pertemuan tersebut.</p>
<p>Acara dibuka tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Meski pada hari itu pun dua setengah jam diberikan jatah waktu untuk karangan Hazrat Ahmad as., tetap saja karangan itu tidak selesai dibacakan dalam waktu tersebut. Seluruh hadirin dengan sepakat mendesak supaya pembacaan karangan itu terus dilanjutkan. Maka para pemimpin acara pun telah menambah lagi waktu untuk karangan tersebut.</p>
<p>Pidato Hazrat Ahmad as. selesai dibacakan dalam dua hari, memakan waktu tujuh setengah jam lamanya. Seluruh kota Lahore goncang dan gempar. Semua orang mengakui bahwa karangan Hazrat Ahmad as. betul-betul lebih unggul dari karangan lainnya. Para pengikut dari agama-agama lain pun memuji karangan beliau as. ini. Orang-orang yang menyusun laporan acara itu menyatakan bahwa ketika pidato beliau as. itu dibacakan jumlah hadirin mencapai 8.000 orang banyaknya. Boleh dikatakan dengan pidato ini Hazrat Ahmad as mendapat kemenangan yang amat besar. Musuh-musuh pun terpengaruh oleh kecerdasan dan penjelasan beliau as.</p>
<p>Surat-surat kabar dari pihak lawan pun mengakui bahwa dalam konferensi tersebut karangan Hazrat Ahmad as. paling unggul atas yang lainnya. Karangan ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Teaching of Islam2, dan telah disebarluaskan di Eropa, Amerika serta benua lainnya, dengan mendapat sambutan yang memuaskan.</p>
<p><strong>Tantangan Bagi Kaum Kristen</strong></p>
<p>Pada permulaan tahun 1897 Hazrat Ahmad as. menantang pihak Kristen untuk menjawab dan menyangkal argumentasi-argumentasi beliau dalam tempo 40 hari. Dan beliau menyediakan hadiah sebesar 1000 rupis bagi orang yang dapat membuktikan kabar ghaib serta tanda-tanda Nabi Isa Israili as. lebih kuat dan lebih tinggi dari pada kabar ghaib dan tanda-tanda yang dimiliki oleh Hazrat Ahmad as..</p>
<p>Tidak ada seorang pun yang berani tampil ke muka. Tindakan ini beliau ambil untuk membuktikan keadaan Nabi Isa as. yang sebenarnya serta untuk memperbaiki kesalahan akidah kaum Kristen.</p>
<p><strong>Kematian Pandit Lekhram</strong></p>
<p>Pada tanggal 6 Maret 1897 seorang Hindu Ariya bernama Lekhram telah mati terbunuh berdasarkan kabar ghaib yang diterima oleh Hazrat Ahmad as. Kaum Ariya sangat heboh oleh kejadian itu. Banyak orang jahat dari kalangan mereka mulai memberikan kemudaratan pada orang-orang Ahmadi maupun orang Islam lainnya dengan berbagai macam cara, terutama terhadap diri Hazrat Ahmadd as.. Mereka mencetuskan fitnah besar secara terang-terangan menuduh beliau as. sebagai pembunuh. Pihak yang berwajib dengan segea mengadakan penyelidikan dan pengusutan atas diri beliau as.. Namun Allah Ta’ala menggagalkan segala usaha para musuh itu. Mereka berusaha dengan segala cara untuk menyalahkan Hazrat Ahmad as., tetapi tidak berhasil. dan beliau as. sama sekali bebas dan terlepas dari tuduhan serta fitnah itu.</p>
<p><strong>Kesultanan Turki</strong></p>
<p>Sebuah kejadian penting terjadi pada bulan Mei 1897 yang menjadi suatu tanda dalam riwayat Hazrat Ahmad as. Seorang duta dari Kesultanan Turki bernama Hussein Kami, setelah berulang kali mengajukan permohonan, datang ke Qadian untuk menghadap Hazrat Ahmad as.. Dengan firasat yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada beliau as., dan juga sesuai dengan ilham Ilahi, Hazrat Ahmad as. mendapat informasi tentang diri orang itu maupun tentang musibah yang bakal menimpa Kesultanan Turki.</p>
<p>Duta tersebut telah mengajukan permohonan doa khusus untuk Kesultanan Turki, maka Hazrat Ahmad as. terus terang menjelaskan kepadanya bahwa kondisi Sultan Turki serta kerajaannya tidak baik. Dan melalui perantaraan kasyaf Hazrat Ahmad as. pun telah menyaksikan keadaan para menterinya yang kurang baik. Maka menurut pendapat beliau as., dengan kondisi buruk demikian, akibatnya pun tidak akan baik.</p>
<p>Atas jawaban tersebut, sang duta itu merasa tidak senang dan pulang. Bahkan ia menulis sebuah surat berisi cacian dan kata-kata yang dicetak dalam sebuah surat kabar di Lahore, yang menimbulkan kegoncangan besar di kalangan kaum Muslim di Punjab, India. Tetapi kejadian dan peristiwa-peristiwa selanjutnya telah membuktikan hakikat yang sebenarnya. Dan banyak kabar ghaib tentang hal itu telah menjadi sempurna. Bahkan sang duta itu pun tidak luput dari ancaman yang terkandung dalam ilham yang diterima oleh Hazrat Ahmad as, ini:</p>
<p><em>Aku akan menghinakan orang yang bermaksud menghinakan engkau3</em></p>
<p>Kemudian dia ditangkap karena suatu kesalahan besar dan mendapat hukuman pula. Bahkan surat kabar yang memuat dan membantu menyiarkan keterangan-keterangan itu pun luput dari hukuman, dan kondisi Kesultanan Turki yang tidak baik telah terbuka di mata dunia.</p>
<p><strong>Dr. Henry Martin Clark</strong></p>
<p>Pada tanggal 1 Agustus 1897 seorang pendeta bernama Martin Clark telah membuat sebuah tuduhan palsu dan memperkarakan Hazrat Ahmad as. ke pengadilan yang dikepalai oleh A.E. Martineu, hakim Pengadilan Negeri Distrik Amritsar. Tuduhannya adalah, Hazrat Ahmad as. telah mengirim seorang bernama Abdul Hamid untuk membunuh kepala pendeta itu. Kepala daerah Amritsar pun pertama-tama mengeluarkan surat perintah untuk menangkap dan mengambil Hazrat Ahmad as. Tetapi kemudian ia mengetahui bahwa hal itu diluar kekuasannya, sebab Hazrat Ahmad as. tinggal di distrik lain. Maka perkara tersebut kemudian dilaihkan ke Kepala Pengadilan Distrik Gurdaspur, bernama M.W. Douglas, yang saat ini berada di England.</p>
<p>Dia hadapan hakim ini pun Abdul Hamid menguatkan pengakuannya bahwa ia telah diperintahkan oleh Hazrat Ahmad as. untuk membunuh pendeta Martin Clark dengan cara melemparkan batu besar kepadanya. Tetapi dalam pengakuannya dihadapan hakim di Amritsar bertentangan dengan pengakuan yang ia sampaikan di hadapan hakim di Gurdaspur. Karena itu, hakim M.W. Douglas meragukannya, dan mulai mengadakan penyelidikan intensif dan cermat. Dengan empat kali panggilan, dalam tempo 27 hari saja ia telah memutuskan perkara ini. Meski pun pihak kedua adalah golongan Kristen, namun dengan tidak berat sebelah hakim tersebut telah memberikan keputusan yang benar dan membebaskan Hazrat Ahmad as. untuk mengajukan tuntutan terhadap pihak lawan beliau itu., tetapi beliau as. telah memaafkan dan tidak mempermasalahkan perkara itu lagi. Hakim M.W.douglas didalam keputusannya menuliskan:</p>
<p>        Kami menganggap pengakuan (Abdul Hamid) bertentangan dengan akal, sebab yang diterangkannya di depan kami berbeda dari yang ia terangkan di hadapan kepala pengadilan Amritsar. Demikian gerak-geriknya sangat meragukan. Dan kami menyaksikan satu hal yang paling ganjil dalam pengakuannya, bahwa selama ia tinggal bersama para petugas Kristen di Batala, pengakuan-pengakuannya pun senantiasa bertambah. Ia memberikan pengakuannya pada tanggal 12 Agustus 1897 dan 13 Agustus 1897. Tetapi pada pengakuan hari kedua banyak hal-hal yang tidak ia paparkan pada hari pertama. Hal ini menimbulkan syakwasangka dalam hati, bahwa mungkin ada yang mengajarinya untuk berkata demikian atau mungkin dia mengetahui banyak hal namun tidak mau memaparkannya. Oleh sebab itu kami mintakan kepada pejabat polisi supaya orang itu diambil dari tempat para pendeta Kristen dan dia harus tinggal dibawah pengawasan polisi untuk didengarkan lagi pengakuannya yang benar.</p>
<p>        Pihak polisi pun mengambilnya dari tempat orang Kristen itu dan meminta lagi keterangan darinya. Tanpa ada perjanjian apa-apa lantas orang itu berlutut dan sambil menangis mengatakan: &#8220;Saya telah dipaksa dengan berbagai macam ancaman untuk mengatakan segala tuduhan dan keterangan-keterangan yang dusta itu. Dan sebenarnya apa yang telah saya katakan untuk menentang Mirza Ghulam Ahmad, semua itu adalah rekayasa dan perintah orang-orang Kristen yang bernama Abdul Rahim Warisuddin dan Prim Das.</p>
<p>        Mirza Ghulam Ahmad tidak memerintahkan apa-apa pada saya. Dan saya pun tidak punya hubungan apa-apa dengan beliau. Hal-hal yang tampaknya sulit pada pengakuan saya di hari tertentu, maka orang-orang itu itu mengajarkan lebih lanjut tentang hal-hal tersebut untuk dapat saya utarakan pada hari berikutnya. Apa yang telah saya terangkan tentang seorang murid Mirza Ghulam Ahmad, bahwa sesudah pembunuhan tersebut dia akan memberikan perlidungan pada saya, sebetulnya saya sama sekali tidak mengenalnya, bahkan tidak pernah mendengan namanya. Merekalah yang telah memberikan nama serta alamat orang itu pada saya, dan supaya tidak lupa, namanya dituliskan di telapak tangan saya sehingga dapat terlihat pada waktu memberikan pengakuan.&#8221;</p>
<p>        Kemudian dia menerangkan lagi: &#8220;Waktu pertama kali saya memberikan keterangan di pengadilan untuk melawan Mirza Ghulam Ahmad, orang-orang Kristen itu mengatakan dengan sangat gembira: &#8216;Kini cita-cita kami telah terwujud. Sekarang kami dapat mencelakakan Mirza Ghulam Ahmad.&#8217;&#8221;</p>
<p>Setelah menulis segala keterangan yang itu, Kepala Pengadilan tersebut pun membebaskan Hazrat Ahmad as..</p>
<p>Musuh-musuh Hazrat Ahmad as. sangat gembira beliau diseret ke pengadilan. Bahkan ada seorang advokat dari golongan Ariya yang ikut membela perkara tersebut di pihak Kristen secara cuma-cuma. Demikian pula ada seorang ulama Islam yang datang memberi kesaksian memberatkan Hazrat Ahmad as.. Boleh dikatakan orang-orang Kristen, Hindu dan beberapa orang Islam sekaligus menyerang beliau as.. Dan mereka menggunakan berbagai cara yang tidak dibenarkan oleh agama demi mewujudkan hawa nafsu mereka. Tetapi Allah Ta’ala telah memberikan keberanian dan kecakapan kepada hakim M.W. Douglas lebih daripada yang diimiliki oleh Pilatus (di masa Nabi Isa Israili as.) dahulu. Dalam setiap langkahnya dia memegang teguh kejujuran. Ia tidak mencuci tangan dan menyerahkan Masih Mau&#8217;ud as. ke tangan para musuh beliau. Bahkan ia membebaskan beliau dari segala tuduhan. Demikianlah hakim itu telah menyatakan ketinggian Kerajaan Inggris lebih dari Kerajaan Romawi zaman dahulu itu.</p>
<p><strong>Tawaran Damai Kepada Para Ulama Islam</strong></p>
<p>Pada hari-hari itu Hazrat Ahmad as. menerbitkan sebuah selebaran dengan judul Ash-shuluh Khair. Selebaran ini ditujukan kepada para ulama Islam dimana beliau mengemukakan supaya dalam tempo sepuluh tahun para ulama itu tidak menentang dan menghalangi beliau dulu dan agar membiarkan beliau menghadapi musuh-musuh Islam terlebih dahulu. Hazrat Ahmad as. menjelaskan :</p>
<p>        &#8220;Sekiranya saya seorang pendusta, penipu, niscaya saya akan binasa dalam tempo tersebut. Dan jika saya benar, maka kalian pun akan terpelihara dari sikasan yang akan diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk mereka yang melawan orang yang benar.&#8221;</p>
<p>Tetapi sayang, para ulama itu tidak menyambut permohonan beliau tersebut, dan daripada melawan para musuh Islam ternyata mereka lebih suka melawan seorang pembela Islam.</p>
<p>Pada bulan Oktober 1897 Hazrat Ahmad as. pergi ke Multan sebagai saksi dalam sebuah perkara. Ketika kembali beliau singgah dulu di Lahore untuk beberapa hari lamanya. Di setiap jalan dan gang yang beliau lalui, orang-orang berkumpul mencaci-maki dan menghina beliau as. dengan kata-kata yang sangat kotor.</p>
<p>Pada waktu itu saya (Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad -pen) baru berumur 8 tahun, dan saya pun ikut serta dalam perjalanan itu. Saya belum dapat mengerti ketika itu, mengapa orang-orang memusuhi dan menghina beliau as.. Hal itu sangat mengherankan saya. Saya masih ingat, saat itu di tangga Masjid Wajir Khan ada seseorang yang tangannya buntung sebelah. Bahkan bekas potongan atau lukanya masih baru dan dibalut kain perca. Ia pun ikut dengan orang-orang ramai serta bersuit dan bertepuk tangan dengan menepuk tangan yang buntung itu ke tangan yang lain sambil berteriak-teriak mengatakan, &#8221; Mirza sudah lari&#8230; Mirza sudah lari!&#8221;</p>
<p>Pemandangan tersebut sangat mengherankan hati saya, dan agak lama saya mengeluarkan kepala (dari kendaraan) untuk melihat orang itu. Dari Lahore kemudian Hazrat Ahmad as. terus kembali ke Qadian. Pada tahun itu juga berjangkit wabah pes di Punjab. Semua golongan agama pada waktu itu sangat menentang cara-cara yang ditempuh pemerintah untuk membasmi wabah tersebut. Tetapi Hazrat Ahmad as. justru menyetujui cara-cara itu dan menganjurkan agar para pengikut beliau jangan ragu-ragu menggunakan cara-cara itu, sebab Islam menganjurkan menjaga kesehatan.</p>
<p>Demikianlah Hazrat Ahmad as. telah berjasa menegakkan ketenteraman publik. Karena, secara umum tersiar kabar bahwa pemerintah sendirilah yang telah menyebarkan wabah pes tersebut, sedangkan cara-cara yang dikatakan dapat membasmi wabah, sebenarnya itulah yang menyebabkan tersebarnya penyakit tersebut, dan bertentangan dengan agama Islam. Maka para ulama pun memberi fatwa tegas, bahwa pada masa wabah pes berjangkit orang-orang sama sekali tidak dibenarkan keluar rumah. Fatwa ini pun telah menyebabkan kematian beribu-ribu orang yang tidak tahu apa-apa. Obat pembasmi tikus mereka anggap sebagai bibit penyakit pes. Perangkap-perangkap tikus pun mereka tolak dan mereka cemoohkan.</p>
<p>Pendek kata pada waktu itu kekacauan merajalela dan di beberapa tempat para pembesar negeri diserang oleh rakyat. dalam keadaan demikian, anjuran dan seruan Hazrat Ahmad as. serta contoh dan amal yang ditampilkan oleh Jemaat beliau telah memberi inspirasi kepada orang-orang lain juga. Beliau as. menerangkan kepada orang-orang Islam bahwa menurut agama Islam, dalam musim wabah pes, keluar dari rumah atau tinggal jauh dari kota, tidaklah dilarang. Yang dilarang adalah, pada musim wabah pes pergi dari suatu kota (yang telah terjangkiit wabah pes tersebut) ke kota lain. Karena hal itu akan menjangkitkan wabah pes tersebut ke kota lainnya.</p>
<p><strong>Undang-Undang Sedition</strong></p>
<p>Pada tahun 1897 dan 1898, perdebatan-perdebatan agama terjadi berulang kali. Hal itu telah mempertajam pergesekan antar golongan agama di kalangan penduduk India. Keadaan yang kacau dan bergolak itu dimanfaatkan oleh sebagian orang yang bertujuan politik untuk menghasut khalayak umum menentang pemerintah. Untuk menghindari keadaan kacau yang tidak diharapkan, pemerintah telah membentuk Undang-Undang Sedition (undang-undang anti hasutan menggolakkan publik). Tetapi keadaan di India semakin kacau dan undang-undang tersebut tidak mendatangkan dampak yang baik.</p>
<p>Di India pengaruh agama sangat mendalam. Dan orang-orang India lebih rela berkorban untuk agama daripada untuk politik. tetapi Undang-Undang Sedition tidak menutup pintu pergeseran dan pertentangan agama. Lagi pula hal itu tidak dianggap perlu dan penting oleh pemerintah. Hal-hal yang tidak dipahami oleh para petinggi negeri pada waktu itu ternyata telah dipahami betul oleh Hazrat Ahmad as., walaupun beliau berdiam di tempat yang sepi dan terpencil. Maka pada bulan September 1897 beliau as. telah menyampaikan sebuah memorial (imbauan) kepada Lord Eligen, raja muda di India, dan dicetak serta disiarkan. Dalam surat itu Hazrat Ahmad as. mengatakan bahwa sumber kekacauan dan keributan ini adalah pergeseran dan perselisihan agama, yang menimbulkan kegelisahan serta pergolakan dalam perasaan masyarakat umum. Dan kesempatan ini lalu dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menentang pemerintah. Maka di dalam Undang-Undang Sedition itu harus ditambahkan lagi larangan untuk melontarkan ucapan-ucapan kasar serta melewati batas kesopanan dalam perkara agama satu sama lainnya. Hazrat Ahmad as. mengemukakan tiga pasal berikut ini:</p>
<p>        (1) Harus ditetapkan undang-undang bahwa pengikut suatu agama boleh memaparkan keindahan-keindahan agamanya, tetapi dilarang untuk menyerang agama lain. Peraturan ini tidak akan mengganggu kemerdekaan beragama dan tidak akan membantu suatu agama tertentu dengan berat sebelah. Hendaknya tiiap-tiap agama pun menyetujui peraturan yang adil ini, yakni tidak boleh menyerang agama lain.</p>
<p>        (2) Jika peraturan no 1 tidak disetujui, sekurang-kurangnya ditetapkan bahwa suatu agama tidak dibenarkan menyerang atau mencela perkara-perkara tertentu ditemukan juga di dalam agama itu sendiri. Yakni tidak boleh mencela agama lain, dimana cela itu pun terdapat di dalam agamanya sendiri.</p>
<p>        (3) Sekiranya peraturan no 2 pun tidak diterima, sebaiknya pemerintah meminta dari pihak masing-masing agama daftar kitab-kitabnya yang sah dan resmi, untuk menetapkan sebuah peraturan bahwa agama itu tidak boleh dicela tentang hal-hal yang tidak terkandung di dalam kitab-kitabnya tersebut.</p>
<p>Suatu hal yang tidak tertera dalam akidah seseorang, tidak dapat dituduhkan atau dicela hanya berdasarkan pada dugaan, khayalan maupun cerita yang bohong belaka. Sebab, tuduhan dan celaan semacam itu hanya akan menambah kebencian serta permusuhan saja.</p>
<p>Sekiranya pemerintah pada waktu itu menerima imbauan atau usul tersebut, niscaya negeri India akan terhindar dari kekacauan maupun kerusuhan yang terjadi selanjutnya. Tetapi pemerintah pada waktu itu tidak merasakan pentingnya hal tersebut. Para penasehat pemerintah pun tidak dapat meramalkan perkara-perkara kecil yang kemudian hari akan menimbulkan kerusakan besar &#8212; yang pada waktu itu telah terlihat oleh seorang nabi akhir zaman tersebut.</p>
<p>Akan tetapi, sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1908, pemerintah terpaksa menetapkan undang-undang bahwa para pengikut agama tidak boleh kasar dan menyerang kepercayaan agama lain. Dan kalau ada yang melanggar undang-undang itu, maka percetakan atau kantor yang menyiarkan selebaran maupun keterangan demikian harus dicabut jaminannya atau dirampas segala percetakannya. Hanya saja undang-undang ini terlampau lambat ditetapkan, sehingga tidak begitu bermanfaat sebagaimana yang seharusnya pada waktu iitu.</p>
<p>Sesungguhnya sumber keributan di India adalah perselisihan agama yang disalah gunakan oleh beberapa orang yang menginginkan keributan dengan jalan licik untuk menghasut rakyat terhadap pemerintah. Bila para pengikut suatu agama dihina agamanya &#8212; yang sangat mereka cntai &#8212; maka orang-orang lugu dari mereka dengan sangat mudah dapat dihasut melawan pemerintah dengan menyatakan karena sikap pemerintah-lah mereka menderita kesusahan itu. Niiscaya mereka pun akan bersedia untuk melawan pemerintah.</p>
<p><strong>Menjawab Serangan Yang Ditujukan Kepada Islam</strong></p>
<p>Pada tahun 1898, seorang Kristen yang asalnya murtad dari Islam, telah menerbitkan sebuah buku yang sangat kotor menghina serta menimbulkan kemarahan dan pergolakan yang sangat hebat di kalangan orang-orang Islam. Hazrat Ahmad as. pun menganggap bahwa hal itu akan menggoyahkan keamanan dalam negeri. Sebuah perkumpulan Islam di Lahore mengajukan suatu permohonan kepada pemerintah, supaya buku tersebut disita kesemuanya. Hazrat Ahmad as menyarankan kepada mereka bahwa permintaan semacam itu tidak akan begitu bermanfaat, dan lebih baik diterbitkan sebuah jawaban yang jitu dan tepat terhadap buku itu. Namun perkumpulan tersebut tidak mengindahkan saran beliau as. dan akhirnya maksud mereka pun tidak berhasil &#8212; seperti yang telah beliau as sampaikan pada mereka. Hazrat Ahmad as. tidak menyetujui permohonan mereka itu, karena dengan dikabulkanya permintaan tersebut berarti terbukti kelemahan Islam. Beliau as. lebih setuju untuk menjawab buku itu. Pemerintah pun lebih menghargai permintaan beliau ini. Demikanlah beliau as. telah memelihara hak-hak orang Islam, untuk menablighkan Islam dan menjawab segala tuduhan pihak lain terhadap Islam.</p>
<p><strong>Perkawinan Antar Sesama Ahmadi</strong></p>
<p>Pada tahun 1898 itu juga, untuk mendisiplinkan Jemaat, serta untuk memelihara ciri khas ke-ahmadiyah-an, Hazrat Ahmad as. telah menganjurkan kepada orang-orang Ahmadi peraturan-peraturan perkawinan serta cara-cara pergaulan hidup, dengan menetapkan bahwa wanita Ahmadi tidak boleh kawin dengan orang-orang non Ahmadi.</p>
<p><strong>Tabligh Kepada Para Pejabat Pemerintah</strong></p>
<p>Pada tahun itu juga Hazrat Ahmad as. mengundang pemerintah menyaksikan tanda-tanda beliau as.. Sebenarnya dengan jalan demikian beliau berniat hendak menablighi para pembesar dan pejabat-pejabat pemerintah, dan beliau as. berhasil juga dengan baik.</p>
<p><strong>Mendirikan Sekolah</strong></p>
<p>Pada tahun 1898, Hazrat Ahmad as. mendirikan sebuah sekolah untuk pendidikan anak-anak Ahmadi dari berbagai tempat, agar mereka terpelihara dari pengaruh buruk yang ada di tempet-tempat lain. Pada awalnya sekolah ini dimulai sebagai sekolah dasar, tetapi setiap tahun maju terus sehingga pada tahun 1903 telah menjdi sekolah lanjutan pertama (Kini telah menjadi sekolah lanjutan atas serta perguruan tinggi).<br />
<strong><br />
Diperkarakan Kembali</strong></p>
<p>Pada tahun 1899 para penantang Hazrat Ahmad as. kembali memperkarakan beliau as. dengan tuduhan mengacau keamanan. Tetapi dalam perkara ini pun para musuh beliau menderita kekalahan yang hina, dan beliau as. memperoleh kemenangan yang gemilang.</p>
<p><strong>Tantangan Untuk Bishop Lahore</strong></p>
<p>Pada tahun 1900, Hazrat Ahmadd as. memenuhi pertablighan kepada para penganut agama Kristen dengan mengundang Bishop Lahore untuk meminta keputusan Ilahi agar tampak siapa yang benar. Walau pun hal ini dibantu pula oleh surat-surat kabar yang terkenal, namun Bishop tersebut tidak berani tampil menghadapi beliau as..</p>
<p><strong>Pernyataan Sebagai Ahmadi Muslim</strong></p>
<p>Pada tahun 1901, akan diadakan sensus penduduk di seluruh India. Maka Hazrat Ahmad as. menrbitkan sebuah pengumuman kepada seluruh pengikut beliau untuk mencatatkan diri dalam sensus tersebut sebagai Ahmadi Muslim. Yakni, pada tahun itulah Hazrat Ahmad as. telah menetapkan nama Ahmadi bagi para pengikut beliau as., untuk membedakan diri dari orang-orang Islam lainnya.</p>
<p><strong>Memperkarakan Pihak Keluarga Yang Anti</strong></p>
<p>Ada beberapa orang dari keluarga Hazrat Ahmad as. yang tidak senang kepada beliau. Untuk menyusahkan beliau as., mereka telah sengaja mendirikan sebuah dinding di hadapan Mesjid Mubarak, Qadian. Sehingga beliau dan para pengikut beliau yang biasa shalat di mesjid itu terpaksa harus berputar jauh untuk masuk ke dalam mesjid. Dan hal ini sangat menyusahkan hati. Hazrat Ahmad as. telah berusaha dengan berbagai cara untuk memecahkan permasalahan itu, namun mereka tetap tidak memperkenankan juga. Sehingga terpaksa pada bulan Juli 1901 Hazrat Ahmad as. mengajukan perkara ini ke pengadilan.</p>
<p>Pada bulan Agustus 1901 perkara itu diputuskan dengan kemenangan di pihak Hazrat Ahmad as., maka dinding itu pun diruntuhkan kembali. Dan segala biaya serta kerugian dibebankan pada pihak lawan, akan tetapi hal itu telah dimaafkan semuanya oleh beliau as.</p>
<p><strong>Penerbitan Majalah Review of Religions</strong></p>
<p>Pada tahun 1902, Hazrat Ahmad as. menerbitkan sebuah majalah bulanan untuk pertablighan kepada orang-orang Eropa, yang hingga sekarang masih berjalan, dengan nama Review of Religions. Terbit dalam dua bahasa, Inggris dan Urdu. Majalah ini menyiarkan tabligh Islam ke Eropa dan Amerika, dengan jalan yang sebaik-baiknya. Para musuh pun memuji karangan-karangan yang sangat bermutu di dalamnya.</p>
<p>Pada masa permulaan, Hazrat Ahmad as. sendiri sering memuat karangan-karnagn beliau di majalah tersebut, dari bahasa Urdu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karangan-karangan beliau sangat menarik para pembaca. Dan karena karangan-karnagan itu lah dalam tempo satu tahun saja majalah Review of Religions telah terkenal dimana-mana.</p>
<p><strong>Khutbah Ilhamiyah</strong></p>
<p>Pada tahun 1902 itu juga, dalam kesempatan hari raya Idul Adha, Hazrat Ahmad as. telah menyampaikan khutbah yang langsung berisikan ilham-ilham Ilahi dalam bahasa Arab yang sangat fasih. Sewaktu berpidato itu keadaan beliau sangat lain. Wajah beliau as. menjadi merah dan memancarkan cahaya serta kegagahan. Tampak seolah-olah beliau as. berada dalam keadaan bawah sadar. Khutbah itu sangat halus dan bahasanya juga sangat bagus, sehingga banyak orang yang pandai bahasa Arab pun tidak sanggup mengarang yang demikian. Apalagi isinya pun mengandung hikmah serta rahasia-rahasia yang menakjubkan akal pikiran manusia.</p>
<p>Khutbah ini seluruhnya di dalam bahasa Arab, dan telah dicetak dalam bentuk buku yang berjudul Khutbah Ilhamiyah.</p>
<p><strong>Pelajaran Bahasa Arab</strong></p>
<p>Pada masa-masa itu juga, Hazrat Ahmad as. telah mengemukakan sebuah rencana untuk mengajarkan bahasa Arab kepada warga Jemaat Ahmadiyah. Yakni tiap-tiap orang harus menghafalkan beberapa kalimat bahasa Arab yang fasih dan mudah serta lazim dipakai dalam percakapan sehari-harii. Dengan demikian, orang-orang akan lekas dapat mempelajari bahasa Arab. Beberapa kali pelajaran semacam itu telah diterbitkan, namun kemudian karena banyaknya pekerjaan, pelajaran itu terhenti.</p>
<p>Contoh dan cara yang dimaksudkan oleh Hazrat Ahmad as. ini dapat dipakai oleh Jemaat untuk maju dalam pelajaran bahasa Arab. Beliau as. sangat menghendaki agar orang-orang Islam di negerinya masing-masing, selain menguasai bahasa setempat, seharusnya juga menguasai bahasa Arab seperti bahasanya sendiri. Laki-laki dan perempuan semua harus belajar bahasa Arab, supaya keturunan yang akan datang tidak akan sulit mempelajari bahasa Arab itu. Anak-anak pun sejak kecil, selain bahasa negerinya, haruslah diajari bahasa Arab juga. Inilah suatu hal pentiing yang harus disempurnakan untuk menegakkan agama Islam dengan benar dan kuat.</p>
<p>Suatu kaum yang tidak mengetahui bahasa agamanya, tentulah tidak akan dapat memahami agamanya dengan benar. Suatu kaum yang tidak memahami agamanya sendiri, niscaya tidak akan dapat menjaga diri dari serangan agama lain. Suatu bangsa yang hanya mengenal terjemahan kitab agamanya, niscaya tidak akan dapat mempelajari agamanya dengan sempurna. dan kitab agamanya pun akan rusak. Karena terjemahan itu maka lambat laun orang-orang akan lalai membaca bahasa asli kitab tersebut. Memang, terjemahan itu tidak dapat dikatakan benar seperti kitab aslinya, maka akhirnya, lambat laun golongan itu akan tersesat dari tujuan agamanya. Jemaat Ahmadiyah berupaya pula untuk menyempurnakan keinginan Hazrat Ahmad as. tersebut, dan insya Allah akan berhasil.</p>
<p><strong>Minaratul Masih</strong></p>
<p>Pada tahun 1902 itu juga, Hazrat Ahmad as. telah menanamkan batu fondasi untuk mendirikan sebuah menara guna menyempurnakan secara zahir sebuah kabar ghaib (dari Rasulullah saw.), bahwa Masih Mau&#8217;ud akan turun di atas sebuah menera putih di sebelah timur Damaskus.</p>
<p>Memang yang dimaksud oleh kabar ghaib itu sebenarnya adalah : Masih Mau&#8217;ud akan datang membawa keterangan-keterangan yang jelas dan tanda-tanda nyata, serta kegagahannya akan tampak ke seluruh dunia, dan beliau akan memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang. Menurut ilmu ta&#8217;bir ru&#8217;ya, menara berarti keterangan-keterangan yang tidak dapat dibantah oleh manusia. Berada di tempat tinggi yang dapat disaksikan oleh manusia. Menuju ke jurusan Timur berarti akan memperoleh kemajuan yang tidak dapat dihalangi oleh siapa pun juga.</p>
<p><strong>Perjalanan ke Jhelum</strong></p>
<p>Pada akhir tahun 1902, seorang bernama Karam Din memperkarakan Hz. Masih Mau&#8217;ud as. di Jhelum dengan tuduhan bahwa beliau berencana untuk membinasakan orang itu. Maka pengadilan negeri Jhelum memanggil belaiu as.. Untuk itu pada bulan Januari 1903, Hazrat Ahmad as berangkat ke Jhelum. Perjalanan ini menjadi salah satu tanda mulainya kemajuan beliau as..</p>
<p>Meski pun Hazrat Ahmad as. pergi hanya untuk menjawab tuduhan dan fitnah yang dilemparkan kepada beliau itu, tetapi masyarakat telah ramai yang datang untuk menjumpai beliau dalam jumlah besar. Ketika Hazrat Ahmad as. tiba di stasiun Jhelum, orang-orang yang menjemput dan menjenguk sedemikian rupa banyaknya sehingga ruangan stasiun itu penuh sesak oleh massa. Bahkan sampai bagian luar stasiun, di jalan-jalan besar, sampai jauh, penuh oleh orang-orang. Dan kendaraan pun sukar bergerak. Para pejabat pihak yang berwajib telah mengambil tindakan-tindakan khusus untuk mengatur massa yang begitu ramainya.</p>
<p>Ghulam Heydar, wedana Jhelum ditetapkan untuk menyertai Hazrat Ahmad as. supaya kendaraan dapat bergerak. Ribuan orang dari kampung-kampung telah datang untuk melihat dan menyaksikan kedatangan beliau as.. Sekitar seribu orang telah bai&#8217;at kepada Hazrat Ahmad as. pada saat itu. Ruang pengadilan dan lapangan di luar pun betul-betul sesak oleh orang-orang yang mengikuti jalannya perkara itu. Sampai pihak yang berwajib kewalahan mengatur masaa yang demikian banyaknya. Dalam pemeriksaan pertama saja, Hazrat Ahmad as. telah dibebaskan. Maka dengan selamat sejahtera, beliau as. kembali ke Qadian.</p>
<p><strong>Kemajuan Yang Pesat</strong></p>
<p>Pada tahun 1903 Jemaat Ahmadiah mulai mengalami kemajuan yang luar biasa. Kadang-kadang dalam satu hari saja sekitar 500 orang bai&#8217;at kepada Hazrat Ahmad as.. Sedangkan pengikut beliau sudah ratusan ribu banyaknya. Orang-orang dari segala lapisan mulai bai&#8217;at kepada beliau. Jemaat Ahmadiyah mulai maju dengan sangat cepat dan pesat, dari kawasan Punjab sampai ke daerah-daerah lainnya. Dan kemudian mulai tersebar ke benua-benua lain.</p>
<p><strong>Mati Syahidnya Syahzada Abdul Lathief</strong></p>
<p>Pada tahun 1903 itu juga, Jemaat Ahmadiyah mengalami kejadian yang sangat menyedihkan. Seorang Ahmadi terpandang dan terhormat di Kabul, Afghanistan &#8212; Syahzada Abdul Lathief &#8212; telah dirajam dengan batu sampai beliau syahid hanya karena perbedaan paham masalah agama saja.</p>
<p><strong>Perkara Pengadilan di Gurdaspur</strong></p>
<p>Perkara-perkara yang ditimbulkan oleh Karam Din di Jhelum pada zahirnya telah selesai dan ditutup. Tetapi tidak lama kemudian Karam Din kembali memperkarakan Hazrat Ahmad as. dengan tuduhan-tuduhan palsu seperti dahulu, di pengadilan negeri Gurdaspur. Perkara ini menjadi sangat panjang, sampai-sampai hakim pengadilan itu telah pindah digantikan dengan yang baru. Hari-hari pemeriksaan pun ditetapkan cepat-cepat, sehingga untuk sementara waktu beliau as. terpaksa harus menetap di Gurdaspur.</p>
<p>Perkara ini diperpanjang dengan tidak semestinya. Padahal yang hanyalah beberapa perkara saja. Karam Din telah berdusta tentang Hazrat Ahmad as., oleh karena itu di dalam sebuah buku beliau as. telah menyebut orang ini sebagai kadzab dalam bahasa Arab, yang bertarti pendusta atau pendusta besar. Demikian pula beliau menggunakan kata la&#8217;iyn dalam bahasa Arab yang artinya terkutuk, atau kadang-kadang digunakan juga dalam arti haramzadah.</p>
<p>Karam Din mengemukakan bahwa ia dituduh pendusta dan haramzadah, padahal yang dikemukakan oleh Hazrat Ahmad hanyalah berupa kedustaan yang memang telah dilakukan oleh orang itu sendiri. Pengadilan pun mulai mengusut perkataan tersebut. Hal itu semakin berlarut-larut, yang mengakibatkan perkara ini berlangsung sampai dua tahun lamanya.</p>
<p>Walau perkara ini masih dalam pengusutan, telah tersiar di surat kabar bahwa rekan-rekan seagama sang hakim pengadilan itu telah mendesaknya untuk menghukum Hazrat Ahmad as. &#8212; walau satu hari sekali pun. Para pengikut Hazrat Ahmad as. sangat gelisah mendengar kabar tersebut dan segera menyampaikannya dengan rasa haru kepada beliau as.. Mendengar kabar itu, Hazrat Ahmad as. dengan wajah merah dan lantang menjawab:</p>
<p><em>        &#8220;Apakah dia mau menyerang singa Allah?! Jika dia berani berbuat demikian, niscaya dia akan menanggung akibatnya!&#8221;</em></p>
<p>Terlepas dari benar tidaknya berita tersebut, tetapi pada masa-masa itu juga hakim tersebut telah dipindahkan ke tempat lain. Kekuasaannya dikurangi, bahkan tidak lama sesudah itu pangkatnya pun diturunkan.</p>
<p>Perkara itu kemudian diserahkan kepada hakim lain, dan ia pun mengulur-ulur perkara itu tanpa seperlunya. Biasanya Hazrat Ahmad as. mendapat kursi tempat duduk di pengadlan, tetapi hakim ini tidak memberikan kursi bagi beliau as., padahal beliau dalam keadaan sakit. Bahkan beliau tidak diperkenankan minum ketika beliau benar-benar haus. Akhirnya setelah pemeriksaan yang begitu panjang, Hazrat Ahmad as. didenda 200 rupis.</p>
<p>Tetapi keputusan itu ditinjau kembali di pengadilan oleh Mr. Hetry di Amritsar. Setelah mempelajari perkara tersebut, Mr. Hetry menyatakan keheranannya, mengapa perkara yang begitu sederhana diperpanjang sampai berlarut-larut demikian lamanya? Mr. Hetry mengatakan :</p>
<p>        &#8220;Saya dapat menyelesaikan perkara ini dalam satu hari saja. Dan Karam Din memang patut disebut dengan perkataan yang lebih keras dari apa yang telah dikatakan oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan pengusutan yang demikian panjang itu memang tidak pada tempatnya.&#8221;</p>
<p>Dalam waktu dua jam saja hakim Mr. Hetry ini telah membebaskan Hazrat Ahmad as. dan membatalkan seluruh denda itu. Demikianlah, untuk kedua kalinya seorang hakim bangsa Eropa telah membuktikan dengan amal-amalnya bahwa Allah Ta’ala suka menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada orang-orang yang memang dianggap ahli untuknya. Perkara tersebut diputuskan pada bulan Januari 1905. Maka wahyu Allah Ta’ala yang turun kepada Hazrat Ahmad as. beberapa tahun sebelumnya &#8212; tentang hasil perkara itu &#8212; telah menjadi sempurna.</p>
<p>Penulis<br />
HM Basyiruddin MA<br />
Muslih Mau&#8217;ud</p>
<p>Sumber</p>
<p>http://ahmadiyya.or.id/</p>
<p>http://ahmadiyah.info/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=85&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Riwayat Singkat Pendiri Ahmadiyah Bagian 3</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-3/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 00:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafat]]></category>
		<category><![CDATA[Para Pemimpin Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ta&#039;lim]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyat]]></category>
		<category><![CDATA[Umur Amah]]></category>
		<category><![CDATA[Umur Kharikiah]]></category>
		<category><![CDATA[Ghulam Ahmad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Lahore Selama dalam perkara yang berlarut-larut di Gurdaspur, Hazrat ahmad as. pernah melakukan perjalanan penting. Pertama pada bulan Agustus 1904, beliau as. pergi ke Lahore untuk 15 hari lamanya. Orang datang berduyun-duyun untuk menjenguk beliau as.. Setiap hari di dekat tempat tinggal beliau, orang-orang pada berkumpul ramai. Para musuh beliau pun datang untuk membuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=84&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pidato Lahore</strong></p>
<p>Selama dalam perkara yang berlarut-larut di Gurdaspur, Hazrat ahmad as. pernah melakukan perjalanan penting. Pertama pada bulan Agustus 1904, beliau as. pergi ke Lahore untuk 15 hari lamanya. Orang datang berduyun-duyun untuk menjenguk beliau as.. Setiap hari di dekat tempat tinggal beliau, orang-orang pada berkumpul ramai. Para musuh beliau pun datang untuk membuat keributan dan mencaci maki beliau. Ada seseorang yang lolos menembus dan masuk ke dalam rumah, sehingga terpaksa dikeluarkan dengan cara kekerasan.</p>
<p>Atas permintaan saudara-saudara di Lahore, Hazrat Ahmad as. menyusun sebuah pidato yang kemudian dicetak dalam bentuk buku. Pidato ini dibacakan oleh Hz. Mlv. Abdul Karim Sialkoti dalam sebuah pertemuan besar yang dihadiri oleh sekitar 8000 orang. Hazrat Ahmad as. sendiri hadiir pada acara itu. Setelah selesai dibacakan, hadirin minta supaya beliau as. juga menyampaikan beberapa ucapan dari mulut suci beliau sendiri. Oleh karena itu Hazrat Ahmad as. berdiri dan berbicara dengan ringkas selama setengah jam.</p>
<p>Pengalaman yang berulang-ulang telah menyatakan bahwa di setiap tempat yang beliau as. kunjungi, orang-orang dari berbagai agama &#8212; terutama dari kalangan yang menamakan diri sebagai Muslim &#8212; bangkit untuk melawan dan memperlihatkan kebencian mereka pada Hazrat Ahmad as.. Maka para pejabat polisi telah mengatur dengan sebaik-baiknya. Polisi pribumi maupun polisi Eropa dengan senjata lengkap telah mengawal acara itu. Pejabat Polisi telah mendapat kabar terlebih dahulu bahwa beberapa orang yang tidak bertanggung jawab telah berkumpul di luar tempat pertemuan, sengaja untuk menimbulkan keributan. Maka polisi pun telah mengatur kepulangan beliau secara khusus dengan selamat. Di bawah pengawalan yang ketat, di depan dan di belakang serta di tengah-tengah kendaraan, Hazrat Ahmad as. pulang ke tempat beliau menetap. Orang-orang berniat jahat itu tidak berhasil melaksanakan apa yang mereka rencanakan. Dari sana Hazrat Ahmad as. kembalii lagi ke Gurdaspur.</p>
<p><strong>Pidato Sialkot</strong></p>
<p>Pada akhir Oktober 1904, Hazrat Ahmad as. mendapat sedikit kelonggaran dari urusan perkara di Gurdaspur untuk pulang ke Qadian. Pada tanggal 27 Oktober 1904, beliau berangkat ke Sialkot atas permintaan saudara-saudara Ahmadi disana. Mereka mengemukakan bahwa dahulu ketika masih muda beliau pernah beberapa tahun tinggal di Sialkot, maka sekarang pun setelah mendapat kemajuan yang begitu mulia, beliau dimohon mengunjungi tempat itu untuk memberkatinya.</p>
<p>Perjalanan ini pun membuktikan kemenangan Hazrat Ahmad as.. Di setiap stasiun, luar biasa banyaknya orang yang berkumpul untuk menjumpai beliau. Begitu banyaknya masa sehingga begitu sulit dikendalikan oleh petugas stasiun. Di stasiun Lahore karcis masuk ke stasiun habis sama sekali, dan terpaksa kepala stasiun mengizinkan orang-orang masuk tanpa karcis.</p>
<p>Ketika Hazrat Ahmad as. tiba di Sialkot, mulai dari stasiun sampai ke tempat penginapan beliau, lebih satu pal panjangnya penuh sesak oleh khalayak ramai yang ingin menyaksikan kedatangan beliau as.. Kereta api tiba di stasiun hampir malam, dan karena banyaknya penumpang yang mencari kendaraan untuk pergi ke tempat masing-masing, maka beliau as. terlambat. Dan kendaraan beliau aas. baru jalan sedikit, malam sudah gelap betul. Karena banyaknya orang dan kegelapan malam &#8212; dikhawatirkan ada yang dapat tergilas roda kendaraan &#8212; maka polsi mengambil tindakan penertiban yang perlu, untuk melapangkan jalan agar kendaraan beliau as. dapat berjalan dengan lancar.</p>
<p>Seorang hartawan dari Sialkot disertai seorang jaksa ditetapkan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban tersebut, dan mereka mengatur jalan-jalan dengan susah payah. Kendaraan-kendaraan pun jalan dengan sangat perlahan, dan jendela-jendelanya dibiarkan terbuka. Jalanan di kiri kanan penuh oleh manusia, dan banyak pula yang tidak dapat tempat berdiri sehingga terpaksa naik ke atap-atap rumah dan jendela.</p>
<p>Orang-orang Hindu dan Muslim menunggu-nunggu kedatangan Hazrat Ahmad as. Dengan menyalakan lampu-lampu malam itu. Banyak yang menggunakan obor besar untuk melihat wajah beliau as.. Dan ada pula yang menaburkan bunga kepada beliau as..</p>
<p>Di Sialkot, Hazrat Ahmad as tinggal selama 5 hari. Dan selain tabligh kepada orang-orang yang datang menjumpai beliau di rumah, beliau as. mengadakan pidato dalam pertemuan terbuka. Ketika berita tentang pidato tersebut disiarkan, maka para ulama di Sialkot pun berusaha keras agar masyarakat menambahkan fatwa: barangsiapa mendengarkan pidato beliau as. maka nikahnya akan batal.</p>
<p>Para ulama itu tidak berhenti sampai disitu saja, malah mereka mengumumkan akan menyelenggarakan ceramah-ceramah tandingan dari beberapa ulama di depan bangunan tempat Hazrat Ahmad as. akan menyampaikan pidato beliau as. dan tertahan di luar saja. Selain itu ditugaskan pula beberapa orang dipintu-pintu tempat rapat itu untuk melarang orang-orang masuk dan menjelaskan bahwa mendengarkan pidato Hazrat Ahmad as. adalah dosa.</p>
<p>Memang ada yang benar-benar dipaksa agar pergi ke tempat para ulama itu berpidato. Meskipun demikian, ketika mendengar kabar Hazrat Ahmad as. telah tiba di tempat yang telah ditentukan, maka banyak orang yang lari meninggalkan pidato para ulama tersebut, lalu masuk mendengarkan pidato yang disampaikan oleh Hazrat Ahmad as. sehingga para pegawai pemerintah yang pada hari itu tidak cuti sekali pun, telah merasa perlu menghadiri pidato beliau as. atas kemauan mereka sendiri.</p>
<p>Pidato Hazrat Ahmad as. tersebut telah dicetak dalam bentuk buku dan dibacakan oleh Hz. Mlv. Abdul Karim Sialkoti. Ada juga beberapa orang yang hendak menimbulkan keributan ketika pidato dibacakan, tetapi seorang pejabat polisi Eropa dapat mengendalikan mereka dengan bijaksana. Pejabat itu menjelaskan :</p>
<p>        &#8220;Orang-orang Islam tidak perlu gelisah atau gusar atas pidato Mirza Ghulam Ahmad. Karena, pidato ini adalah untuk membela agama Islam serta untuk memuliakan Nabi Muhammad. Justru orang-orang Kristen lah yang berhak untuk merah dan gusar hati, karena pidato-pidato Mirza Ghulam Ahmad ini menyatakan bahwa Tuhan orang Kristen (Jesus) telah wafat.&#8221;</p>
<p>Pendeknya, karena kecakapan polisi, tidak ada keributan maupun huru-hara yang timbul. Satu hal yang istimewa dalam pidato ini adalah, pertama kali Hazrat Ahmad as.menyatakan diri sebagai Khrisna untuk menyempurnakan keterangan-keterangan bagi orang-orang Hindu.</p>
<p>Sesudah pidato itu, ketika Hazrat Ahmad as. menuju ke tempat tinggal beliau as., ada beberapa orang yang hendak melemparkan batu. Tetapi kejadian itu pun dapat dicegah oleh poliisi. Begitu pula pada hari kedua, ketika beliau as. berangkat pulang dari Sialkot, karena upaya polisi, tidak ada kejadian yang buruk. Orang-orang yang ingin memudaratkan beliau as. tidak mendapat kesempatan. Lalu beberapa orang dari mereka pergi ke pinggir kota di tepi rel kereta api, dan melempari kereta api itu dengan batu. Tetapi selain beberapa kaca yang pecah, tidak ada seorang pun yang terluka.</p>
<p><strong>Mlv. Abul Karim Sialkoti Wafat &amp; Pendidikan Ulama</strong></p>
<p>Seorang murid mukhlis Hazrat Ahmad as. bernama Mlv. Abdul Karim Siialkoti &#8212; yang selalu membacakan pidato beliau as. pada beberapa acara besar &#8212; setelah lama sakit, wafat pada tanggal 11 Oktober 1905.</p>
<p>Hazrat Ahmad as. memberi anjuran untuk membuka sebuah lembaga pendidikan berbahasa Arab di Qadian untuk mempersiapkan orang-orang yang pandai dan alim dalam agama Islam. Sehingga para alim ulama yang wafat dapat digantikan oleh mereka.<br />
<strong><br />
Perjalanan ke Delhi</strong></p>
<p>Beberapa hari setelah wafatnya Mlv. Abdul Karim Sialkoti ra., Hazrat Ahmad as. berangkat ke Delhi untuk 15 hari lamanya. Delhi pada kali ini tidaklah seperti Delhi 15 tahun lalu yang kacau, namun tidak pula kosong dari keributan atas kedatangan beliau as.. Selama 15 hari di Delhi itu, beliau as. tidak mengadakan pidato di hadapan umum di tempat terbuka. Tetapi di rumah tempat beliau menetap, hampir setiap hari beliau as. mengadakan ceramah-ceramah yang dapat dihadiri oleh 250 orang pada satu waktu, berhubung tempatnya sempit.</p>
<p>Satu dua hari ada juga orang-orang yang ingin menimbulkan keributan. Bahkan suatu hari mereka datang dengan niat menyerang rumah dimana Hazrat Ahmad as. menetap. Tetapi semua kejadian ini jauh berbeda dari kedatangan beliau as. yang pertama ke Delhi dahulu.<br />
<strong><br />
Kunjungan ke Ludhiana dan Amritsar</strong></p>
<p>Ketika kembali, Jemaat Ahmadiyah di Ludhiana memohon agar Hazrat Ahmad as. singgah d Ludhiana untuk satu dua hari. Disana beliau as. menyampaikan sebuah pidato di hadapan umum yang mendapat cukup perhatian.</p>
<p>Kemudian datang permintaan dari Jemaat Ahmadiyah Amritsar agar beliau sudi pula datang ke Amritsar. Hazrat Ahmad as. memenuhi permintaan mereka, dan dari Ludhiana beliau singgah di Amritsar. Disana telah direncanakan agar beliau menyampaikan sebuah pidato di hadapan umum.</p>
<p>Di Amritsar banyak pihak yang memusuhi Jemaat Ahmadiyah. Dan saat itu para ulama yang mempunyai pengaruh besar menghasut masyarakat umum untuk menimbulkan keributan dan kekacauan. Pada hari pidato akan diselenggarakan, pihak musuh telah berniat mengacaukan suasana supaya pidato beliau as. tidak jadi diselenggarakan disana.</p>
<p>Ketika Hazrat Ahmad as. tiba di tempat acara pidato itu, tampak banyak para ulama mengenakan jubah-jubah panjang berdiri di pintu gedung. Mereka menghasut masyarakat untuk menentang beliau as.. Banyak orang membawa batu. Hazrat Ahmad as. terus masuk ke dalam gedung tempat diselenggarakannya pidato itu dan mulai menyampaikan pidato beliau, supaya orang-orang tidak berkesempatan untuk mencela.</p>
<p>Pidato baru saja berlangsung dua menit, lalu ada orang yang meletakkan secangkir teh di depan Hazrat Ahmad as.. Pada waktu itu tenggorokan beliau as. sakit, dan kalau minum sedikit dan berulang-ulang tentu akan meredakan sakit tenggorokan itu. Beliau as. memberi isyarat dengan tangan supaya tidak diberi teh, tetapi mengingat sakit tenggorokan beliau itu orang-orang tersebut tetap saja menaruh teh di hadapan beliau. Kemudian Hazrat Ahmad as meminum sedikit air teh tersebut. Sedangkan waktu itu Ramadhan, bulan puasa. Maka para ulama pun ribut menyatakan bahwa Hazrat Ahmad as bukan orang Islam, sebab tidak puasa pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Hazrat Ahmad as. menjawab, menurut firman Allah dalam Al-Quran, orang-orang sakit dan bepergian tidak perlu berpuasa, melainkan apabila sudah sehat atau kembali dari perjalanan, barulah boleh berpuasa. Sedangkan beliau sendiri dalam keadaan sakit serta dalam perjalanan.</p>
<p>Tetapi mereka yang telah emosi itu tidak mau memperhatikan penjelasan beliau. Kekacauan semakin meningkat, polisi pun tidak dapat mengendalikan suasana. Melihat keadaan itu, Hazrat Ahmad as. duduk dan meminta orang lain untuk membacakan syair-syair dengan suara merdu. Hal itu berhasil juga menentramkan khalayak ramai. Kemudian beliau as. kembali berdiri dan meneruskan pidato beliau. Namun para ulama kembali ribut dan mulai menyerang ke arah mimbar, dan polisi yang sedikit itu tidak mampu mengendalikan ribuan orang yang maju seperti ombak itu. Karena pihak keamanan tidak berdaya lagi, Hazrat Ahmad as. pun menghentikan pidato beliau. Tetapi kekacauan tidak berhenti, dan mereka terus membuat keributan.</p>
<p>Para pejabat polisi meminta agar Hazrat Ahmad as. pindah ke ruangan lain, dan memerintahkan para petugas untuk segera mendatangkan kendaraan yang tertutup. Polisi mencegah orang-orang masuk ke ruangan yang ditempati Hazrat Ahmad as., dan dari pintu yang lain telah didatangkan kendaraan tersebut. Beliau pun keluar menaiki kendaraan itu, dan orang-orang yang mengadakan keributan tersebut mengetahui bahwa beliau akan berangkat, maka mereka serentak keluar dari gedung dan menyerbu ke arah kendaraan beliau.</p>
<p>Seorang dari mereka menyerang Hazrat Ahmad as. dengan tongkat besar. Tetapi seorang murid beliau as. menghalangi, dan pintu kendaraan yang masih terbuka justru menghalangi tongkat tersebut, sehingga murid beliau itu hanya mengalami luka ringan saja. Sekiranya tidak demikian, tentu orang itu akan mengalami luka parah.</p>
<p>Kendaraan terus berangkat membawa Hazrat Ahmad as.. namun pihak penentang terus saja melempari batu dari kiri dan kanan. Meski jendela kendaraan itu telah ditutup, lemparan-lemparan batu membuatnya terbuka lagi. Kami yang duduk dalam kendaraan itu menutup kembali jendela-jendela dan menahannya dengan tangan. Namun lemparan-lemparan batu itu cukup kuat sehingga jendela kendaraan tersebut berkali-kali terbuka lagi.</p>
<p>Dengan karunia Ilahi tidak ada yang terluka, hanya sebuah batu mengenai tangan adik saya. Polisi yang mengawal di sekelilling kendaraan itu banyak yang kena batu. Maka pihak yang berwajib mengambil tindakan untuk menjauhkan orang-orang itu. Dari depan dan belakang kendaraan itu terus dikawal oleh polisi. Bahkan ada polisi yang duduk di atap kendaraan. Dengan cepat kendaraan itu tiba di tempat kediaman beliau as.. Nafsu amarah para penentang itu bergelora, dan benyak yang berlari mengejar dari belakang kendaraan yang terus dikawal oleh polisi itu. Pada keesokan harinya Hazrat Ahmad as. pun kembali pulang ke Qadian.</p>
<p><strong>Al-Wasiat</strong></p>
<p>Pada bulan Desember 1905, Hazrat Ahmad as. mendapat ilham yang menerangkan bahwa saat kewafatan beliau telah dekat, oleh karenanya beliau menulis sebuah buku yang berjudul Al-Wasiat, yang disebar luaskan kepada seluruh warga Jemaat Ahmadiyah. Di dalamnya beliau as. memberitahukan bahwa saat kewafatan beliau telah dekat, dan menasihatkan agar Jemaat tenteram serta berbesar hati.</p>
<p>Demikian pula, berdasarkan ilham Ilahi, Hazrat Ahmad as. mengumumkan untuk membuat sebuah areal perkuburan khusus (Bahesyti Maqbarah), dan orang-orang yang akan dikebumikan disana harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Yakni mengurbankan paling sedikit 1/10 harta bendanya dan 1/10 dari penghasilannya setiap bulan untuk kepentingan Islam. Hazrat Ahmad as menjelaskan :</p>
<p>        &#8220;Allah Taala telah memberi kabar suka kepada saya, bahwa di perkuburan itu hanya orang-orang ahli surga saja lah yang akan dikuburkan.&#8221;</p>
<p>Dan beliau as. juga membentuk sebuah badan untuk mengurus harta benda yang akan diserahkan oleh orang-orang yang akan dikuburkan di pekuburan tersebut, untuk digunakan bagi pengembangan Islam. Selain ketentuan tersebut, beliau as. memberikan sebuah kabar ghaib :</p>
<p>        &#8220;Untuk menjaga dan mengurus Jemaat ini setelah kewafatanku Allah Taala sendiri yang akan mengaturnya sebagaimana Dia telah mengatur setelah (kewafatan) nabi-nabi terdahulu. Allah akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hazrat Abu Bakar ra. mengurus umat Islam sesudah kewafatan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw.&#8221;</p>
<p>Sebelum Al-Wasiat terbit, terlebih dahulu sudah ada badan-badan yang mengurus masalah pekerjaan-pekerjaan, pendidikan dan tabligh, yakni yang mengurus sekolah-sekolah dan majalah. Kemudian untuk mengurus Bahesyti Maqbarah, tempat perkuburan tersebut, telah pula dibentuk sebuah badan baru. Namun atas permintaan beberapa murid beliau as, pada bulan Desember 1906, badan urusan wasiat atau Bahesyti Maqbarah itu diganti dengan sebuah lembaga yang mengurus sekolah-sekolah, majalah Review of Religions, Bahesyti Maqbarah tempat perkuburan itu, dan urusan-urusan lainnya. Yakni sebuah lembaga yang dinamakan Sadr Anjuman Ahmadiyah yang berpusat di Qadian.<br />
<strong><br />
Kewafatan Mirza Mubarak Ahmad</strong></p>
<p>Pada bulan September 1907, seorang putera Hazrat Ahmad as. yang bernama Mirza Mubarak Ahmad wafat dalam usia delapan setengah tahun, sesuai kabar ghaib yang telah disiarkan ketika anak itu lahir.</p>
<p>Sementara itu dalam tahun ini juga telah didirikan cabang-cabang Sadr Anjuman Ahmadiyah di kota-kota lain.<br />
<strong><br />
Tamu Dari Amerika</strong></p>
<p>Pada tahun 1907 itu telah datang tiga orang Amerika dua laki-laki dan seorang perempuan &#8212; ke Qadian untuk berjumpa dengan Hazrat Ahmad as.. Mereka lama berbincang-bincang dengan beliau as. dan beliau telah menjelaskan kepada mereka tentang kedatangan Nabi Isa yang kedua kalinya.</p>
<p><strong>Konferensi Agama Pihak Ariya</strong></p>
<p>Pada tahun 1907 itu juga telah timbul kekacauan dan huru-hara di daerah Punjab. Oleh sebab itu Hazrat Ahmad as. menganjurkan kepada Jemaat beliau agar tetap setia kepada pemerintah. Dan di beberapa tempat Jemaat Ahmadiyah bekerja semata-mata untuk mencegah dan mengamankan huru-hara tanpa mengharapkan suatu apapun.</p>
<p>Pada bulan Desember 1907, orang-orang Ariya di Lahore menyelenggarakan konferensi agama, dan mengundang pihak-pihak dari agama lainnya. Mereka menetapkan sebuah persyaratan, bahwa para pengikut suatu agama tidak boleh menyerang agama lain dan mereka sendiri pun berjanji akan mentaati persyaratan itu. Mereka minta pula Hazrat Ahmad as. untuk menghadiri konferensi itu. Ketika itu beliau as. mengatakan bahwa beliau merasakan adanya tipu muslihat dalam rencana tersebut. Namun Hazrat Ahmad as tetap menyiapkan sebuah karangan untuk dibacakan dalam acara itu.</p>
<p>Dalam karangan itu Hazrat Ahmad as. mengajak kaum Ariya ke arah perdamaian, dan dengan sangat halus beliau memaparkan keindahan-keindahan Islam pada mereka. Sekitar 500 orang dari Jemaat kita membeli karcis untuk menghadiri konferensi itu. Dan karena mengikuti kita, banyak orang Islam lainnya yang turut menghadiri konferensi itu.</p>
<p>Dalam ceramah orang-orang Ariya, mereka sangat mencaci Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw. dengan cara kotor dan menggunakan kata-kata yang sangat buruk. Kami semua mendengarkan pidato-pidato orang Ariya dengan tenteram menurut ajaran Islam, dan tidak ada yang memperlihatkan bahwa kita ditipu oleh mereka.</p>
<p><strong>Kunjungan Sir Wilson ke Qadian</strong></p>
<p>Pada tanggal 21 Maret 1908, Sir Wilson sebagai Financial Commissioner propinsi Punjab berkunjung ke Qadian. Hazrat Ahmad as. memerintahkan warga Ahmadi menyambut dan menghormati Sir Wilson, serta menyediakan sebuah kemah di lapangan sekolah, dan memberikan jamuan kepadanya.</p>
<p>Para penentang Hazrat Ahmad sudah lama menyebarluaskan isu bahwa beliau anti pemerintah, sebab tidak suka bergaul dengan para pembesar negeri. Maka dengan amal perbuatan nyata beliau as. telah membersihkan tuduhan itu. Hazrat Ahmad as. sendiri beserta tujuh atau delapan tokoh Ahmadi lain pergi menemui tamu tersebut. Sir Wilson pun menerima Hazrat Ahmad as. dengan sangat hormat di depan pintu kemahnya, dan menanyakan berbagai hal tentang Jemaat Ahmadiyah.</p>
<p>Satu hal yang penting dalam pembicaraan tersebut ialah tentang Muslim League yang baru saja didirikan pada waktu itu. Para pembesar pemerintah Inggris waktu itu sangat menyetujui anggaran dasar partai Muslim League tersebut, dan menganggap bahwa partai ini benar-benar akan dapat menjauhkan kesalahan-kesalahan yang ditimbulkan oleh partai Kongres.</p>
<p>Bahkan ada juga para pembesar negeri yang dengan halus menganjurkan tokoh-tokoh terkemuka dan rakyat untuk masuk ke dalam partai tersebut. Sir Wilson pun menceritakan tentang Muslim League ke Hazrat Ahmad as. dan menanyakan tanggapan beliau as.. Hazrat Ahmad as. menerangkan, beliau tidak begitu menyetujuinya. Sir Wilson memuji lagi lembaga itu. Hazrat Ahmad as. menerangkan bahwa lembaga itu dapat membahayakan. Sir Wilson menyatakan, lembaga ini jangan disamakan dengan partai Kongres, karena dari permulaan pun telah kelihatan bahwa partai Kongres akan melampaui batas-batas yang diinginkan, tetapi lembaga yang satu ini telah didirikan atas undang-undang dan peraturan yang sedemikian rupa sehingga tidak akan menyerupai partai Kongres.</p>
<p>Seorang murid Hazrat Ahmad as. bernama Khwaja Kamaluddin &#8212; yang mendirikan Woking Mission dan menerbitkan majalah Muslim India &#8212; juga menyatakan persetujuannya atas keteranngan Sir Wilson. Ia menerangkan bahwa ia pun ikut menjadi anggota partai tersebut karena undang-undang dasarnya bagus dan jauh dari bahaya.</p>
<p>Tetapi Hazrat Ahmad as. menjawab, &#8221; Saya merasa lembaga ini pun nanti pada suatu waktu akan menyerupai partai Kongres, dan caranya ikut campur dalam politik negeri akan berbahaya juga.&#8221;</p>
<p>Kini setiap orang yang memperhatikan masalah politik dapat menyaksikan kebenaran ucapan Hazrat Ahmad as. yang telah menjadi sempurna itu.</p>
<p><strong>Perjalanan Terakhir</strong></p>
<p>Pada tanggal 27 April 1908, berhubung karena sakitnya ibu kami, Hazrat Mu&#8217;minin (istri Hazrat Ahmad as., yang bernama Nusrat Jahan Begum ra. -pen.), beliau akan berangkat ke Lahore. malam itu beliau as. mendapat ilham :</p>
<p><em>Janganlah mengabaikan permainan zaman1</em></p>
<p>Hazrat Ahmad as. menerangkan bahwa ilham ini mengisyaratkan pada suatu peristiwa yang akan menyedihkan. Justru pada malam itu juga, adik kami, Mirza Syarif Ahmad jatuh sakit. Namun Hazrat Ahmad as. tetap memaksakan untuk berangkat.</p>
<p>Ketika sampai di Batala &#8212; stasiun kereta api terdekat dari Qadian &#8212; pada waktu itu diketahui bahwa karena ada huru-hara di perbatasan, hanya sedikit kereta api yang digunakan untuk keperluan umum. Maka Hazrat Ahmad as. terpaksa menunggu dua tiga hari di Batala, kemudian barulah diperoleh sebuah gerbong bagi beliau as.. Dan beliau menceritakan kepada kami anggota keluarga, bahwa beliau mendapat ilham yang menakutkan, dan juga mendapat beberapa hambatan di perjalanan. Oleh karena itu beliau as. menetapkan untuk sementara waktu menetap dulu di Batala dan memanggil seorang dokter perempuan.</p>
<p>Tetapi istri beliau as. meminta supaya tetap melanjutkan perjalanan ke Lahore. Setelah dua tiga hari, beliau as. meneruskan perjalanan ke Lahore. Kedatangan Hazrat Ahmad as di Lahore menimbulkan keributan besar. Dan sebagaimana biasanya, para ulama berkumpul untuk menentang beliau as.</p>
<p>Di sebuah lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah tempat Hazrat Ahmad as. menginap, setiap hari dari jam empat sore sampai jam sembilan malam para penentang itu menyelenggarakan pidato-pidato yang menghina dan mencaci maki beliau as. dengan kata-kata kotor. Para murid beliau as. yang terpaksa harus melalui kawasan itu, menyatakan keprihatinan atas kata-kata kotor para penentang tersebut. Hazrat Ahmad as. memberi nasihat kepada murid-murid beliau bahwa cacian dan kata-kata kotor itu sedikit pun tidak merugikan kita, maka jangan perdulikan hal itu, bahkan tidak perlu memandang ke arah itu.</p>
<p>Oleh karena Hazrat Ahmad as. akan menetap agak lama di Lahore, maka orang-orang Ahmadi dari kota-kora lain pun banyak berdatangan dan berkumpul di Lahore. Setiap waktu ramai orang yang datang untuk berjumpa dengan beliau as..</p>
<p>Umumnya orang-orang kaya di seluruh dunia kurang memberikan perhatian agama. Maka untuk menyampaikan tabligh kepda orang-orang kaya di Lahore, Hazrat Ahmad as. melalui seorang hartawan yang telah beriman kepada beliau as. mengundang orang-orang kaya lainnya dala sebuah jamuan khusus. Sebelum jamuan disajikan, Hazrat Ahmad as menyampaikan sebuah pidato yang agak panjang. Baru satu jam beliau as. berbicara, sudah ada seorang dari hadirin yang menyatakan kebosanannya. Tetapi hadirin lainnya segera membantah dan mendesak supaya santapan rohani itu dilanjutkan. Maka Hazrat Ahmad as. pun meneruskan pidato beliau setengah jam lamanya.</p>
<p>Ada yang salah paham tentang pidato tersebut, bahwasanya hazrat Ahmad as. telah menarik kembali penda&#8217;waan beliau sebagai nabi. Dan berita yang berisikan kesalah- pahaman itu dicetak pula oleh sebuah surat kabar bernama Akbhar-e-Aam Lahore.</p>
<p>Hazrat Ahmad as. pun segera membantah berita yang salah itu dan menyiarkan sebuah karangan yang berjudul Ek Ghalathy Ka Izalah, yakni memperbaiki suatu kesalahan. Beliau as. menjelaskan :</p>
<p>        &#8220;Saya memang menda&#8217;wakan sebagai nabi dan sama sekali tidak pernah menarik kembali penda&#8217;waan itu. Hanya saja saya tidak membawa syariat baru, dan tetap hanya satu syariat saja, yang dibawa oleh Junjungan yang Mulia Nabi Muhammad saw..&#8221;</p>
<p><strong>Kewafatan Hazrat Ahmad as.</strong></p>
<p>Hazrat Ahmad as. sering terserang penyakit diare, dan kali ini setelah tiba di Lahore penyakit ini menyerang dengan lebih hebat lagi. Orang-orang tidak henti-hentinya datang menjumpai beliau, sehingga beliau tidak dapat waktu yang cukup untuk istirahat. dalam keadaan sakit demikian beliau as. menerima sebuah ilham :</p>
<p><em>Waktu berangkat telah tiba, lalu waktu untuk berangkat telah tiba2</em></p>
<p>Ilham ini menimbulkan kekhawatiran pada banyak orang. Lalu datang pula sebuah berita dari Qadian bahwa seorang Ahmadi mukhlis disana telah wafat. Sebagian orang mulai menganggap bahwa ilham tersebut berkenaan dengan Ahmadi yang telah wafat itu. Tetapi Hazrat Ahmad as. menjelaskan bahwa ilham itu adalah tentang seseorang yang terkemuka dalam Jemaat Ahmadiyah, dan bukan tentang orang yang telah wafat tersebut.</p>
<p>Karena perasaan yang ditimbulkan oleh ilham itu, Hazrat Ummul Mu&#8217;minin mengajak Hazrat Ahmad as. pulang ke Qadian. Hazrat Ahmad as. menjawab :</p>
<p>        &#8220;Sekarang saya tidak kuasa lagi untuk pulang, dan jika Allah mau membawa nanti, saya dapat juga sampai ke Qadian.&#8221;</p>
<p>Meski pun beliau telah menerima ilham itu dan dalam keadaan sakit, Hazrat Ahmad as. tetap saja sibuk dalam pekerjaan beliau. Dalam keadaan sakit itu beliau merencanakan sebuah pidato untuk menimbulkan kecintaan dan perdamaian antara Hindu dan Muslim. Hazrat Ahmad as. mulai menulis pidato tersebut, yang diberi nama Peygham-e-Suluh yang artiinya : Himbauan ke Arah Perdamaian.</p>
<p>Pekerjaan ini semakin melemahkan tubuh belaiu as. dan penyakit buang-buang air pun bertambah parah. Sebelum karangan pidato tersebut selesai, pada malam hari itu Hazrat Ahnad as. mendapat ilham dalam bahasa Farsi :</p>
<p><em>Janganlah menyandarkan diri pada umur yang tidak kekal3<br />
</em><br />
Hazrat Ahmad as. menyampaikan ilham ini kepada anggota keluarga beliau, dan menerangkan bahwa, &#8220;Ilham ini adalah tentang diri saya.&#8221;</p>
<p>Keesokan harinya naskah pidato itu telah selesai dan diserahkan untuk dicetak. Setelah itu pada waktu malam, penyakit Hazrat Ahmad as. semakin parah dan sangat melemahkan tubuh beliau. Hazrat Ummul Mu&#8217;minin bangun dan terkejut melihat keadaan beliau as. yang sudah benar-benar lemah, lalu menanyakan kenapa. Hazrat Ahmad as. menjawab, &#8220;Sekarang saat kewafatan saya sudah tiba.&#8221;</p>
<p>Kemudian beliau as. buang air lagi, dan kondisi beliau menjadi sangat lemah. Beliau memerintahkan agar memanggil Hazrat Mlv. Nuruddin ra. (tabib yang ahli dan seorang Ahmadi Mukhlis). Kemudian beliau as. meminta agar membangunkan Mahmud (penulis buku ini) dan Mir sahib (mertua beliau as.)</p>
<p>Tempat tidur saya tidak jauh dari tempat tidur beliau as.. Saya pun bangun dan melihat keadaaan beliau yang sangat gelisah. Para dokter telah datang, dan mulai mengobati beliau. Tetapi obat-obat itu tidak dapat menolong. Akhirnya beberapa obat diberikan melalui suntikan, dan beliau pun dapat tertidur. Pada waktu Subuh, Hazrat Ahmad as. terbangun dari tidur, dan melaksanakan shalat Subuh. Suara beliau as serak, sehingga sulit berbicara. Kemudian beliau meminta pena dan tinta untuk menulis sesuatu, tetapi karena terlalu lemah, Beliau tidak mempu memegang pena lagi dan tidak dapat menulis. beliau pun merebahkan diri di atas tempat tidur. Tidak lama kemudian tampak beliau as. seperti tertidur.</p>
<p>Pada tanggal 26 Mei 1908, pukul 10:30 pagi Hazrat Ahmad as. Telah mengkhidmati agama-Nya. Innaa lillahi wa innaa illayhi roji&#8217;uwn.</p>
<p>Sewaktu sakit, hanya satu perkataan yang selalu beliau ucapkan, yaitu &#8220;Allah&#8221;.</p>
<p>Kabar tentang kewafatan Hazrat Ahmad as. dengan cepat tersebar keseluruh Lahore. Jemaat Ahmadiyah di tempat-tempat lain -pun diberitahukan dengan telegram pada petang hari itu dan esok harinya, surat-surat kabar diseluruh India memuat berita tentang kewafatan beliau as..</p>
<p>Selama hidup, Hazrat Ahmad as. senantiasa bersikap halus dan sopan terhadap musuh-musuh beliau. Akan tetapi ketika beliau as. wafat, para musuh beliau memperlihatkan kebencian dan dendam mereka, dengan melakukan berbagai macam perbuatan yang hina.</p>
<p>Setengah jam setelah kewafatan beliau as., sebuah rombongan besar orang-orang yang tidak senang terhadap beliau as. telah berkumpul didepan rumah tempat tinggal beliau di Lahore. Mereka berteriak dan bersorak-sorak, serta melakukan berbagai macam tindakan yang menampakan kekotoran batin mereka.</p>
<p>Jemaat Hazrat Ahmad as. sangat mencintai beliau. Mereka menyaksikan jenazah beliau di hadapan mereka. Namun karena kecintaan yang tinggi, mereka hampir tidak sudi menerima kenyataan bahwasanya beliau as. telah wafat, berpisah dari mereka untuk selama-lamanya. Murid-murid Nabi Isa Israili dahulu sangat heran melihat Nabi Isa as. masih tetap hidup setelah disalib. Tetapi murid-murid Masih Mau&#8217;ud as. yang sekarang justru sangat heran melihat beliau as. telah wafat. Seribu tiga ratus tahun sebelumnya, ketika Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw. &#8212; Khaataman Nabiyyin, penghulu sekalian Nabi &#8212; telah wafat, seorang penyair Muslim pernah mengungkapkan perasaan hatinya sebagai berikut:<br />
<em><br />
Engkau lah biji mataku,</p>
<p>        kewafatanmu telah menghilangkan penglihatanku;</p>
<p>        kini setelahmu, siapa pun yang meninggal aku tidak perduli,</p>
<p>        sebab hanya kewafatnmu lah yang daku risaukan.</em></p>
<p>Kini setelah 1300 tahun, kita menyaksikan lagi keadaan semacam itu atas wafatnya Hazrat Ahmd as. &#8212; seorang murid Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw. Orang-orang yang telah beriman kepada Hazrat Ahmad as. sangat berduka dan bersedih hati atas kewafatan beliau. Seolah-olah dunia telah menjadi gelap bagi mereka. Hingga sekarang pun mereka tetap berduka demikian di dalam hati. Walaupun sudah seabad mereka tidak akan dapat melupakan suasana tersebut &#8212; tatkala Rasul Allah, Hazrat Ahmad as. yang mereka cintai itu masih hidup dan bergaul dengan mereka. Kedukaan hati dapat mempengaruhi dan menggelisahkan manusia. Saya pun sewaktu , menceritakan keawafatan Hazrat Masih Mau&#8217;ud as. ini telah jauh bergeser dari pokok pembahasan.</p>
<p>Saya telah ungkapkan tadi bahwa Hazrat Ahmad as. wafat pada pukul 10:30 pagi. Kemudian segera diatur segala yang perlu untuk membawa jenazah beliau as. ke Qadian. Dengan kereta api sore, pada hari itu juga, jenazah beliau as. disertai rombongan besar Jemaat Ahmadiyah, diberangkatkan ke Qadian. Demikianlah telah sempurna ilham beliau as. (dalam bahasa Urdu berikut ini) yang telah dicetak sebelumnya :</p>
<p><em> Jenazahnya telah dibawa dengan terbungkus kain kafan4.</em></p>
<p>Setelah turun di stasiun Batala, jenazah Hazrat Ahmad as. diusung sampai ke Qadian. Sebelum beliau dikebumikan Jemaat yang berada di Qadian dan ratusan wakil Jemaat Ahmadiyah dari tempat-tempat lainnya dengan sepakat telah mamilih Hazrat Haji Maulvi Nuruddin sebagai pengganti beliau as. dan sebagai Khalifatul Masih Awwal. Dan mereka pun bai&#8217;at kepadanya. Demikianlah kabar ghaib yang tercetak di dalam buku Al-Wasiat Hazrat Ahmad as. telah menjadi sempurna:</p>
<p>        &#8220;Allah Taala akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hazrat Abu Bakar ra. mengurus umat Islam sesudah kewafatan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw..&#8221;</p>
<p>Kemudian Hz. Khalifatul Masih Awwal ra. memimpin shalat jenazah Hazrat Ahmad as.. Dan setelah Zuhur, jenazah hazrat Ahmad as. dikebumikan.</p>
<p>Demikian pula telah sempurna ilham Hazrat Ahmad as. yang beliau terima pada bulan Desember 1907, dan yang telah dicetak sebelumnya:</p>
<p><strong>Sebuah peristiwa pada tanggal 275.</strong></p>
<p>Hazrat Ahmad as. wafat pada tanggal 26 Mei 1908, dan dikebumikan di Qadian pada tanggal 27 Mei 1908. Selain ilham tersebut, ada lagi ilham (dalam bahasa Farsi) yang menjelaskan hal itu:</p>
<p><em>Telah tiba saatnya6.</em></p>
<p>Pada perstiwa kewafatan Hazrat Ahmad as., seluruh surat kabar berbahasa Inggris maupun Urdu di India &#8212; walau memusuhi &#8212; juga mengakui bahwa beliau as. adalah seorang tokoh besar zaman sekarang ini.</p>
<p>Penulis<br />
HM Basyiruddin MA<br />
Muslih Mau&#8217;ud</p>
<p>Sumber</p>
<p>http://ahmadiyya.or.id/</p>
<p>http://ahmadiyah.info/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=84&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/10/riwayat-singkat-pendiri-ahmadiyah-bagian-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pandangan Tokoh Islam Indonesia tentang Ahmadiyah</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/pandangan-tokoh-islam-indonesia-tentang-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/pandangan-tokoh-islam-indonesia-tentang-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 15:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jamaah Ahmadiyah Internasional yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani pada tahun 1889 di Qadian India. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad kami yakini adalah Almasih dan Imam Mahdi yang kedatangannya telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Keyakinan tentang datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa di akhir Zaman adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=75&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jamaah Ahmadiyah Internasional yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani pada tahun 1889 di Qadian India. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad kami yakini adalah Almasih dan Imam Mahdi yang kedatangannya telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Keyakinan tentang datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa di akhir Zaman adalah keyakinan seluruh umat Islam dari golongan manapun. Tugasnya adalah menghidupkan kembali agama Islam dan menegakkan kembali syariat Islam.</p>
<p>Jemaat Ahmadiyah pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1925, diundang oleh Persatuan Mahasiswa Jawa Sumatra di India ketika itu, yang akhirnya Maulana Rahmat Ali HAOT merupakan Muballigh pertama yang diutus ke Indonesia oleh Hadhrat Al-Hajj Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad rh., Khalifah Ahmadiyah ketika itu.</p>
<p>Jemaat Ahmadiyah berperan aktif dalam proses pendirian NKRI dan salah seorang anggotanya, Sayyid Shah Muhammad adalah Ketua Panitia Pemulihan Pemerintahan RI. Beliau mendapat bintang jasa kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya.</p>
<p>Jemaat Ahmadiyah Indonesia dikukuhkan ber-Badan Hukum sesuai bunyi Lembaran Berita Negara no. 26 tahun 1953 dengan penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 tanggal 13 Maret 1953. Pandangan beberapa tokoh bangsa dan tokoh Islam Indonesia terhadap Ahmadiyah antara lain:</p>
<p>1. <strong>Prof. Dr. Hamka</strong>, tidak asing lagi bagi masyarakat kita, seorang alim terkemuka, berpengaruh dan termasuk orang yang menentang Ahmadiyah. Namun demikian Prof. Dr. Hamka “DIPAKSA” oleh hati nuraninya untuk berkata dan menulis tentang KEBENARAN dan Jasa Ahmadiyah seperti berikut:</p>
<p>“Adapun Kaum Ahmadi (Ahmadiyah) dan Usahanya Menyebarkan Islam di benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka Menafsirkan Qur’an ke dalam bahasa-bahasanya yang hidup di Eropa. Padahal di zaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh menafsirkan Qur’an. Penafsiran Qur’an dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang Menginginkan Kebangkitan Ajaran Muhammad kembali buat memperdalam selidiknya tentang Islam … ” [Pelajaran Agama Islam, hal. 199, cetakan pertama 1956, Penerbit Bulan Bintang].</p>
<p>2. Dr. H Abdul Karim Amarullah alias haji Rasul, ayahanda Dr. Hamka, salah satu ulama terkemuka di negara kita pada zamannya dan PENENTANG PERTAMA Mubaligh Ahmadiyah di Sumatera Barat tahun 1925/1926. Sekalipun memusuhi Ahmadiyah namun beliau TIDAK SEGAN MEMUJI DAN MENGAKUI JASA DAN UPAYA Ahmadiyah meng-Islamkan kaum Keristen. Beliau mengatakan dalam sebuah bukunya [Al-Qaulush- Shahih hal. 149, Bukit Tinggi, 1926]:<br />
<strong>“Di atas nama Islam dan kaum Muslimin sedunia kita memuji sungguh kepada pergerakan Ghulam Ahmad tentang mereka banyak menarik kaum Nasrani (Keristen) masuk agama Islam di tanah Hindustan dan lain- lain tempat …</strong></p>
<p>3. Dalam Almanak Muhammadiyah hal. 42 tahun 1347 Hijriah; “Mubaligh-mubaligh Ahmadiyah telah bermukim di Barat sangat keras mengembangkan agama Islam dan meratakan pengajarannya, begitullah berangsur-angsur terus menerus yang datang pada kemudiannya, hingga di antara mubaligh itu ada yang menuju pusatnya kaum Keristen di tanah Roma, Italia dan hendak di-Islamkannya …</p>
<p>4.<strong> H. Agus Salim dan H.O.S Cokroaminoto </strong>“Kongres Serikat Islam 26-29 januari 1928 di Jogjakarta memperingati hari S.I. 15 tahun. Sebagai dimaksudkan dahulu itu, diadakan juga Majelis Ulama itu, tetapi Muhammadiyah tidak mau turut duduk di Majelis itu sebenarnya Majelis S.I. adanya, jadi di luar organisasi ini, tidak mempunyai kekuasaan apa-apa. Di Kongres itu dibicarakan juga tafsir Qur’an yang sedang dikerjakan oleh Cokroaminoto. Dari penerbitan-penerbit an pertama, ternyatalah bahwa tafsir itu didasarkan atas Tafsir Ahmadiyah. Lantran ini timbullah dalam kalangan sendiri perlawanan yang keras. Salim menerangkan, bahwa dari segala jenis tafsir Qur’an, yaitu dari kaum kuno, kaum Muktazilah, ahli sufi dan golongan moderen (di antaranya Ahmadiyah, Wahabi baru, dan kaum Theosofi), Tafsir Ahmadiyah-lah yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia yang terpelajar”. [Mr. A.K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakkan- pergerakan Rakyat Indonesia, 1946, cetakan kelima, halaman 47, Penerbit Pustaka Rakyat]</p>
<p>5.<strong> Prof. Dr. Hasbullah Bakry</strong>; Seorang penulis terkenal, Ulama dan Guru Besar Hukum Islam dan Perbandingan Agama. “Akhirulkalam kami berpendapat Ghulam Ahmad adalah ulama besar seperti ulama besar lainnya sedangkan pengikutnya adalah umat Islam tanpa perlu diragukan Islamnya, dan salah besar mereka yang menganggap kafir. Semoga Allah SWT. menguatkan selanjutnya pendapat kami ini dengan menggerakkan para ulama lainnya dalam membelanya, amin”. [Pedoman Islam di Indonesia, hal. 441, cetakan ke lima 1990, Penerbit Universitas Indonesia, Press).<br />
6.<strong>. Ir. Soekarno (Presiden RI Pertama)</strong> “Ahmadiyah adalah besar pengaruhnya, juga di luar India. Ia bercabang di mana-mana, ia menyebarkan banyak perpustakaannya ke mana-mana. sampai di Eropa dan Amerika orang baca ia punya buku- buku, sampai di sana ia sebarkan punya propagandis- propagandis. Corak ia punya Sistem adalah memprogandakan Islam dengan cara apologetis, yakni mempropagandakan Islam dengan mempertahankan Islam itu terhadap serangan-serangan dunia Nasrani; mempropagandakan Islam dengan membuktikan kebenaran Islam di hadapan kritikannya dunia Nasrani, ya … Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam mempropagandakan Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya. </p>
<p>7.<strong> Prof. Dr. Amien Rais</strong> ( Mantan Ketua MPR RI/PP Muhamadiyah ). “Ahmadiyah bukan gerakan politik. Beberapa stasiun televisi mereka di Eropa hanya bicara tentang ajaran,Islam, akhlak, dan ekonomi.Di Pakistan mereka tetap eksis. Mereka naik haji ke Mekkah dan Madinah,juga tetap salat lima waktu. Bahkan setahu saya, banyak jenderal angkatan laut, darat, dan udara di Pakistan orang Ahmadiyah. Bahkan pemenang Nobel Fisika, Dr Abdussalam, juga orang Ahmadiyah. Jadi mereka itu sekumpulan orang intelektual. Bahkan, kalau mau jujur, yang menyiarkan agama Islam di Eropa, ya, orang-orang Ahmadiyah lewat stasiun televisi dan stasiun radio. (Majalah Tempo, 28 April 2008)<br />
.<br />
8. Forum Kyai Peduli Khittah Nahdatul Ulama. Kiai-kiai sepuh yang tergabung dalam Forum kyai Peduli Khittah Nahdatul Ulama 26 Cirebon menyatakan sikap menolak rekomendasi tersebut. Mereka menyayangkan sikap Bakorpakem yang menyatakan ajaran Ahmadiyah. sesat, tanpa terlebih dulu mengetahui pengertian sesat menurut agama. “Nanti jangan-jangan semua aliran Islam yang masih ada oleh Bakorpakem dinyatakan sesat,” ujar KH Syarif Usman Yahya. (Tribun Timur.com, 24 April 2008).</p>
<p>9. <strong>Prof. Dr. Dakwam Rahardjo,</strong> Tokoh Muhamadiyah Padahal Ahmadiyah sendiri tidak menganggap dirinya sebagaikelompok non-Muslim. Mereka hanya mengaku sebagai sebuah sekte atau mazhab dalam Islam. Bahkan mereka juga menganggap diri mereka sebagai salah satu bentuk danmanifestasi gerakan kebangkitan Islam pada abad ke-19.</p>
<p>10. Adnan Buyung Nasution pengacara senior……………</p>
<p>11. Din Syamsudin Ketua PP Muhammadiyah</p>
<p>12. Todung Mulya Lubis ( Pengacara Senior ) Pernyataan yang menuding Ahmadiyah sesat adalah pernyataan arogan, Negara tidak punya hak masuk domain pribadi. Kita akan melawan setiap pembubaran organisasi. (Detiknews.com, 04 Mei 2008).</p>
<p>13. Goenawan Muhamad (Redaktur Senior Tempo) SKB Ahmadiyah jangan dikeluarkan karena bertentangan dengan kebebasan beragama . Jika Ahmadiyah dibubarkan , satu lagi bagian penting Negara dikhianati (Detiknews.com, 04 Mei 2008).</p>
<p>14. Yudi Latif – Hasil Survey PSIK Paramadina.Mayoritas warga menyatakan Ahmadiyah berhak hidup di Indonesia (Kompas online, 22 April 2008).</p>
<p>15. Ade Armando ( Mantan Wartawan Republika/ Pemred Majalah Madina) “Ahmadiyah itu sudah ada di Indonesia sejak 1920an. Pernahkah kita mendengar mereka melakukan aksi kekerasan dan menyerang pihak lain? Tidak. Dan ini bisa dijelaskan dengan merujuk pada salah satu dasar ajaran Ahmadiyah. Mereka memang anti menggunakan kekerasan untuk memperjuangkan Islam. Istilah jihad dalam komunitas Ahmadiyah dipercaya sebagai penyebaran ajaran dengan cara dakwah dan persuasif. (Majalah Madina)</p>
<p>16. Sobri Lubis ( Sekjen FPI ) “Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! Ahmadiyah halal darahnya! Persetan HAM! Tai kucing HAM! Allahu Akbar” ( Video Tablig Akbar, FUI, Banjar , 14 Feb 2008)</p>
<p>17.<strong> Maftuh Basyun</strong>i ( Menteri Agama RI Menag mengecam keras pelaku pembakaran Masjid Ahmadiyah. Dia menilai aksi pembakaran tersebut adalah tindak kejahatan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang berakal sehat.”Itu satu kejahatan yang harus dibasmi .( Media Indonesia, 30 April 2008).</p>
<p>18. Tersangka Pembakar Mesjid Ahmadiyah Tidak Ditahan karena jaminan MUI (Antara News, 29 April 2008)</p>
<p>19. <strong>Hamka Haq </strong>( Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia)Pelarangan dan aksi kekerasan atau ancaman terhadap jemaat Ahmadiyah merupakan tindakan yang melanggar konstitusi. kontroversi soal Ahmadiyah hanya merupakan perbedaan penafsiran,   tidak ada perbedaan keyakinan yang prinsipil. Dia juga menyatakan <strong>Fatwa MUI yang melarang dan mengharamkan Ahmadiyah dikatakannya tidak tepat.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=75&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/pandangan-tokoh-islam-indonesia-tentang-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ahmadiyah : Pendiri Ahmadiyah : Shalat menuntun manusia kepada Tuhan</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-shalat-menuntun-manusia-kepada-tuhan/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-shalat-menuntun-manusia-kepada-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 11:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Para Pemimpin Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyat]]></category>
		<category><![CDATA[Ahnadiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Setelah memahami makna daripada Tidak ada yang patut disembah selain Allah selanjutnya laksanakanlah shalat sepenuh hati karena mengenai ini selalu ditekankan kewajibannya oleh Al-Qur’an seperti pada ayat: &#8220;Maka celakalah mereka yang bersembahyang, tetapi lalai dari sembahyang mereka&#8221; (S.107 Al-Maun:5-6). Patut kiranya dimengerti bahwa yang namanya shalat itu adalah bentuk permohonan yang diajukan oleh seorang pengabdi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=70&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah memahami makna daripada Tidak ada yang patut disembah selain Allah selanjutnya laksanakanlah shalat sepenuh hati karena mengenai ini selalu ditekankan kewajibannya oleh Al-Qur’an seperti pada ayat:</p>
<p>&#8220;Maka celakalah mereka yang bersembahyang, tetapi lalai dari sembahyang mereka&#8221; (S.107 Al-Maun:5-6).</p>
<p>Patut kiranya dimengerti bahwa yang namanya shalat itu adalah bentuk permohonan yang diajukan oleh seorang pengabdi kepada Tuhan pada saat ia merasakan kesedihan karena merasa terpisah dari Wujud-Nya. Dengan hati yang mencair ia memohon dapat diizinkan bertemu dengan Tuhan-nya, karena tidak ada yang bisa disucikan kecuali Tuhan mensucikannya dan tidak ada yang dapat bertemu dengan Tuhan hingga Dia berkenan.</p>
<p>Manusia terbelenggu oleh berbagai kekang rantai dan jerat leher. Ia menginginkan kebebasan tetapi belenggu-belenggu tersebut tetap menjerat. Seberapa besarnya niat manusia menginginkan kesucian namun jiwanya yang sangat menyesali (nafs lawwamah) masih juga terkadang tergelincir. Hanya rahmat Tuhan saja yang bisa mensucikan manusia dari dosa. Tidak ada kekuasaan yang dapat mensucikan kalian berdasar daya kekuatan sendiri semata. Tuhan sudah memberikan jalan berupa shalat guna menumbuhkan perasaan-perasaan yang suci. Shalat merupakan doa yang diajukan kepada Allah s.w.t. saat merasakan kegalauan dengan hati yang terbakar sedemikian rupa sehingga segala pikiran keji dan jahat bisa dienyahkan dan sebagai gantinya muncul hubungan suci dengan Allah s.w.t. melalui pelaksanaan firman-firman Tuhan.</p>
<p>Arti kata shalat itu sendiri mengindikasikan bahwa doa hakiki tidak semata diutarakan oleh lidah saja, tetapi juga harus disertai rasa seperti kalbunya itu solah-olah terbakar dan terpanggang dalam api. Allah s.w.t. tidak akan menerima doa hamba-Nya kecuali yang bersangkutan pada saat berdoa itu seolah-olah mengalami kematian.</p>
<p>Sesungguhnya shalat merupakan doa dalam bentuknya yang paling luhur, tetapi manusia tidak menyadarinya. Di zaman ini banyak sekali umat Muslim yang melakukan pengulangan rumusan-rumusan kesalehan seperti halnya kaum tarekat Naushahi dan Naqshbandi1 dan lain-lain. Sayang sekali tidak ada dari mereka yang menyadari bahwa ajaran mereka tidak sepenuhnya bersih dari segala bid&#8217;ah. Mereka ini tidak menyadari realitas shalat dan karenanya mengecilkan arti firman-firman Allah s.w.t. Bagi seorang pencari tidak ada dari bid=ah-bid=ah tersebut yang bermanfaat dibandingkan dengan shalat sendiri. Cara yang diperlihatkan Hazrat Rasulullah s.a.w. ialah ketika sedang menghadapi kesulitan maka beliau mengambil air wudhu, lalu menegakkan shalat dimana segala doa beliau panjatkan saat shalat tersebut. Pengalamanku sendiri mengatakan bahwa tidak ada yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah s.w.t. kecuali melalui shalat.</p>
<p>Berbagai sikap yang dilakukan saat shalat menggambarkan rasa hormat, rendah hati dan kelembutan. Dalam Qiyam (sikap berdiri tegak) si pelaku shalat berdiri sopan dengan kedua tangan terlipat di dada laiknya seorang hamba yang berdiri takzim di hadapan tuan atau rajanya. Dalam sikap Ruku (membungkukkan tubuh) si pelaku shalat membungkukkan dirinya dengan segala kerendahan hati. Puncak dari kerendahan hati itu dicapai saat Sujud yang menggambarkan puncak rasa ketidak-berdayaan si penyembah. (Khutbah dalam Jalsah Salanah, 1906; hal. 6-8).</p>
<p>* * *</p>
<p>Lakukanlah shalat secara teratur. Ada orang-orang yang merasa cukup dengan melakukan shalat hanya sekali dalam sehari. Mestinya mereka menyadari bahwa tidak ada manusia yang dikecualikan dari ketentuan tersebut, tidak juga para Nabi. Ada diutarakan dalam sebuah Hadith bahwa sekelompok orang yang baru saja baiat ke dalam Islam, memohon kepada Hazrat Rasulullah s.a.w. agar mereka dibebaskan dari kewajiban melakukan shalat. Beliau berujar: &#8216;Agama yang tidak menentukan suatu kewajiban, bukanlah suatu agama sama sekali&#8217; (Malfuzat, vol. I, hal. 263).</p>
<p>* * *</p>
<p>Sekali lagi aku tekankan kepada kalian bahwa jika kalian ingin mencipta hubungan hakiki dengan Allah s.w.t., kerjakanlah shalat sedemikian rupa sehingga tubuh kalian, lidah kalian, ruhani kalian dan perasaan kalian semuanya menjadi perwujudan daripada shalat. (Malfuzat, vol. I, hal. 170).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Apakah shalat itu?</strong></p>
<p>Apakah shalat itu? Shalat adalah permohonan doa yang diajukan kepada Allah yang Maha Agung dimana tanpa itu maka seseorang tidak bisa sepenuhnya dianggap bisa hidup dan memperoleh sarana keamanan dan kebahagiaan. Hanya berkat Rahmat Ilahi saja maka manusia bisa memperoleh keselesaan hakiki. Dari sejak saat itu maka yang bersangkutan akan merasakan kenikmatan dan kesenangan daripada shalat.</p>
<p>Sebagaimana ia mendapat kenikmatan dari makanan lezat, ia pun akan memperoleh kenikmatan dari isak dan tangisnya saat shalat. Sebelum ia mencapai kondisi demikian dalam shalatnya itu, perlu kiranya ia bersiteguh dalam shalatnya tersebut sebagaimana halnya orang yang harus menelan obat pahit agar pulih kembali kesehatannya. Perlu baginya tetap runut melaksanakan shalat dan mengajukan doanya meski saat itu ia belum merasakan kenikmatannya. Dalam keadaan seperti itu, ia harus mencari kepuasan dan kesenangan dalam shalat melalui pengajuan doa berikut:</p>
<p>Ya Allah, Engkau melihat betapa butanya diriku dan saat ini aku sepertinya seperti orang yang sudah mati. Aku menyadari bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi aku ini akan kembali menghadap kepada-Mu dimana tidak ada seorang pun bisa mencegahnya. Namun hatiku ini buta dan belum mendapat pencerahan. Turunkanlah ke dalam hatiku nyala nur yang terang agar hatiku diilhami dengan kecintaan kepada-Mu dan pengabdian kepada Engkau. Berkatilah aku dengan Rahmat-Mu ini agar aku tidak dibangkitkan nanti dalam keadaan buta atau bersama mereka yang tidak melihat.</p>
<p>Jika ia berdoa dengan cara ini dan bersiteguh dalam doanya maka ia akan melihat satu waktu akan datang ia merasakan sesuatu turun ke dalam hatinya ketika ia sedang berdoa demikian yang akan meluluhkan hatinya. (Malfuzat, vol. IV, hal. 321-322).</p>
<p>* * *</p>
<p>&#8220;Dan mereka yang memelihara dengan ketat sembahyangnya&#8221; (S.23 Al-Muminun:10)</p>
<p>Makna daripada ayat ini ialah mereka yang beriman yang selalu menjaga keutuhan shalatnya dan tidak perlu diingatkan lagi oleh siapa pun. Hubungan mereka dengan Allah s.w.t. sedemikian rupa sehingga ingatan akan Wujud-Nya menjadi suatu hal yang amat berharga bagi mereka, menjadi sumber segala keselesaan dan bahkan hidup mereka itu sendiri. Karena itu mereka selalu menjaga ketat shalat mereka dan tidak pernah ingin meninggalkannya.</p>
<p>Jelas bahwa seseorang akan menjaga sesuatu jika ia menyadari bahwa kehilangannya akan menghancurkan hidupnya. Orang yang akan menempuh perjalanan di gurun yang diduga tidak memiliki mata air atau pun makanan dalam jarak ratusan kilometer, dengan sendirinya akan menjaga persediaan bekal miliknya seolah-olah nyawanya sendiri karena keyakinan bahwa kehilangan benda-benda itu berarti kehilangan nyawanya. Karena itu mukminin hakiki akan selalu menjaga keutuhan shalatnya seperti si petualang di atas. Mereka tidak akan mengabaikan shalatnya meski pun menghadapi risiko kehilangan kekayaan atau kehormatan atau pun mengundang ketidak-senangan orang lain. Setiap kekhawatiran akan kehilangan kesempatan bershalat menjadikan mereka menderita dan terasa seperti mau mati. Mereka tidak bisa memikul beban perasaan telah mengabaikan ingatan kepada Tuhan meski hanya sekejap saja. Mereka menganggap shalat dan dzikir kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan dimana tergantung nyawa mereka.</p>
<p>Kondisi seperti itu akan tercapai ketika Allah s.w.t. mengasihi mereka dimana nur terang dari Kasih-Nya turun ke dalam kalbu mereka dan memberikan suatu kehidupan baru bagi mereka sedemikian rupa sehingga ruhani mereka dicerahkan dan menjadi hidup. Dalam keadaan seperti itu, kesibukan mereka berdzikir dan mengingat Tuhan bukan lagi karena formalitas atau penampilan semata tetapi karena kesadaran bahwa Tuhan telah menjadikan kalbu mereka menjadi bergantung pada sumber makanan ruhani yang menjadi keniscayaan karena ingatan kepada Wujud-Nya sebagaimana halnya tubuh phisik bergantung pada makanan jasmani. Hal inilah yang menjadikan mereka lebih menyukai sumber makanan ruhani ini dibanding makanan jasmani dan mereka selalu ketakutan akan kehilangan hal itu.</p>
<p>Semua itu sebagai akibat dari ruh yang turun ke diri mereka laiknya sebuah nyala yang menimbulkan mabuk hakiki akan kecintaan kepada Tuhan dalam hati mereka. Mereka tidak ingin dipisahkan daripadanya meski hanya sekejap. Mereka siap menderita dan disiksa demi kedekatan demikian dan karenanya selalu menjaga ketat shalat mereka. Hal ini menjadi suatu yang alamiah bagi mereka bahwa shalat yang menjadi sarana keingatan kepada Tuhan lalu menjadi sumber makanan ruhani yang pokok. Manifestasi kecintaan Allah s.w.t. kepada mereka adalah dalam bentuk dzikir kepada Tuhan yang menyenangkan hati. Karena itulah dzikir kepada Tuhan lalu menjadi suatu hal yang amat berharga bagi mereka yang bahkan lebih berharga dari nyawa mereka sendiri. Kasih Allah s.w.t. merupakan jiwa baru yang turun ke hati mereka laiknya sebuah nyala cahaya dan menjadikan shalat serta dzikir sebagai sumber makanan keruhanian mereka. Mereka meyakini bahwa yang menghidupkan mereka bukanlah roti dan air semata tetapi adalah karena shalat dan dzikir kepada Allah s.w.t.</p>
<p><strong>Shalat memperkuat fitrat keruhanian</strong></p>
<p>Ingatan kepada Tuhan yang dilambari dengan rasa kasih yang juga disebut sebagai shalat, sesungguhnya telah menjadi makanan ruhani bagi mereka dimana mereka tidak akan bisa hidup tanpanya. Mereka menjaganya secara ketat seperti seorang petualang yang berada di tengah gurun menjaga persediaan makanan dan minuman mereka. Sang Maha Pengasih telah menentukan kondisi ini sebagai tahapan terakhir dari kemajuan ruhani seorang manusia.</p>
<p>Ingatan kepada Allah s.w.t. yang dilambari dengan rasa kasih yang secara tehnikal disebut sebagai shalat, sesungguhnya bagi seorang pengabdi telah menjadi substitusi dari makanan. Ia berulangkali berusaha mengurbankan raga phisikalnya guna memperoleh makanan ruhani ini dan tidak bisa hidup tanpanya seperti ikan tak mungkin hidup tanpa air. Ia menganggap keterasingan dari Tuhan-nya meski hanya sekejap sebagai maut itu sendiri. Jiwanya selalu bersujud di pintu gerbang Tuhan dan ia memperoleh kegembiraan dalam Tuhan-nya. Ia merasa yakin bahwa jika ia terpisah dari dzikir Ilahi meski hanya sekejap maka ia akan mati.</p>
<p>Sebagaimana makanan menimbulkan kesegaran di dalam tubuh dan memperkuat indera jasmani seperti daya penglihatan dan pendengaran, begitu pula dengan dzikir Ilahi yang dilambari dengan kasih dan pengabdian akan memperkuat fitrat keruhanian manusia. Dengan kata lain, matanya akan mampu melihat kashaf yang halus secara jelas, telinganya akan mendengar firman Allah s.w.t. dan lidahnya menjadi fasih memberikan ekspresi pada setiap kata-kata secara jernih dan memikat hati. Ia akan sering melihat ru&#8217;ya (mimpi) hakiki yang kemudian dipenuhi sebagaimana halnya fajar yang merekah. Karena hubungannya yang demikian dekat kepada Allah s.w.t. maka ia akan memperoleh banyak ru=ya hakiki yang menyampaikan kabar suka kepadanya. Inilah tahapan dimana seorang mukminin merasa bahwa kasih Allah cukup baginya sebagai sumber makanan yang menghidupi. Kelahiran baru ini mewujud setelah kerangka keruhanian dalam dirinya telah siap, dimana ruh yang menyala karena kasih Allah akan turun ke kalbu seorang mukminin dan kemudian mengangkatnya dengan tenaga penuh di atas derajat kemanusiaan biasa.</p>
<p>Tahapan inilah yang secara keruhanian disebut sebagai mahluk ciptaan baru. Pada tahapan demikian maka Allah s.w.t. akan menyebabkan nyala dahsyat dari kasih-Nya yang disebut sebagai ruh, untuk turun ke kalbu seorang mukminin yang memupus segala kegelapan, kekotoran dan kelemahan dirinya. Dengan hembusan nafas ruh tersebut maka kecantikan si mukminin yang tadinya amat rendah, lalu merona mencapai klimaksnya dan ia memperoleh keagungan ruhani dimana segala kecupatan pandangan akan pupus sama sekali dan si mukminin merasa ada ruh baru memasuki dirinya yang tadinya tidak pernah ada. Ia kemudian memperoleh rasa ketenangan dan kepuasan hakiki melalui ruh tersebut. Rasa kasihnya akan membeludak seperti air mancur dan mengairi pohon pengabdiannya. Api yang tadinya panas suam-suam, pada tahapan ini akan membara yang membakar segala jerami dan serpihan ego dirinya serta membawanya di bawah kendali total Ilahi yang mencakup keseluruhan anggota tubuhnya. Kemudian sebagaimana laiknya sepotong besi yang dipanaskan di api yang ganas akan merona merah seperti api itu sendiri, seorang mukminin akan memanifestasikan tanda-tanda dan tindakan Ilahi sebagaimana juga besi yang menyala marong memanifestasikan efek dan fitrat dari api itu sendiri.</p>
<p>Tidak berarti bahwa sang mukminin tersebut lalu menjadi Tuhan. Adalah karakteristik kasih Ilahi yang telah mengaruniakan warna-Nya atas segala sesuatu yang nyata, sedangkan sifat batiniah dan kelemahan dirinya tetap ada. Pada tahapan ini maka Tuhan menjadi roti bagi si mukminin yang akan memelihara kelangsungan hidupnya, dan Tuhan menjadi air yang jika diminum akan menyelamatkannya dari kematian serta menjadi angin sejuk semilir yang menenteramkan hati sang mukminin. Pada tahapan demikian tidaklah salah jika dikatakan secara metaforika bahwa Tuhan telah masuk ke dalam diri si mukminin yang meresapi seluruh wujud dirinya dan menjadikan kalbunya sebagai tahta Wujud-Nya. Ia selanjutnya akan melihat tidak lagi dengan mata ruhani dirinya tetapi melalui ruh Ilahi, mendengar melalui ruh tersebut, berbicara dengannya, berjalan bersamanya dan mengalahkan para musuhnya melalui bantuannya. Pada tahap demikian ia menjadi tiada dan ruh Ilahi mengaruniakan kepadanya hidup baru melalui manifestasi kasih-Nya terhadap dirinya. Ia kemudian menjadi ilustrasi dari ayat:</p>
<p>&#8220;Kemudian Kami tumbuhkan dia menjadi mahluk lain. Maka Maha Berberkat Allah , sebaik-baik Pencipta&#8221;(S.23 Al-Muminun:15)</p>
<p>(Barahin Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 212-216, London, 1984).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Shalat dilakukan dengan cara yang tertib</strong></p>
<p>Bodoh sekali jika merasa puas hanya dari tampak luar pelaksanaan suatu shalat. Kebanyakan orang melaksanakan shalat hanya sebagai formalitas dan bersigegas sepertinya shalat itu menjadi beban bagi dirinya yang harus segera diselesaikan. Kemudian ada lagi orang yang bersicepat dalam bershalat tetapi setelah itu berdoa panjang yang menghabiskan waktu dua atau tiga kali waktu shalat, padahal shalat itu sendiri tidak lain adalah doa semata.</p>
<p>Mereka yang melaksanakan shalat tidak dalam kerangka pikiran demikian dan tidak menyibukkan diri dengan permohonan doa saat itu, sesungguhnya telah gagal dalam bershalat. Kalian harus menjadikan shalat kalian menjadi nikmat seperti makanan yang lezat atau air minum yang sejuk, karena jika tidak maka shalat hanya akan menjadi beban dan bukannya rahmat. Shalat adalah kewajiban yang harus dilaksanakan kepada Tuhan. Seyogyanya shalat dilakukan dengan cara yang tertib. (Malfuzat, vol. VI, hal. 370).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Doa dalam shalat</strong></p>
<p>Shalat merupakan kriteria yang efektif dari kesalehan seorang mukminin. Mereka yang menangis dalam shalatnya akan memperoleh keamanan. Sebagai¬mana seorang anak yang menangis di pangkuan ibunya dan kemudian mendapat ketenangan karena kasih dan sayang ibunya itu, begitu juga halnya dengan ia yang memohon kepada Allah s.w.t. dalam shalat dengan kerendahan dan hati yang mencair, samanya menempatkan dirinya dalam pangkuan kasih sayang Ilahi.</p>
<p>Ia yang belum memperoleh kenikmatan dalam shalatnya, sesungguhnya belum mendapatkan kenikmatan keimanan. Shalat tidak semata-mata hanya gerakan dan sikap tubuh. Sebagian orang bersicepat dalam shalat seperti ayam yang mematuk remah-remah di tanah, tetapi setelah itu berdoa panjang-panjang. Keadaannya sama dengan mengatakan bahwa shalat dilakukan secara cepat sebagai suatu acara formil, padahal itulah saatnya berdoa kepada Allah s.w.t. Selesai melaksanakan shalat tanpa hasil maka mereka lalu menyambungnya dengan doa-doa panjang. Lakukanlah pengajuan permohonan doa kalian pada saat bershalat, jadikanlah shalat sebagai sarana untuk mengajukan permohonan doa. (Malfuzat, vol. II, hal. 145).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Pengucapan Al-Fatihah dalam shalat</strong></p>
<p>Doa adalah tujuan dan ruh daripada shalat. Bagaimana tujuan itu bisa dicapai kecuali dengan cara mendoa di dalam shalat. Sang penyembah sepertinya mendapat kesempatan audiensi di hadapan Raja untuk menyampaikan permohonannya tetapi ia malah tidak berbicara apa-apa saat itu. Setelah selesai kesempatan audiensi dan meninggalkan hadirat sang Raja, barulah ia bermaksud menyampaikan petisinya. Cara demikian tidak akan ada manfaatnya bagi yang bersangkutan. Keadaan seperti itulah yang terjadi pada orang-orang yang tidak mengajukan doanya secara khusuk dan tekun pada saat sedang shalat. Lakukanlah pengajuan doa kalian ketika sedang dalam keadaan shalat dan laksanakan dengan cara yang tertib.</p>
<p>Allah s.w.t. telah mengajarkan kepada kita sebuah doa di awal mula Al-Qur’an dan memerintahkan kepada kita untuk membacanya sebagai persyaratan keabsahan shalat. Pengucapan Surah Al-Fatihah merupakan kewajiban dalam setiap shalat, hal mana menjadi indikasi bahwa doa hakiki seharusnya diajukan ketika sedang shalat. (Malfuzat, vol. III, hal. 258).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Shalat dilakukan dalam bahasa Arab</strong></p>
<p>Shalat hanya boleh dilakukan dalam bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an. Namun setelah selesai dengan bacaan yang diwajibkan, kalian boleh saja mengajukan permohonan doa dalam bahasa kalian sendiri. Bacaan yang diwajibkan itu sendiri tidak boleh diabaikan. Umat Kristiani yang meninggalkan prinsip ini sekarang telah kehilangan segalanya. (Malfuzat, vol. III, hal. 288).</p>
<p>* * *</p>
<p>Apakah shalat itu sebenarnya? Shalat adalah permohonan yang diajukan dengan segala kerendahan hati dengan mengemukakan keagungan dan pujian bagi Allah s.w.t., pengakuan atas Kesucian-Nya, menghimbau sifat  Pengampunan-Nya dan memohonkan berkat-Nya atas diri Hazrat Rasulullah s.a.w. Jika kalian sedang shalat, janganlah kalian membatasi diri hanya pada bacaan doa wajib sebagaimana halnya shalat dari orang-orang acuh yang shalatnya hanya merupakan formalitas tanpa realitas di dalamnya.</p>
<p>Ketika kalian sedang melakukan shalat, disamping bacaan doa wajib sebagai-mana diajarkan Al-Qur’an dan Hazrat Rasulullah s.a.w., sebaiknya kalian juga mengajukan doa-doa kalian dalam bahasa sendiri agar hati kalian tergugah oleh kerendahan hati dan hasrat dirimu. (Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 68-69,  London, 1984).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Doa bisa diajukan dalam bahasa sendiri</strong></p>
<p>Ajukanlah permohonan doa kalian dalam shalat lima waktu yang kalian dirikan. Kalian tidak dilarang untuk mengajukan permohonan doa dalam bahasa sendiri. Shalat tidak bisa dikatakan telah dilaksanakan dengan baik jika tidak dilambari konsenstrasi, dan konsentrasi tak mungkin dicapai tanpa kerendahan hati, sedangkan kerendahan hati hanya mungkin dicapai karena memahami apa yang diucapkan. Karena itu hasrat dan getaran sukma hanya mungkin dihasilkan bila berdoa dalam bahasa sendiri. Namun tidak berarti kalian boleh mengabaikan doa-doa wajib dan kemudian mengerjakan shalat dalam bahasa sendiri. Bukan itu yang aku maksud. Maksud yang ingin kusampaikan ialah setelah bacaan doa wajib, perlu juga kiranya kalian mengajukan permohonan doa dalam bahasa sendiri.</p>
<p>Dalam doa-doa wajib tersebut terdapat berkat-berkat khusus. Shalat sendiri berarti doa. Karena itu ketika sedang shalat, ajukanlah doa agar memperoleh keselamatan dari bencana di dunia ini maupun di akhirat dan agar kalian nantinya bisa mengakhiri hidup ini dalam keadaan yang baik. Doakanlah juga isteri dan anak-anak kalian. Berbuatlah baik dan jauhilah segala dosa. (Malfuzat, vol. VI, hal. 146).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Filsafat shalat lima waktu</strong></p>
<p>Apa sebenarnya makna dari shalat lima waktu? Shalat lima waktu sebenarnya merupakan gambaran dari berbagai kondisi kalian yang berbeda-beda sepanjang hari. Kalian juga melewati lima tahapan kondisi pada saat sedang mengalami musibah dan fitrat alamiah kalian menuntut bahwa kalian harus melewatinya. Pertama, adalah ketika kalian mendapat amaran bahwa kalian akan menghadapi musibah. Sebagai contoh, bayangkan ada surat panggilan bagi kalian untuk menghadap ke suatu pengadilan. Kondisi pertama ini akan langsung meruyak rasa ketenangan dan keteduhan kalian. Kondisi seperti menerima surat panggilan pengadilan ini mirip dengan saat ketika matahari mulai menggelincir. Sejalan dengan kondisi keruhanian tersebut ditetapkanlah shalat Dhuhur yaitu ketika matahari mulai menggelincir.</p>
<p>Kalian mengalami kondisi kedua ketika kalian sepertinya mendekat kepada tempat musibah terjadi. Sebagai contoh, setelah ditahan berdasar surat panggilan, tiba waktunya kalian diajukan ke hadapan hakim. Pada saat demikian kalian merasakan kegalauan perasaan dan beranggapan bahwa semua rasa keamanan telah meninggalkan diri kalian. Kondisi seperti itu mirip dengan keadaan ketika sinar matahari mulai suram dan manusia bisa melihat matahari secara langsung serta menyadari bahwa sebentar lagi matahari itu akan terbenam. Sejalan dengan kondisi keruhanian seperti itu maka ditetapkanlah shalat Asyar.</p>
<p>Kondisi ketiga adalah keadaan ketika kalian merasa kehilangan segala harapan memperoleh keselamatan dari musibah. Sebagai contoh, setelah mencatat bukti-bukti tuntutan yang akan membawa kehancuran diri kalian, kalian didakwa dengan bentuk pelanggaran dimana telah disiapkan surat dakwaan. Pada saat demikian, kalian merasa sepertinya kehilangan semua indera dan mulai berfikir menganggap diri sebagai narapidana. Kondisi seperti itu mirip dengan saat ketika matahari terbenam dan harapan melihat terang hari sudah pupus karenanya. Diperintahkanlah shalat Maghrib yang sejalan dengan kondisi keruhanian demikian.<br />
Kondisi keempat adalah ketika kalian ditimpa musibah secara langsung dimana kegelapannya yang kelam telah menyelimuti diri kalian. Sebagai contoh, setelah pembacaan bukti-bukti maka kalian sepertinya lalu divonis dan diserahkan untuk dipenjarakan. Kondisi seperti itu mirip dengan keadaan malam ketika semuanya diselimuti kegelapan yang kelam. Untuk kondisi keruhanian seperti itu ditetapkanlah shalat Isya.</p>
<p>Setelah menghabiskan satu kurun waktu dalam kegelapan dan penderitaan, datanglah rahmat Ilahi yang meluap mengemuka dan menyelamatkan kalian dari kegelapan dengan datangnya fajar yang menggantikan kegelapan malam dimana sinar pagi mulai muncul. Shalat Subuh ditetapkan untuk kondisi keruhanian seperti itu.</p>
<p>Berdasarkan kelima kondisi yang berubah terus tersebut maka Allah s.w.t. telah mengatur shalat lima waktu bagi kalian. Dengan demikian kalian bisa memahami bahwa shalat tersebut diatur waktunya bagi kemaslahatan kalbu kalian sendiri. Bila kalian menginginkan keselamatan dari segala musibah, janganlah kalian sampai mengabaikan shalat lima waktu karena semua itu merupakan refleksi dari kondisi internal dan keruhanian kalian. Shalat merupakan obat penawar bagi segala musibah yang mungkin mengancam. Kalian tidak pernah mengetahui keadaan bagaimana yang dibawa oleh hari berikutnya. Karena itu sebelum awal hari, mohonlah kepada Tuhan kalian yang Maha Abadi agar hari tersebut menjadi sumber kemaslahatan dan keberkatan bagi kalian. (Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 69-70,  London, 1984).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Shalat sebagai perlindungan terhadap dosa</strong></p>
<p>Shalat merupakan instrumen untuk keselamatan daripada dosa. Adalah mutu dari shalat itu yang menjadikan seseorang terlindung terhadap dosa dan kejahatan. Karena itulah carilah bentuk shalat yang demikian dan jadikanlah shalat kalian seperti itu. Shalat merupakan jiwa dari segala keberkatan. Rahmat Allah s.w.t. diterima melalui shalat. Jadi, laksanakanlah shalat itu secara disiplin agar kalian bisa menjadi pewaris dari rahmat-rahmat Ilahi. (Malfuzat, vol. V, hal. 126).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Makna sikap dalam shalat</strong></p>
<p>Apakah shalat itu? Shalat adalah perwujudan dari kerendahan hati dan kelemahan seseorang kepada Tuhan dan mencari pemenuhan kebutuhan dirinya dari Allah s.w.t. Pada saat shalat, si pelaku berdiri tegak di hadapan Tuhan-nya dengan lengan yang terlipat sebagai gambaran kesadaran yang bersangkutan terhadap keagungan Allah s.w.t. dan hasratnya untuk melaksanakan segala firman-Nya. Di saat lainnya ia bersujud sebagai gambaran kerendahan hati dan rasa pengabdian yang sempurna serta memohonkan pemenuhan dari kebutuhannya. Terkadang laiknya seorang pengemis, yang bersangkutan memuji-muji Wujud kepada siapa ia memohon dengan cara melantunkan Keagungan dan Keakbaran-Nya dengan harapan dapat menggugah turun rahmat-Nya.</p>
<p>Agama yang tidak memiliki sesuatu yang mirip dengan shalat, sesungguhnya adalah kosong semata. Shalat mengandung arti kecintaan dan ketakutan kepada Tuhan serta kesibukan hati manusia dalam mengingat Wujud-Nya. Itulah yang dimaksud dengan agama. Mereka yang mengelak melakukan shalat sebenarnya tidak lebih baik dari hewan. Makan, minum dan tidur untuk menghabiskan waktu sebagaimana halnya hewan bukanlah suatu yang bisa disebut sebagai agama. Hal demikian itu adalah kelakuan orang-orang kafir. Bagi mereka yang ingin bertemu dengan Tuhan dan berhasrat mencapai-Nya maka shalat merupakan sarana dengan apa ia bisa mencapai sasarannya dengan cepat.  Mereka yang meninggalkan shalat, bagaimana mungkin akan sampai di tujuan yang dimaksud?</p>
<p>Saat umat Muslim mulai meninggalkan shalat atau tidak lagi melaksanakan-nya dengan ketenangan, keselesaan dan kecintaan hati, karena tidak lagi memahami makna hakikinya, maka sejak itu Islam mulai menurun. Ketika shalat masih dilaksanakan secara patut maka saat itu adalah masa kejayaan Islam dimana agama ini telah mendominasi seluruh dunia. Setelah kemudian umat Muslim tidak lagi melaksanakan shalat secara patut, maka mereka mulai ditinggalkan Tuhan.</p>
<p>Adalah shalat yang dilaksanakan dengan sepenuh hati yang akan bisa mengangkat seseorang dari segala kesulitan. Adalah pengalaman diriku berulang-kali bahwa Tuhan telah menyelesaikan segala kesulitanku saat shalat di dalam mana doa-doa aku ajukan belum lagi selesai.<br />
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam suatu  shalat? Sang manusia mengangkat kedua tangannya dalam rangka memohon, sedangkan Yang Maha Kuasa mendengar¬kannya dengan baik. Kemudian tiba saatnya Dia yang biasanya mendengarkan lalu berbicara dan menanggapi si pemohon. Situasi demikian itulah yang terjadi di dalam shalat. Si penyembah menyungkurkan dirinya di hadapan Allah yang Maha Kuasa sambil mengemukakan segala masalah dan kesulitannya serta mengemukakan segala kebutuhannya kepada Wujud-Nya.<br />
Natijah dari shalat hakiki adalah segera tiba waktunya bagi Allah yang Maha Agung untuk menanggapi si pemohon dan menenangkan hati yang bersangkutan dengan firman-firman-Nya. Apakah mungkin bisa memperoleh  pengalaman demikian tanpa melaksanakan shalat secara patuh? (Malfuzat, vol. V, hal. 253-255).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Shalat hakiki</strong></p>
<p>Disebut sebagai shalat hakiki ketika bisa tercipta hubungan yang tulus dan suci dengan Allah yang Maha Agung dimana si penyembah menjadi demikian mengabdi kepada kehendak Allah dan kepatuhan kepada-Nya. Ia menjunjung keimanannya di atas segala nilai-nilai keduniawian dan ia akan selalu siap mengurbankan jiwanya di jalan Tuhan.</p>
<p>Pada keadaan demikian itulah dikatakan bahwa shalat seseorang patut disebut sebagai shalat hakiki. Sepanjang kondisi ini tidak tercapai dan si pelaku tidak menjadi teladan ketulusan dan keimanan bagi yang lainnya maka segala doa dan tindakan lain yang dilakukannya menjadi tiada arti. (Malfuzat, vol. VI, hal. 240).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Shalat, doa dan kepastian keimanan</strong></p>
<p>Jangan melakukan shalat hanya sebagai bentuk pelaksanaan suatu upacara belaka. Lakukanlah shalat dengan hati seperti terbakar dan mencair serta berdoalah terus menerus di dalam shalat. Shalat menjadi kunci bagi penyelesaian segala kesulitan. Disamping doa-doa dan pengagungan yang diwajibkan dalam shalat, ajukan juga doa-doa dalam bahasa kalian sendiri agar dengan demikian maka hati kalian bisa luluh. Teruslah dalam upaya ini sampai kalian tiba pada suatu kondisi dimana kondisi itu menjadi sarana guna mencapai tujuan-tujuan hakiki.</p>
<p>Semua sikap phisik yang diperagakan dalam shalat harus mencerminkan keadaan hati juga. Ketika si pelaku shalat berdiri tegak, hatinya juga harus berdiri tegak di hadirat Ilahi sebagai tanda kepatuhan. Ketika ia melakukan ruku maka hatinya juga membungkuk dan saat bersujud maka hatinya juga bersujud dengan pengertian bahwa hatinya tidak pernah melepaskan Tuhan-nya walau sekejap pun. Dengan tercapainya kondisi seperti itu maka ia akan mulai terbebas dari dosa. (Malfuzat, vol. VI, hal. 367-368).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Pengabdian manusia dan pemeliharaan Tuhan<br />
</strong><br />
Kitab Suci Al-Qur’an mengutarakan ada dua macam kebun atau taman. Satu di antaranya adalah kebun yang dikaruniakan dalam kehidupan ini juga dan itulah yang disebut sebagai kenikmatan shalat.</p>
<p>Shalat bukanlah suatu beban yang memberatkan tetapi merupakan hubungan permanen di antara kondisi pengabdian manusia dan pemeliharaan Tuhan. Allah s.w.t. sudah menetapkan shalat sebagai sarana untuk membentuk hubungan demikian dan mengisinya dengan kenikmatan yang menjadikan terpeliharanya hubungan tersebut. Sebagai contoh, jika sepasang manusia yang terikat hubungan perkawinan kemudian tidak mendapati kenikmatan dalam hubungan mereka, maka besar kemungkinan hubungan itu tidak akan berumur lama. Begitu juga jika tidak ada kenikmatan dalam shalat maka hubungan di antara hamba dengan Tuhan-nya akan menjadi terganggu.</p>
<p>Berdoalah di balik pintu yang tertutup agar hubungan tersebut tetap terpelihara dan menjadi sumber kenikmatan. Hubungan antara pengabdian manusia dengan pemeliharaan Tuhan bersifat sangat dalam dan penuh nur cahaya yang hakikatnya tidak bisa diuraikan dalam kata-kata. Sampai kenikmatan seperti itu bisa dialami maka manusia tetap saja berada dalam keadaan yang mendekati hewaniah. Meski kenikmatan seperti itu mungkin hanya pernah dialami dua atau tiga kali, namun masih lebih baik dari mereka yang buta dan tidak pernah mengalaminya sama sekali seperti kata ayat:</p>
<p>&#8220;Barangsiapa buta di dunia ini, maka di akhirat pun ia akan buta juga&#8221; (S.17 Bani Israil:73).<br />
(Malfuzat, vol. VI, hal. 371).</p>
<p>* * *</p>
<p>Istighfar mengandung makna bahwa nur yang telah diperoleh dari Allah s.w.t akan bisa dipelihara dan dikembangkan terus. Untuk tujuan ini ditetapkan shalat agar lima kali dalam sehari nur itu bisa dicari dari Tuhan. Mereka yang memiliki wawasan menyadari bahwa shalat merupakan pengagungan keruhanian dan bahwa satu-satunya cara penyelamatan bagi sakit ruhani adalah permohonan doa berulang di dalam shalat yang dilambari dengan hasrat dan luluhnya hati yang mencair. (Malfuzat, vol. VII, hal. 124-125).</p>
<p>* * *</p>
<p>Jika seorang penyembah merasa bahwa ia telah kehilangan hasrat dan kenikmatan yang biasanya ia rasakan dalam shalat, janganlah yang bersangkutan menjadi lesu dan patah hati. Ia harus memulihkan kembali dengan hasrat menggebu segala sesuatu yang telah hilang. Cara yang terbaik adalah dengan melakukan taubat, istighfar dan kesungguhan. Shalat jangan sampai ditinggalkan hanya karena merasa kurang nikmat lagi, justru karena itu harus ditimbulkan keinginan melipat-gandakan dan mengintensif¬kannya agar kenikmatan tersebut bisa kembali. Seorang pecandu alkohol tidak akan berhenti minum karena merasa tidak bisa lagi mabuk, malah ia akan terus minum sampai kembali memperoleh rasa nikmat yang dicarinya dalam minuman keras.<br />
Karena itu seorang penyembah yang merasakan shalatnya tidak lagi menyenangkan, malah harus melipat-gandakan shalatnya dan jangan sampai menjadi jemu karenanya. Pada akhirnya rasa tawar yang dirasakan akan kembali menjadi kenikmatan. Seseorang yang menggali sumur untuk mencari air harus terus menggali sampai ia menemukan air. Mereka yang berputus asa dan berhenti sebelum mencapai permukaan air malah akan kehilangan semuanya sama sekali, sedangkan mereka yang bersiteguh dan tidak mengenal lelah, pasti akan memperoleh air pada akhirnya.</p>
<p>Guna memperoleh kenikmatan di dalam shalat yang diperlukan adalah istighfar, shalat secara dawam dan teratur, mendoa secara tekun, hasrat hati dan keteguhan batin. (Malfuzat, vol. V, hal. 432).</p>
<p>* * *</p>
<p>Senjata guna mencapai keunggulan adalah melalui istighfar, taubat, pengetahuan yang mendalam akan agama menegakkan Keagungan Allah s.w.t. serta melaksanakan shalat lima waktu secara teratur. Shalat adalah kunci kepada pengabulan doa. Berdoalah melalui shalat dan jangan melalaikannya. Jauhi segala kejahatan yang berkaitan dengan kewajiban terhadap Tuhan dan hak dari sesama mahluk. (Malfuzat, vol. V, hal. 303).</p>
<p>* * *</p>
<p>Bagaimana mengukur derajat rasa takut seseorang kepada Tuhan-nya bisa dilihat dari kedawaman shalatnya. Aku yakin bahwa orang yang melaksanakan shalat secara rajin serta tidak mundur daripadanya karena takut atau sakit atau pun cobaan duniawi, sesungguhnya ia meyakini sepenuhnya keberadaan Allah s.w.t. Hanya saja tingkat keimanan demikian lebih banyak ditemukan pada orang-orang miskin. Hanya sedikit dari orang kaya yang memperoleh karunia ini. (Izalai Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 540, London, 1984).</p>
<p>* * *</p>
<p>Baik shalat mau pun puasa merupakan bentuk peribadatan. Puasa besar pengaruhnya atas tubuh sedangkan shalat mempengaruhi kalbu secara langsung. Shalat menghasilkan kondisi terbakar dan luluhnya hati, karena itu merupakan bentuk ibadah yang lebih tinggi daripada puasa. Namun puasa mengembangkan kemampuan untuk menerima kashaf. (Malfuzat, vol. VII, hal. 379).</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Shalat dan puasa untuk mensucikan ruhani</strong></p>
<p>&#8220;Ramadhan ialah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan&#8221; (S.2 Al-Baqarah:186)</p>
<p>Ayat dari Al-Qur’an ini menggambarkan keagungan dari bulan Ramadhan. Kaum Sufi umumnya sepakat bahwa bulan ini adalah saat terbaik untuk pencerahan kalbu. Orang yang melaksanakan puasa, sering memperoleh kashaf dalam bulan ini.</p>
<p>Shalat mensucikan ruhani dan puasa mensucikan kalbu. Pensucian ruhani mengandung arti bahwa manusia bisa dilepaskan dari segala nafsu ego yang membawanya kepada dosa, sedangkan pensucian kalbu mengandung makna bahwa pintu gerbang kashaf akan dibukakan sehingga manusia bisa melihat Tuhan-nya. (Malfuzat, vol. IV, hal. 256-257).</p>
<p>* * *</p>
<p>Suatu ketika aku sedang merenungi tujuan dari cara menebus puasa yang terlewat dan aku berkesimpulan bahwa penebusan tersebut diatur agar manusia dikaruniai kemampuan dan kekuatan untuk melaksanakan puasa secara sempurna. Hanya Allah s.w.t. yang bisa memberikan kekuatan dimaksud dan segala sesuatu sebaiknya diminta dari Tuhan. Dia itu Maha Kuasa, jika Dia berkehendak maka Dia akan menganugrahkan kekuatan melaksanakan puasa kepada seorang yang menderita tuberkulosa.</p>
<p>Tujuan dari peraturan tentang membayar puasa adalah agar manusia diberikan kekuatan guna melaksanakan puasa, dimana hal ini hanya bisa diperoleh berkat rahmat Ilahi. Sewajarnya kita berdoa:</p>
<p>&#8216;Ya Allah, ini adalah bulan-Mu yang berberkat sedangkan aku telah dikucilkan dari keberkatan tersebut. Aku tidak tahu apakah aku masih tetap hidup pada tahun mendatang atau punya kesempatan untuk melaksanakan puasa yang telah terlewatkan. Berkatilah aku dengan rahmat-Mu berupa kekuatan melaksanakan puasa ini&#8217;.</p>
<p>Aku yakin bahwa ia yang memohon demikian akan dikaruniai Allah s.w.t. dengan kekuatan yang diperlukan. Jika Allah s.w.t. berkehendak, mungkin Dia tidak akan memberikan batasan bagi umat Muslim sebagaimana Dia telah tentukan-Nya bagi umat terdahulu. Tetapi tujuan dari batasan itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umat dimaksud. Menurut pendapatku, jika seseorang berdoa kepada Allah s.w.t. dengan segala ketulusan memohon agar ia tidak diasingkan dari berkat-berkat bulan Ramadhan maka ia tidak akan diasingkan. Jika kemudian yang bersangkutan jatuh sakit dalam bulan Ramadhan maka sakitnya menjadi sumber rahmat baginya karena nilai setiap tindakan ditentukan oleh niat yang mendasari. Sepatutnya bagi mukminin jika ia bisa membuktikan dirinya memiliki keberanian di jalan Allah s.w.t.</p>
<p>Ia yang sepenuh hati bertekad untuk melaksanakan puasa tetapi terhalang karena sakit yang diderita sedangkan hatinya sangat ingin mengerjakan puasa tersebut, ia tidak akan dikaliskan dari rahmat pelaksanaan puasa dan adalah para malaikat yang menggantikannya berpuasa. Hal ini merupakan suatu hal yang pelik. Jika seseorang merasa berpuasa itu sulit karena kemalasan ruhaninya dan berkhayal bahwa ia sedang kurang sehat sehingga tidak boleh melewatkan waktu makan karena dianggapnya akan membawa berbagai penyakit, maka orang seperti ini jika menganggap rahmat Tuhan akan tetap berada di sisinya, sesungguhnya ia tidak berhak atas pahala ruhani apa pun. Sebaliknya dengan seseorang yang bergembira atas kedatangan bulan Ramadhan dan berhasrat melaksanakan puasa tetapi tertahan karena sakit yang dideritanya, ia malah tidak akan dikaliskan dari berkat Ramadhan.</p>
<p>Banyak orang yang mencari-cari alasan tidak berpuasa dan membayangkan jika mereka bisa menipu manusia lain maka mereka juga bisa mengelabui Tuhan. Orang-orang seperti ini membuat penafsiran sendiri yang dianggapnya benar, padahal sesungguhnya mereka keliru dalam pandangan Tuhan. Ruang lingkup penafsiran seperti itu sebenarnya amat luas dan ada yang terbiasa menafsirkan sendiri sehingga misalnya ada yang melakukan shalat sambil duduk sepanjang hidupnya atau sama sekali tidak melaksanakan puasa. Sesungguh¬nya Allah s.w.t. amat mengetahui motivasi dan niat tiap orang dalam beribadah. Allah s.w.t. mengetahui niat dan hasrat yang tulus dan Dia akan memberkati yang bersangkutan, mengingat hasrat hati seseorang dianggap suatu yang berharga dalam pandangan Tuhan.</p>
<p>Mereka yang mencari-cari helah sebenarnya bertumpu pada penafsiran mereka sendiri, sedangkan penafsiran seperti itu tidak ada nilainya di hadapan Tuhan. Suatu ketika, saat sedang melanjutkan puasaku selama enam bulan, aku bersua dengan sekelompok Nabi-nabi yang menegur karena dianggap aku terlalu keras membebani diriku sendiri dan memerintahkan kepadaku untuk menghentikannya. Jadi jika seseorang membebani dirinya terlalu keras demi Tuhan-nya maka Dia akan berbelas-kasihan seperti orang tua kita yang melarang kita meneruskannya. (Malfuzat, vol. IV, hal. 258-260).</p>
<p>http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&#038;task=view&#038;id=103&#038;Itemid=1</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=70&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-shalat-menuntun-manusia-kepada-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ahmadiyah : Pendiri Ahmadiyah : Tujuan Daripada Agama</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-tujuan-daripada-agama/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-tujuan-daripada-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 10:41:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Para Pemimpin Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ta&#039;lim]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan pokok daripada menganut suatu agama adalah kita memperoleh kepastian berkaitan dengan Tuhan yang menjadi sumber dari keselamatan, seolah-olah kita bisa melihat Wujud-Nya dengan mata kita. Unsur kejahatan dalam dosa akan selalu mencoba menghancurkan manusia dimana seseorang tidak akan bisa melepaskan diri dari racun fatal dari dosa sampai ia itu meyakini sepenuh hati beriman kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=68&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tujuan pokok daripada menganut suatu agama adalah kita memperoleh kepastian berkaitan dengan Tuhan yang menjadi sumber dari keselamatan, seolah-olah kita bisa melihat Wujud-Nya dengan mata kita. Unsur kejahatan dalam dosa akan selalu mencoba menghancurkan manusia dimana seseorang tidak akan bisa melepaskan diri dari racun fatal dari dosa sampai ia itu meyakini sepenuh hati beriman kepada Tuhan yang Maha Sempurna dan Maha Hidup, yang menghukum para pendosa dan mengganjar yang muttaqi dengan kenikmatan yang kekal. Merupakan pengalaman umum bahwa jika kita meyakini akan efek-efek fatal yang ditimbulkan sesuatu maka dengan sendirinya kita tidak akan mendekatinya. Sebagai contoh, tidak akan ada orang yang menenggak racun  secara sadar. Tidak akan ada orang yang secara sengaja berdiri di depan seekor harimau liar. Tidak juga orang mau memasukkan tanggannya ke lubang ular berbisa. Lalu mengapa orang melakukan dosa secara sengaja? Sebabnya adalah karena ia tidak memiliki keyakinan penuh mengenai hal tersebut sebagaimana dengan hal-hal lain yang dicontohkan tadi. Tugas pertama seseorang dengan demikian adalah berusaha memperoleh keyakinan mengenai eksistensi daripada Tuhan dan menganut suatu agama yang melalui mana hal itu bisa dicapai, agar dengan demikian ia akan menjadi takut kepada Tuhan dan menjauhi dosa. Lalu bagaimana bisa memperoleh keyakinan demikian? Jelas bahwa hal seperti itu tidak akan bisa didapat hanya melalui dongeng-dongeng. Tidak juga bisa diperoleh melalui argumentasi saja. Satu-satunya cara untuk memperoleh keyakinan adalah dengan mengalami pendekatan dengan Tuhan berulangkali melalui bercakap-cakap dengan Wujud-Nya atau dengan menyaksikan berbagai tanda-tanda-Nya yang luar biasa, atau juga melalui kedekatan dengan seseorang yang memiliki pengalaman demikian. (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 447-448,  London, 1984).* * *<br />
Tujuan daripada agama adalah agar manusia memperoleh keselamatan dari hawa nafsunya dan menciptakan kecintaan pribadi kepada Allah yang Maha Kuasa melalui keimanan kepada eksistensi-Nya dan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna. Kecintaan kepada Allah demikian merupakan surga yang akan mewujud dalam berbagai bentuk di akhirat nanti. Tidak menyadari akan adanya Tuhan dan menjauh dari Wujud-Nya adalah neraka yang akan berbentuk macam-macam di akhirat nanti. Dengan demikian tujuan haqiqi seorang manusia sewajarnya adalah beriman sepenuhnya kepada Dia. Sekarang timbul pertanyaan, agama manakah dan kitab apakah yang dapat memenuhi keinginan demikian. Kitab Injil menyatakan bahwa pintu untuk berbicara dengan Tuhan sudah ditutup dan cara-cara untuk memperoleh kepastian sudah dipateri. Apa pun yang akan terjadi, sudah terjadi di masa lalu dan tidak ada sesuatu pun di masa depan. Lalu apa gunanya sebuah agama yang sudah mati demikian? Manfaat apa yang dapat diperoleh dari kitab yang sudah mati? Rahmat apa yang bisa diperoleh dari sosok tuhan yang mati? (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 352-353,  London, 1984).* * *Tujuan dari menerima suatu agama adalah agar Allah yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri dan yang tidak membutuhkan akan ciptaan-Nya atau pun sembahan dari ciptaan-Nya itu, akan berkenan dengan diri kita sehingga kita bisa memperoleh rahmat dan kasih-Nya yang bisa menghapuskan noda dan karat dalam batin, dan dengan cara demikian dada kita akan dipenuhi dengan keyakinan dan pemahaman. Hal seperti itu tidak akan mungkin bisa dicapai oleh seorang manusia melalui upayanya sendiri. Karena itu Allah yang Maha Agung yang menyembunyikan Wujud-Nya serta keajaiban ciptaan-Nya seperti ruh, malaikat, surga, neraka, kebangkitan, kenabian dan lain-lain yang hanya akan dibukakan sebagian saja melalui penalaran, akan menunjuk hamba-hamba-Nya yang akan beriman pada semua mistri itu.  (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 81,  London, 1984).* * *</p>
<p>Sumber : Esensi Ajaran Islam, jilid 1</p>
<p>http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&#038;task=view&#038;id=161&#038;Itemid=1</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=68&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-tujuan-daripada-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ahmadiyah : Pendiri Ahmadiyah : Mengenali Agama Yang Benar</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-mengenali-agama-yang-benar/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-mengenali-agama-yang-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 10:37:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Para Pemimpin Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ta&#039;lim]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Agar bisa mengenali apa yang dimaksud sebagai agama yang benar, kita perlu melihat tiga hal. Pertama adalah melihat apa yang menjadi ajaran agama itu mengenai Tuhan. Yang dimaksud adalah bagaimana pandangan agama itu berkaitan dengan Ke-Esa-an, kekuatan, pengetahuan, kesempurnaan, keagungan, pengganjaran hukuman, pemberian rahmat dan sifat-sifat Ilahi lainnya. Kedua, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=66&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agar bisa mengenali apa yang dimaksud sebagai agama yang benar, kita perlu melihat tiga hal. Pertama adalah melihat apa yang menjadi ajaran agama itu mengenai Tuhan. Yang dimaksud adalah bagaimana pandangan agama itu berkaitan dengan Ke-Esa-an, kekuatan, pengetahuan, kesempurnaan, keagungan, pengganjaran hukuman, pemberian rahmat dan sifat-sifat Ilahi lainnya. Kedua, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk menanyakan apa yang diajarkan agama bersangkutan berkaitan dengan dirinya sendiri. Apakah ada dari antara ajaran agama itu yang akan mencederai hubungan antar manusia, atau menyebabkan manusia melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan kepatutan dan kehormatan, atau bertentangan dengan hukum alam, atau tidak mungkin dapat dipatuhi atau dilaksanakan, atau bahkan membahayakan jika dikerjakan. Juga perlu memperhatikan apakah ada ajaran-ajaran penting bagi pengendalian kesemrawutan, malah ditinggalkan. Begitu pula, perlu kiranya mengetahui bagaimana agama itu mempresentasikan Tuhan sebagai yang Maha Pengasih, dengan Wujud mana hubungan harus dihidupkan dan apakah ada mengatur petunjuk-petunjuk yang akan menuntun seseorang dari kegelapan kepada pencerahan, dari keadaan acuh menjadi eling ( selalu ingat). Ketiga, perlu bagi seorang pencari kebenaran untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tuhan yang dipresentasikan oleh suatu agama bukanlah sosok yang didasarkan pada kisah dan dongeng atau menyerupai barang mati. Beriman kepada sosok tuhan yang menyerupai benda mati dimana keimanan kepadanya bukan karena adanya manifestasi dirinya tetapi karena rekayasa pikiran manusia, sepertinya menyudutkan Tuhan yang sebenarnya. Tidak ada gunanya beriman kepada Tuhan yang kekuasaan-Nya tidak bisa dirasakan dan yang Dia sendiri tidak memanifestasikan tanda-tanda eksistensi-Nya. (Nasimi Dawat, Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 373-373,  London, 1984).<br />
* * *<br />
Agama yang mengaku berasal dari Tuhan harus mampu memperlihatkan tanda-tanda berasal dari Tuhan dan harus menunjukkan meterai Tuhan yang membuktikan kenyataan bahwa agama itu memang berasal dari Tuhan. Yang memenuhi syarat demikian adalah Islam. Allah yang tersembunyi bisa dikenali melalui agama ini dan memanifestasikan Wujud-Nya kepada para penganut tulus dari agama ini. Suatu agama yang benar akan didukung oleh tangan Allah dan melalui agama ini Allah memanifestasikan Wujud-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia itu eksis. Agama-agama yang sepenuhnya tergantung kepada kisah-kisah dan dongeng, tidak lebih dari merupakan bentuk penyembahan berhala. Agama seperti itu tidak ada memiliki ruh kebenaran. Jika Tuhan itu hidup sebagaimana ada-Nya, berbicara dan mendengar sebagaimana yang dilakukan-Nya, maka tidak ada alasan bagi-Nya untuk terus berdiam diri seolah-olah Dia tidak ada. Kalau Dia tidak berbicara di abad ini, maka sejalan dengan itu pasti juga Dia tidak mendengar. Dengan kata lain, Dia itu sekarang bukan apa-apa. Hanya agama yang benar yang dapat membukti¬kan bahwa Tuhan mendengar dan berbicara di masa sekarang ini juga. Dalam agama yang benar, Tuhan menunjukkan eksistensi-Nya melalui bicara-Nya. Mencari Tuhan bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa dilakukan oleh para filosof atau orang-orang bijak duniawi. Observasi langit dan bumi hanya memberikan kesimpulan bahwa meskipun dengan melihat keteraturannya mengindikasikan kemungkinan adanya sosok Pencipta, namun tidak menjadi bukti nyata bahwa Pencipta itu memang benar ada. Ada perbedaan besar di antara “kemungkinan ada” dengan “ada” itu sendiri. Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang mengemukakan eksistensi-Nya sebagai suatu fakta, yang tidak saja mendorong manusia untuk mencari Tuhan tetapi juga menjadikan Diri-Nya mewujud. Tidak ada kitab lain yang memanifestasikan Wujud yang tersembunyi tersebut.<br />
(Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 351-352,  London, 1984).<br />
* * *<br />
Agama tidak berarti pertengkaran, penghinaan dan kata-kata kasar yang dilontarkan atas nama agama. Dalam konteks demikian, tidak ada yang memperhatikan penekanan hawa nafsu batin atau penciptaan silaturrahmi dengan yang Maha Terkasih. Satu kelompok menyerang kelompok lain seperti di antara hewan anjing dan setiap bentuk kelakuan buruk dipertontonkan atas nama agama. Orang-orang demikian tidak menyadari apa tujuan kelahiran mereka di dunia dan apa yang menjadi tujuan pokok dari hidup mereka itu. Mereka tetap saja membutakan mata dan bersikap jahat serta menguar kefanatikan mereka atas nama agama. Mereka mempertontonkan kelakuan buruk mereka dan menggoyang lidah mereka yang loncer guna mendukung tuhan fiktif yang eksistensinya tidak bisa mereka buktikan. Apa gunanya agama yang tidak mengajarkan penyembahan sosok Tuhan yang Maha Hidup? Tuhan yang mereka kemukakan tidak lebih baik dari bangkai mati yang berjalan karena ditopang penyangga, dimana jika penyangganya diambil maka ia akan jatuh ke tanah. Satu-satunya yang mereka peroleh dari agama seperti itu adalah kefanatikan membuta. Mereka sama sekali tidak takut kepada Allah dan tidak memiliki rasa asih kepada umat manusia yang sebenarnya merupakan semulia-mulianya akhlak. (Barahin Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 28,  London, 1984).<br />
* * *<br />
Sumber : Esensi Ajaran Islam, jilid 1</p>
<p>http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&#038;task=view&#038;id=162&#038;Itemid=1</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=66&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-mengenali-agama-yang-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ahmadiyah : Pendiri Ahmadiyah : Islam, Agama Yang Benar</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-islam-agama-yang-benar/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-islam-agama-yang-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 10:34:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Para Pemimpin Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ta&#039;lim]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua persyaratan bagi sebuah agama yang mengaku berasal dari Tuhan. Pertama adalah agama tersebut harus bersifat demikian komprehensif, sempurna, lengkap tanpa kekurangan dan bersih dari segala cacat dan noda dalam aqidah, ajaran dan perintah-perintahnya, dimana pikiran manusia tidak mungkin merumuskan yang lebih baik lagi. Agama ini harus berada di atas dari semua agama lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=63&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada dua persyaratan bagi sebuah agama yang mengaku berasal dari Tuhan. Pertama adalah agama tersebut harus bersifat demikian komprehensif, sempurna, lengkap tanpa kekurangan dan bersih dari segala cacat dan noda dalam aqidah, ajaran dan perintah-perintahnya, dimana pikiran manusia tidak mungkin merumuskan yang lebih baik lagi. Agama ini harus berada di atas dari semua agama lain menyangkut persyaratan-persyaratan tersebut. Hanya Al-Qur’an yang mengajukan klaim untuk itu dengan menyatakan:</p>
<p>“Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama”. (S.5 Al-Maidah:4).</p>
<p>Dengan kata lain, Allah s.w.t. meminta kita untuk menyelaraskan diri kita kepada realita yang inheren (melekat) di dalam kata Islam. Disini ada pengakuan bahwa Al-Qur’an merupakan ajaran yang sempurna dan bahwa saat turunnya Al-Qur’an merupakan saat dimana ajaran sempurna tersebut sudah bisa diungkapkan kepada manusia. Hanya Al-Qur’an yang layak membuat pengakuan demikian, tidak ada kitab samawi lainnya yang pernah mengajukan pernyataan seperti itu. Baik kitab Taurat mau pun Injil tidak mau memberikan pernyataan demikian. Sebaliknya malah, karena kitab Taurat mengemukakan perintah Tuhan bahwa Dia akan membangkitkan seorang Nabi dari antara para saudara Bani Israil dan akan meletakkan Firman-Nya dalam mulut Nabi itu dan barangsiapa tidak mau membuka telinganya bagi firman Tuhan tersebut akan dimintakan pertanggungjawaban1. Dari hal ini menjadi jelas bahwa jika Taurat memang sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan manusia di abad-abad berikutnya maka tidak perlu lagi adanya kedatangan Nabi lain dimana manusia diwajibkan mendengar dan patuh kepadanya. Begitu pula dengan Injil, tidak ada mengandung satu pun pernyataan yang mengemukakan bahwa ajaran yang dibawanya telah sempurna dan komprehensif. Bahkan jelas ada pengakuan Yesus bahwa masih banyak yang harus disampaikan kepada para murid beliau namun mereka belum kuat menanggungnya, tetapi jika nanti sang Penghibur atau Roh Kebenaran (Paraclete) telah datang maka ia akan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran2. Dengan demikian jelas bahwa Nabi Musa a.s. pun mengakui masih kurang sempurnanya kitab Taurat dan memintakan perhatian umatnya kepada seorang Nabi yang akan datang. Begitu pula dengan Nabi Isa a.s. yang mengakui kekurang-sempurnaan ajaran yang beliau bawa karena saatnya belum tiba untuk dibukakannya ajaran yang sempurna, tetapi juga mengingatkan bahwa jika nanti Paraclete sudah turun maka ia itulah yang akan memberikan ajaran yang sempurna. Sebaliknya dengan Al-Qur’an yang tidak ada meninggalkan persoalan terbuka untuk diselesaikan oleh kitab lainnya sebagaimana halnya dengan Taurat dan Injil, bahkan mengumandangkan kesempurnaan ajaran yang dikandungnya dengan firman:</p>
<p>“Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu bagi manfaatmu, dan telah Aku lengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Aku sukai bagimu Islam sebagai agama”. (S.5 Al-Maidah:4).</p>
<p>Inilah yang menjadi argumentasi pokok yang mendukung Islam sebagai agama yang mengungguli agama-agama lainnya dalam ajaran yang dibawanya sehingga tidak ada agama lain yang bisa dibandingkan dalam kesempurnaan ajaran yang dikandungnya.<br />
Karakteristik kedua daripada Islam yang tidak ada pada agama lain yang juga menjadi bukti kebenarannya adalah agama ini memanifestasikan karunia dan mukjizat yang hidup. Tanda-tanda yang diperlihatkan Islam tidak saja mengukuhkan kelebihannya di atas agama lain tetapi juga menjadi daya tarik bagi kalbu manusia melalui penampakan Nur-nya yang sempurna. Karakteristik pertama Islam sebagaimana dijelaskan di atas yaitu mengenai kesempurnaan ajaran yang dibawanya, belumlah cukup konklusif untuk meneguhkan bahwa Islam adalah agama benar yang diturunkan oleh Allah s.w.t. Seorang lawan yang fanatik dan berpandangan cupat, bisa saja mengata-kan bahwa bisa jadi agama itu sempurna namun belum tentu berasal dari Tuhan. Karakteristik yang pertama memang bisa memuaskan seorang pencari kebenaran yang bijak setelah diombang-ambingkan oleh berbagai keraguan, membawanya lebih dekat kepada suatu kepastian, namun belum mengukuh-kan permasalahannya secara konklusif jika belum dirangkaikan dengan karakteristik kedua. Melalui rangkaian kedua karakteristik itu maka Nur agama yang benar mencapai kesempurnaannya. Agama yang benar mengandung ribuan bukti dan Nur, namun dua karakteristik tersebut cukuplah kiranya memberi keyakinan bagi hati seorang pencari kebenaran dan menjelaskan permasalahannya sehingga memuaskan mereka yang menyangkal kebenaran. Tidak ada lagi yang diperlukan sebagai tambahan. Pada awalnya aku bermaksud mengemukakan tigaratus argumentasi dalam buku Barahin Ahmadiyah. Tetapi setelah direnungi lebih lanjut, aku merasa dua karakteristik ini bisa menggantikan ribuan bukti-bukti lain dan karena itu Allah s.w.t. menjadikan aku merubah rencanaku itu.<br />
(Barahin Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 3-6,  London, 1984).<br />
* * *<br />
Hadzrat Rasulullah s.a.w. menggambarkan Allah yang Maha Kuasa dengan segala keagungan-Nya tanpa ada yang dikurangi sedikit pun. Dia dimunculkan seolah matahari yang memanifestasikan Nur-Nya dari segala penjuru. Barang¬siapa yang berpaling dari matahari haqiqi ini akan menemukan kemudharatan. Kita tidak bisa mengatakan yang bersangkutan sebagai manusia yang berkeimanan baik. Bisakah seseorang yang terjangkiti lepra dimana anggota tubuhnya telah dirusak oleh penyakit itu, lalu bisa menyatakan bahwa dirinya sehat utuh dan tidak memerlukan perawatan? Jika benar ia mengatakan demikian, bisakah kita berpendapat bahwa ia tidak berdusta? Kalau ada seseorang menekankan bahwa ia tidak juga menemukan kebenaran Islam, meskipun ia memiliki keimanan yang baik dan meskipun ia telah berupaya dengan segala cara sebagaimana ia mengelola urusan duniawinya, maka masalahnya terpulang kepada Allah s.w.t. Kami belum pernah bertemu dengan manusia seperti itu dan kami beranggapan bahwa adalah tidak mungkin seseorang yang memiliki daya nalar dan indra keadilan, akan memilih agama lain selain Islam. Orang-orang yang bodoh dan tidak berakal biasanya selalu mengambil sikap sebagaimana yang didiktekan oleh alam bawah sadarnya bahwa beriman kepada Tuhan yang Maha Esa sudah cukup dan tidak perlu lagi mengikuti Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Yang harus diingat adalah seorang Nabi itu merupakan wujud yang mencetuskan Ketauhidan yang melahirkan konsep ke Maha-Esa-an serta menunjukkan eksistensi daripada Tuhan. Siapakah yang bisa lebih baik menunjukkan kebenaran selain Allah s.w.t. sendiri? Dia mengisi langit dan bumi ini dengan tanda-tanda yang membuktikan kebenaran daripada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. dan di abad ini Dia telah mengutus aku serta memperlihatkan beribu-ribu tanda seperti hujan lebat yang membukti¬kan kebenaran daripada Hadzrat Rasulullah s.a.w. Lalu apa lagi yang kurang dalam pengemukaan kebenaran ini? Mereka yang memiliki penalaran cukup untuk menyangkal, mengapa tidak memikirkan cara untuk mencoba menerima? Ia yang merasa dirinya bisa melihat pada waktu gelap malam, mengapa tidak bisa melihat di terang siang hari? Sesungguhnya jalan penerimaan itu jauh lebih mudah daripada jalan penyangkalan. Mereka yang jalan pikirannya memang kurang sempurna dan indra tubuhnya tidak normal biarlah diserahkan kepada Allah s.w.t. dan kita tidak perlu pusing karenanya. Mereka itu seperti anak-anak yang mati muda. Tetapi seorang penyangkal yang jahat tidak bisa memaafkan dirinya atas dasar pertimbangan bahwa ia demikian itu karena berdasarkan i’tikad baik. Kiranya perlu dipertanyakan apakah semua indra yang bersangkutan itu memang memadai untuk memper¬timbangkan masalah Ketauhidan dan Kenabian. Jika ia memang mampu menelaah konsep-konsep itu dan tetap menyangkal karena memang i’tikadnya yang kurang baik, maka orang seperti itu tidak bisa dimaafkan. Bisakah kita memaklumi seseorang yang telah melihat matahari yang sedang bersinar lalu degil bertahan menyatakan bahwa saat ini sedang tengah malam. Begitu juga kita tidak bisa memaklumi mereka yang sengaja memutarbalikkan penalaran untuk menolak argumentasi yang dikemukakan demi Islam. Islam adalah sebuah agama yang hidup. Seseorang yang bisa membedakan di antara apa yang mati dan yang hidup, bagaimana mungkin ia mengesampingkan Islam dan menganut agama yang sudah mati?<br />
(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 180-181,  London, 1984).</p>
<p>Sumber : Esensi Ajaran Islam, jilid 1</p>
<p>http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&#038;task=view&#038;id=163&#038;Itemid=1</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=63&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-islam-agama-yang-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ahmadiyah : Pendiri Ahmadiyah : Perlunya Agama Islam</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-perlunya-agama-islam/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-perlunya-agama-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 10:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Para Pemimpin Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ta&#039;lim]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyat]]></category>
		<category><![CDATA[Umur Kharikiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Adalah bodoh untuk membayangkan bahwa beberapa hal yang dikemukakan dalam kitab Injil sebagai agama. Semua hal yang yang esensial bagi kesempurnaan manusia harus tercakup dalam ruang lingkup suatu agama. Agama harus mencakup semua hal yang menuntun manusia dari kondisi alamiah liarnya kepada kondisi kemanusiaan yang sebenarnya, dan dari sana membawa manusia ke tingkatan hidup yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=60&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah bodoh untuk membayangkan bahwa beberapa hal yang dikemukakan dalam kitab Injil sebagai agama. Semua hal yang yang esensial bagi kesempurnaan manusia harus tercakup dalam ruang lingkup suatu agama. Agama harus mencakup semua hal yang menuntun manusia dari kondisi alamiah liarnya kepada kondisi kemanusiaan yang sebenarnya, dan dari sana membawa manusia ke tingkatan hidup yang bijak, setelah itu membawanya lagi kepada kehidupan yang sepenuhnya merupakan pengabdian kepada Allah s.w.t. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 89, London, 1984).<br />
* * *<br />
Tidak ada keraguan bahwa kitab Injil tidak ada memberikan jalan bagi pemeliharaan pohon kemanusiaan. Kita ini turun di bumi dengan berbagai kemampuan dan sifat, dimana setiap kemampuan itu layaknya digunakan pada tempatnya yang tepat. Injil hanya menekankan kepada sifat “rendah hati”. dan “kelembutan.”. Sifat rendah hati dan pengampun memang merupakan sifat yang baik jika digunakan pada saat yang tepat, tetapi jika digunakan pada setiap keadaan maka hal itu akan membawa kerusakan dahsyat. Kehidupan budaya manusia terdiri dari saling pengaruh mempengaruhinya berbagai bentuk tabiat yang menuntut bahwa kita harus menggunakan sifat-sifat kita secara bijak pada saat yang tepat. Memang benar bahwa pada beberapa keadaan, sifat pengampun dan tabah akan memberikan manfaat material dan spiritual kepada orang yang menyakiti kita. Tetapi pada keadaan lain, penggunaan sifat tersebut hanya akan menggalakkan si pendosa tersebut untuk melakukan kejahatan yang lebih besar dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Kehidupan keruhanian kita dalam banyak hal menyerupai kehidupan phisikal. Berdasarkan pengalaman kita mengetahui bahwa memakan satu jenis makanan atau obat saja sepanjang waktu akan merusak kesehatan kita. Jika kita membatasi diri untuk suatu waktu panjang hanya menyantap makanan yang bersifat dingin dan sama sekali tidak makan sesuatu yang menghangat¬kan maka kita akan mudah terkena beberapa jenis penyakit seperti kelumpuhan, Parkinson atau epilepsi. Sebaliknya kalau kita membatasi diri pada unsur-unsur makanan yang hangat saja, dimana air minum pun harus panas, maka kita juga cenderung akan terkena beberapa jenis penyakit lainnya. Karena itu untuk menjaga kesehatan tubuh, kita harus menjaga keseimbangan di antara panas dan dingin, di antara yang keras dan yang lunak dan antara dinamika gerakan dengan istirahat. Menyangkut kesehatan ruhani, kita juga harus mengikuti ketentuan yang sama. Sesungguhnya tidak ada sifat yang sendirinya secara murni bisa dikatakan buruk. Adalah penyalahgunaan daripada sifat itu yang menjadikannya buruk. Sebagai contoh, sifat iri hati dikatakan buruk, tetapi jika kita menggunakannya untuk tujuan yang baik seperti berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, maka sifat iri demikian menjadi akhlak yang mulia. Begitu juga dengan sifat-sifat akhlak lainnya. Penyalah¬gunaan sifat itu akan menjadikannya merusak, tetapi pemanfaatan¬nya pada saat yang tepat dengan cara yang layak akan menjadikannya bermaslahat. Karena itu merupakan kesalahan untuk memotong cabang-cabang lain dari pohon kemanusiaan dan hanya menekankan pada “pengampunan”. dan “ketabahan”. saja. Karena itulah ajaran tersebut telah gagal dalam tujuannya dan para penguasa di negeri-negeri Kristiani harus menerapkan norma-norma hukum untuk penghukuman mereka yang bersalah. Kitab Injil yang sekarang ini tidak bisa menghasilkan penyempurnaan harkat kemanusiaan. Sebagaimana bintang-bintang mulai memudar dan kemudian menghilang dengan munculnya sang surya, begitu juga halnya dengan Injil dibanding dengan Al-Qur’an. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 66-67, London, 1984).<br />
* * *<br />
Telaah atas berbagai agama di dunia mengungkapkan bahwa setiap agama, kecuali Islam, mengandung berbagai kesalahan. Hal ini bukan karena sumbernya adalah salah, tetapi karena setelah turunnya agama Islam,  Allah s.w.t. tidak lagi mendukung agama-agama lain sehingga agama-agama itu menjadi seperti taman-taman yang tidak lagi mempunyai tukan kebun untuk merawat, mengairi dan memeliharanya sehingga secara berangsur taman itu jadi melapuk. Pohon-pohon buah mereka jadi meranggas dan mandul, sedangkan semak dan duri merayap meliputi semuanya. Agama-agama itu kehilangan semangat keruhanian yang menjadi dasar dari semua agama, dan tidak ada lagi yang tersisa selain kata-kata usang. Allah s.w.t. tidak membiarkan hal seperti itu terjadi pada agama Islam karena Dia menginginkan agar taman ini harus subur berkembang selamanya. Dia telah mengatur agar di tiap abad ada yang mengurus pengairannya sehingga taman itu tidak menjadi terlantar. Meski pun pada awal setiap abad ketika diutus seorang hamba Allah untuk memperbaiki, orang-orang yang bodoh selalu menentang dan menolak perubahan atas apa pun yang telah menjadi kebiasaan mereka, namun Allah yang Maha Kuasa tetap bersiteguh dengan cara-Nya. Pada akhir zaman ini pun yang merupakan saat pertempuran terakhir di antara petunjuk kebenaran dan kebatilan, di awal abad keempatbelas karena melihat bagaimana umat Islam menjadi tidak perduli dan acuh, Allah s.w.t. kembali menunaikan janji-Nya dan menyiapkan kebangkitan kembali Islam. Hanya saja agama-agama lain tidak pernah disegarkan kembali setelah kedatangan Yang Mulia Rasulullah s.a.w. sehingga agama-agama itu mati jadinya. Tidak ada lagi kehidupan keruhanian dalam agama-agama itu dan kebatilan berakar di tengah mereka seperti halnya debu yang berakumulasi di pakaian yang tidak pernah lagi dicuci. Orang-orang yang tidak mempunyai perhatian atas keruhanian dan tidak terbebas dari noda eksistensi keduniawian, malah membuat agama-agama itu membusuk sehingga sama sekali tidak lagi mirip dengan keadaan pada awal ketika agama tersebut diturunkan. Ambillah sebagai contoh agama Kristen, betapa murninya agama itu pada awalnya. Ajaran yang diberikan Nabi Isa a.s. memang tidak sesempurna ajaran Al-Qur’an karena saat itu belum waktunya manusia menerima wahyu ajaran yang sempurna dan mereka belum cukup kuat untuk menanggungnya, namun ajaran tersebut amat baik dan cocok untuk zamannya. Ajaran itu juga menuntun manusia kepada Tuhan yang sama sebagaimana disuratkan oleh Taurat, hanya saja setelah Nabi Isa a.s., tuhannya umat Kristen menjadi tuhan yang lain yang tidak ada disebut dalam Taurat dan tidak dikenal sama sekali oleh Bani Israil.</p>
<p>Keimanan kepada tuhan yang baru ini telah menjungkir-balikkan sistem Taurat dan semua ajaran yang terkandung di dalamnya karena pelepasan dari dosa dan upaya pencapaian keselamatan haqiqi serta kehidupan yang suci, menjadi kacau balau. Keselamatan dan pelepasan dari dosa sekarang menjadi bergantung pada kepercayaan bahwa Yesus menerima penyaliban sebagai penebusan umat manusia dan bahwa beliau adalah Tuhan itu sendiri. Banyak sekali kaidah-kaidah tetap dari Taurat yang telah diubah dan agama Kristen menjadi begitu berubah sehingga jika misalnya Yesus turun lagi ke dunia maka beliau tidak akan lagi mengenalinya sebagai ajaran yang dibawanya. Ajaib sungguh bahwa manusia yang diperintahkan untuk mentaati Taurat, lalu tiba-tiba mengesampingkan ajaran-ajarannya. Sebagai contoh, meski pun Injil menyatakan bahwa Taurat melarang makan daging babi, namun hal itu sekarang diperkenankan. Begitu juga Injil menyatakan bahwa walaupun Taurat mengharuskan khitan, tetapi sekarang hal itu malah dilarang. Hal-hal seperti ini dan apa yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Isa a.s. malah menjadi bagian dari agama Kristen. Hanya saja, karena memang sudah menjadi bagian dari rencana Allah s.w.t. untuk menegakkan sebuah agama yang universal yang bernama Islam, maka semua kelapukan dari agama Kristen menjadi indikasi dari kemunculan Islam. Begitu juga diketahui bahwa agama Hindu sudah melapuk jauh sebelum kedatangan agama Islam dimana di seluruh bagian India, penyembahan berhala sudah menjadi hal yang umum. Bagian dari pembusukan itu berasal dari aqidah bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak tergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan sifat-sifat-Nya, dalam pandangan bangsa Arya dianggap amat bergantung kepada yang lainnya dalam penciptaan alam semesta. Aqidah seperti ini melahirkan aqidah salah lainnya yang mengatakan bahwa semua partikel massa dan semua jiwa bersifat abadi dan ada berwujud tanpa diciptakan. Kalau saja mereka mempelajari secara mendalam sifat-sifat Tuhan, maka mereka tidak akan mungkin mengatakan hal demikian. Jika dalam pelaksanaan sifat-sifat abadi-Nya dalam kegiatan penciptaan ternyata Tuhan harus bergantung kepada yang lain seperti halnya manusia, lalu bagaimana mungkin Dia dalam sifat mendengar dan melihat menjadi tidak terlalu bergantung sebagaimana halnya manusia. Manusia tidak bisa mendengar tanpa perantaraan udara dan tidak bisa melihat tanpa bantuan cahaya. Apakah Tuhan juga bergantung pada cahaya dan udara untuk melihat dan mendengar? Jika Dia tidak bergantung demikian maka yakinlah bahwa Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam melaksanakan sifat-sifat-Nya ketika kegiatan penciptaan.</p>
<p>Adalah salah sama sekali menyangka bahwa Dia bergantung kepada yang lain dalam pelaksanaan atribut-atribut-Nya. Adalah salah sama sekali melekatkan atribut kelemahan manusia kepada Tuhan, seperti dikatakan bahwa Dia tidak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan sama sekali. Keadaan manusia itu terbatas adanya sedangkan keadaan Tuhan itu tanpa batas. Atas dasar kekuasaan Wujud-Nya, Dia itu bisa saja menciptakan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi inti pokok dari konsep ke-Tuhan-an. Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan sifat-sifat-Nya karena jika demikian adanya maka Dia bukanlah Tuhan. Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Jika Dia bermaksud menciptakan langit dan bumi secara seketika, maka Dia akan bisa melakukannya. Dari antara umat Hindu yang memiliki selain pengetahuan juga menganut keruhanian serta tidak bergantung kepada logika dasar, mereka ini tidak mengimani Tuhan sebagaimana yang dikemukakan bangsa Arya saat ini. Semua ini adalah akibat dari ketiadaan keruhanian di dalam agama tersebut.</p>
<p>Semua pembusukan agama, beberapa di antaranya bahkan tidak layak disebut dan bertentangan dengan kesucian kemanusiaan, merupakan indikasi perlunya ada agama Islam. Setiap orang yang berpikir pasti mengakui bahwa sejenak sebelum turunnya Islam, agama-agama lain telah membusuk dan kehilangan keruhaniannya. Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah seorang pembaharu akbar dalam bidang kebenaran yang telah mengembalikan kebenaran kepada dunia. Tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai beliau dalam kebanggaan bahwa beliau menjumpai dunia ini dalam kegelapan dan dengan turunnya beliau lalu merubah kegelapan menjadi Nur. (Khutbah Sialkot berjudul “Islam,”. Sialkot, Mufid  Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 203-206,  London, 1984).</p>
<p>Sumber : Esensi Ajaran Islam, jilid 1</p>
<p>http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&#038;task=view&#038;id=165&#038;Itemid=42</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=60&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/ahmadiyah-pendiri-ahmadiyah-perlunya-agama-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khalifah Ahmadiyah : Beberapa Ciri Khas Islam Yang Istimewa</title>
		<link>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/khalifah-ahmadiyah-beberapa-ciri-khas-islam-yang-istimewa/</link>
		<comments>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/khalifah-ahmadiyah-beberapa-ciri-khas-islam-yang-istimewa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 10:25:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jamaluddin Feeli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Para Pemimpin Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[27 Agustus 2006 – Oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad Penterjemah : Muharim Awaludin Publikasi oleh : www.ahmadiyya.or.id Tulisan ini merupakan naskah ceramah yang disampaikan oleh Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV r.a. di Canberra, Australia. Tak Ada Monopoli Kebenaran Manakala berbicara mengenai masalah ciri-ciri khas Islam yang istimewa adalah, ciri khas pertama dan paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=58&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>27 Agustus 2006 – Oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad</p>
<p>Penterjemah  : Muharim Awaludin</p>
<p>Publikasi oleh  : www.ahmadiyya.or.id</p>
<p>Tulisan ini merupakan naskah ceramah yang disampaikan oleh Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV r.a. di Canberra, Australia.</p>
<p><strong>Tak Ada Monopoli Kebenaran</strong></p>
<p>Manakala berbicara mengenai masalah ciri-ciri khas Islam yang istimewa adalah, ciri khas pertama dan paling menarik yang menekankan satu hal, yang paling menarik bahwa Islam tak mendakwakan mempunyai monopoli kebenaran, dan bahwa tak ada kebenaran dalam agama-agama lain. Tidak pula ia mendakwa bahwa bangsa Arab saja yang telah menjadi penerima kasih sayang Tuhan. Islam merupakan satu-satunya agama yang secara total menolak pandangan bahwa kebenaran merupakan monopoli dari suatu agama, ras atau masyarakat tertentu; bahkan, ia mengakui bahwa petunjuk Ilahi adalah satu anugrah umum yang telah menghidupi umat manusia di segala zaman. Al-Qur’an memberitahu kita bahwa tak ada satu ras atau masyarakat, yang tidak diberkati dengan anugrah petunjuk Ilahi, dan tidak pula ada kawasan di bumi ini atau pun sekelompok masyarakat yang tidak menerima (diutus) nabi-nabi dan rasul-rasul Tuhan (35:35). Berlawanan dengan seluruh pandangan dunia ini Islam mengakui perwujudan Anugrah Allah atas semua orang di bumi ini, kita dikuatkan dengan kenyataan bahwa tak ada kitab atau agama lain mengakui atau bahkan menyebutkan kemungkinan orang-orang dan kaum-kaum lain telah menerima cahaya dan petunjuk dari Allah pada suatu babak dalam sejarah. Sebenarnya, kebenaran dan keabsahan agama setempat atau kedaerahan sering begitu besar ditekankan, dan kebenaran agama-agama lain diabaikan secara total, seakan-akan Tuhan menjaga hanya satu agama, satu kaum dan satu ras saja, mengasingkan seluruh penghuni lain dari bumi ini seakan-akan matahari kebenaran hanya terbit dan terbenam pada cakrawala terbatas dari satu kaum tertentu [maka] untuk dunia selebihnya, katakanlah, dilupakan dan dikutuk dalam kegelapan abadi. Misalnya, Al-kitab (Bibel) hanya mengemukakan Tuhan bangsa Israel, dan ia secara berulang-ulang mengatakan:</p>
<p>“Maka beberkatlah Tuhan, Allah orang Israel.” (1Tawarikh 16:36).</p>
<p>Ia tidak mengakui, bahkan secara sambil lalu, kebenaran wahyu agama-agama yang diberikan kepada negeri-negeri dan kaum-kaum lain. Maka, kepercayaan Yahudi bahwa para nabi Bani Israil saja yang diutus kepada suku-suku bangsa Israel adalah sepenuhnya sesuai dengan maksud dan pesan Al-kitab (Bibel). Nabi Isa juga menyatakan bahwa kedatangan beliau dimaksudkan untuk petunjuk suku-suku Ibrani saja, dan telah bersabda,</p>
<p>“Aku diutus hanya kepada domba-domba yang sesat dari umat Israel” (Matius 15:24),</p>
<p>dan beliau menasihati murid-murid beliau dengan kata-kata:</p>
<p>“Jangan berikan kepada anjing barang yang suci, dan jangan memberikan mutiara kepada babi.” (Matius 7:6).</p>
<p>Sama halnya, agama Hindu juga menisbahkan dalam kitabnya hanya kepada orang-orang dari golongan tinggi. Dikatakan,</p>
<p>“Jika seorang dari golongan rendah (sudra) kebetulan mendengar satu kalimat dari Weda, Raja hendaklah menutup telinganya dengan lilin dan timah cair. Dan dia yang membaca sebagian dari kitab suci, lidahnya harus dipotong; dan jika dia terus membaca Weda, tubuhnya harus dipotong-potong.” (Gotama Smriti : 12).</p>
<p>Bahkan jika kita tak mengakui pernyataan-pernyataan berlebih-lebihan seperti itu, atau menyodorkan beberapa penjelasan yang lebih sederhana dari pada mereka, kenyataannya tetap bahwa kitab-kitab suci berbagai agama, bahkan dengan isyarat, tidak menyinggung kebenaran agama-agama dari negeri-negeri dan kaum-kaum lain. Masalah pokok yang timbul di sini adalah, bahwa jika seluruh agama ini ternyata benar, maka apa hikmah menyajikan konsep Tuhan dalam istilah yang demikian ketat dan terbatas? Al-Qur’an siap menyediakan pemecahan masalah ini. Ia mengatakan bahwa bahkan sebelum pewahyuan Al-Qur’an dan kedatangan Nabi Suci Muhammad (s.a.w.), Utusan-utusan Ilahi sungguh telah diutus kepada setiap bangsa dan setiap bagian bumi, tapi lingkup mereka adalah kedaerahan dan tugas mereka terbatas zamannya. Ini karena peradaban umat manusia belum mencapai tahap perkembangan yang memanfaatkan pengutusan seorang rasul universal, yang membawa pesan universal.</p>
<p><strong>Sebuah Agama Universal</strong></p>
<p>Lembaran paling awal dari Al-Qur’an Suci memuji Tuhan Yang adalah Pemelihara seluruh dunia, dan dalam ayat-ayat terakhirnya mendorong kita untuk berdo’a kepada Tuhan manusia. Maka, kata-kata dari Al-Qur’an Suci yang awal dan yang akhir kedua-duanya menyajikan konsep keutuhan semesta, dan tidak [mengenai] Tuhan dari bangsa Arab atau orang-orang Muslim belaka. Sesungguhnya, tak seorang pun sebelum Nabi Suci Islam (s.a.w) telah mengisyaratkan seluruh umat manusia, dan tak sebuah kitab pun sebelum Al-Qur’an Suci telah merujuk pada seluruh dunia. Pertama pendakwaan seperti itu dibuat dalam menyokong Nabi Suci Islam (s.a.w.) dalam kata-kata:</p>
<p>“Dan tidaklah Kami utus engkau melainkan sebagai pembawa kabar suka dan pemberi peringatan untuk seluruh umat manusia, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS:34 : 29).</p>
<p>Dan kemudian,</p>
<p>“Katakanlah ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang rasul Allah untuk kamu sekalian’.” (7 : 159).</p>
<p>Dan ketika Al-Qur’an menyebut dirinya</p>
<p>“sebuah pesan untuk seluruh dunia” (QS:81:28),</p>
<p>ia mengangkat dirinya sebagai petunjuk yang dihubungkan dengan perkembangan dan manfaat manusia yang sejati.</p>
<p>Al-Qur’an secara berulang-ulang telah disebut sebagai ‘Pembukti’ kitab-kitab lain dan kaum muslimin diwajibkan untuk mempercayai semua nabi lain dengan cara yang tepat sama dengan mereka mempercayai nabi mereka sendiri. Dalam keimanan kita, adalah terlarang untuk membuat perbedaan di antara mereka, mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian yang lain. Al-Qur’an mengatakan:</p>
<p>”[Kami] semua beriman kepada Allah, dan malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya [serta] berkata, ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya’.” (2 : 286).</p>
<p>Tidak boleh tanpa guna untuk menerangkan jika ke-universal-an itu sendiri adalah satu ciri khas yang dapat diharapkan, dan mengapa Islam telah meletakkan tekanan yang demikian besar terhadapnya. Bahkan sejak Islam membawa pesan persatuan umat manusia, derap langkah ke arah persatuan seperti itu telah terus dipercepat pada setiap lapisan. Sebuah contoh dari langkah ini di zaman kita adalah berdirinya berbagai badan dan persatuan antar bangsa. Sesungguhnya, hal ini merupakan tonggak-tonggak sepanjang perjalanan yang panjang dan berliku-liku ke arah persatuan di kalangan seluruh umat manusia. Maka, keperluan yang dirasakan secara tajam oleh masyarakat yang maju dan beradab hari ini, telah digenapi dengan penanaman benih pemenuhannya dalam pesan Islam 1400 tahun yang lalu. Hari ini, tentunya, perkembangan perjalanan dan perhubungan yang cepat telah memberikan satu daya dorong baru yang bergerak ke arah persatuan di kalangan kaum-kaum dan bangsa-bangsa.</p>
<p><strong>Perbedaan Dan Pertentangan Di Antara Agama-Agama – Hakikatnya</strong></p>
<p>Satu pertanyaan yang timbul adalah; jika seluruh agama sebenarnya didirikan oleh para utusan dari Tuhan, maka mengapa ada perbedaan-perbedaan dalam ajaran-ajaran mereka? Dapatkah Tuhan yang sama menurunkan ajaran-ajaran yang berbeda? Pertanyaan ini dijawab oleh Islam saja, dan hal ini, juga, merupakan satu ciri khas istimewa dari agama ini. Islam berpegang bahwa ada dua penyebab dasar perbedaan-perbedaan antara berbagai agama. Pertama, bahwa keadaan-keadaan berbeda menghendaki ketentuan dan aturan yang berbeda, dan Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana telah menyediakan petunjuk untuk zaman, kawasan dan kaum-kaum yang berbeda menurut keperluan-keperluan mereka masing-masing. Kedua, kandungan-kandungan [ajaran] berbagai agama memudar dan layu di bawah pengaruh zaman, sehingga ajaran-ajaran itu tidak tampil dalam bentuk aslinya. Dalam beberapa hal, para pengikutnya sendiri memperkenalkan bid’ah-bid’ah (tambahan-tambahan) dan perubahan-perubahan untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan yang berubah, dan kitab-kitab yang asalnya diwahyukan terus dicampur tangani untuk tujuan ini. Secara nyata, penodaan pada Pesan Ilahi semacam itu akhirnya memerlukan petunjuk yang segar (baru) dari Sumber Asli. Sebagaimana Tuhan telah berfirman dalam Al-Qur’an:</p>
<p>“Mereka menyelewengkan kalimat-kalimat dari tempat-tempat yang selayaknya dan telah melupakan bagian yang baik yang dengannya mereka dinasihati.” (QS:5:14).</p>
<p>Jika kita uji sejarah perbedaan-perbedaan antara berbagai agama dengan cahaya prinsip-prinsip yang diterangkan oleh Al-Qur’an, kita jumpai bahwa perbedaan-perbedaan cenderung berkurang sebab kita menuju lebih dekat ke sumbernya sendiri. Misalnya, jika kita batasi perbandingan ajaran Kristen dan Islam hanya pada kehidupan Yesus (Nabi Isa) dan empat kitab Injil, maka hanya akan tampak perbedaan-perbedaan yang sangat kecil (sedikit) antara ajaran-ajaran pokok Al-kitab (Bibel) dan Al-Qur’an. Tapi, karena kita melangkah lebih jauh dalam perjalanan zaman, jurang perbedaan-perbedaan ini menjadi lebih lebar dan makin lebar, hingga hal itu menjadi tak terjembatani secara total – dan semua karena usaha-usaha manusia untuk mengubah apa yang awalnya diwahyukan. Sejarah agama-agama lain juga mengungkapkan kenyataan yang pada dasarnya sama, dan kita menjumpai bukti-bukti kuat dari pandangan Al-Quran, yang menunjukkan perubahan dan campur tangan manusia pada Pesan Ilahi, yang selalu berupa dari penyembahan kepada Satu Tuhan menjadi lebih dari satu, dan dari kenyataan menjadi khayalan, dari kemanusiaan menjadi pendewaan manusia.</p>
<p>Al-Quran memberi tahu kita bahwa cara yang paling pasti untuk mengenali kebenaran agama, meskipun nyata kekurangannya, adalah menguji asal mulanya. Jika asalnya mengungkapkan ajaran keesaan Tuhan, tidak menyembah kecuali kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta kepedulian sejati dan ikhlas kepada seluruh umat manusia, maka agama seperti itu, walaupun nyata-nyata berubah, mesti diterima (diakui) sebagai [agama yang] benar. Para pendiri (pembawa) agama yang memenuhi persyaratan ini, adalah benar-benar wujud suci dan saleh, serta utusan-utusan sejati yang diutus oleh Tuhan, di antara mereka kita hendaknya tak membuat perbedaan dan terhadap mereka kita wajib beriman sepenuhnya. Mereka mempunyai tanda-tanda dasar yang pasti untuk semua tanpa memandang perbedaan zaman dan tempat. Maka uraian Al-Qur’an Suci:</p>
<p>Terjemahan: Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah, dengan ikhlas kepada-Nya dalam ketaatan, dan lurus, dan mendirikan shalat, dan membayar zakat. Dan itulah agama kaum yang menempuh jalan yang lurus. (QS:98:6).</p>
<p><strong>Sebuah Agama Abadi</strong></p>
<p>Satu ciri khas istimewa Islam lainnya adalah, bahwa ia tidak hanya mendakwakan ciri khas universalnya, tapi juga adalah abadi, dan kemudian ia selanjutnya memenuhi syarat pendakwaan seperti itu. Misalnya, sebuah pesan dapat menjadi abadi hanya jika ia lengkap dan sempurna dalam segala segi, dan juga dijamin dengan pemeliharaan untuk kemurnian isi kandungannya. Dengan kata lain, kitab yang diwahyukan itu hendaklah membawa jaminan Ilahi perubahan dan campur tangan manusiawi. Sejauh hubungannya dengan ajaran Al-Quran, Allah Ta’ala Sendiri menyatakan dalam Al-Quran:</p>
<p>“Hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridhai bagi kalian Islam sebagai agama.” (QS:5:4).</p>
<p><strong>Pemeliharaan Al-Qur’an</strong></p>
<p>Seperti telah saya katakan, untuk satu ajaran yang abadi, hal itu tidak cukup bahwa ia harus lengkap dan sempurna belaka, melainkan hendaklah ada juga satu jaminan untuk penjagaannya yang terus-menerus dalam bentuk aslinya. Al-Qur’an memenuhi tuntutan mendasar ini, dan Dia Yang menurunkan Al-Quran telah menyatakannya dalam bahasa yang sejelas-jelasnya:</p>
<p>“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan kitab ini dan sesungguhnya Kami menjadi Penjaga baginya.” (QS:15:10)</p>
<p>Dengan kata lain, Tuhan Sendiri akan menjaganya dan tak akan pernah membiarkannya dicampur tangani. Satu cara pemeliharaan teks telah diadakan, yang sesuai dengan Kehendak Ilahi, telah selalu ada ratusan ribu orang di sepanjang masa yang menetapkan teks Al-Qur’an untuk dihafalkan, dan amalan ini berlanjut hingga hari ini. Dan cara pemeliharaan yang prinsip ini benar-benar penting dan isi kandungan pesan itu telah menjadi sunnah Ilahi dengan mengangkat Para Pembimbing dan Mujaddid di setiap abad, dan menubuatkan kedatangan seorang Mujaddid dan Pembaharu Agung di akhir zaman. Beliau diutus sebagai pemimpin ruhani oleh Allah Ta’ala Sendiri dan di bawah petunjuk Ilahi, adalah untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan dan persengketaan di kalangan para pengikut Islam, dengan demikian menjaga ruh Al-Qur’an Suci yang hakiki.</p>
<p>Tentu saja, ada persoalan mengenai apakah pendakwaan Al-Quran tentang pemeliharaannya juga disokong oleh bukti nyata yang dapat dipercaya.</p>
<p>Satu petunjuk untuk menjawab pertanyaan ini terletak pada kenyataan bahwa ada sejumlah besar peneliti non Muslim yang, walaupun mereka [lakukan] sendiri, telah gagal total untuk menunjukkan bahwa teks Al-Qur’an telah dicampur tangani sedikit pun sesudah wafatnya Nabi Suci Islam (s.a.w.). Sebenarnya, ada banyak peneliti non Muslim yang telah merasa terdorong, sesudah penelitian luas mereka di bidang ini, untuk mengakui secara terbuka bahwa Al-Qur’an sungguh telah terpelihara dan terjaga dalam bentuknya yang asli. Misalnya, Sir William Muir dalam karyanya, The Life Of Muhammad, berkata: “Kita boleh, berdasarkan dugaan terkuat, yakin bahwa setiap ayat adalah susunan yang asli dan tak berubah dari Muhammad sendiri.” (P. XXVIII) Juga, “Sebaliknya ada setiap penjagaan, luar dan dalam, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri berikan dan gunakan.” (P. XXVII) Kata Noldeke: “Sedikit kesalahan tulis mungkin ada, tapi Al-Qur’an dari Usman mengandung tak lain dari pada unsur-unsur asli, meskipun kadang-kadang dengan cara yang sangat aneh. Usaha-usaha para cendekiawan Eropa untuk membuktikan adanya tambahan-tambahan kemudian dalam Al-Qur’an telah gagal.” (Enc. Brit. 9th Edition under the word: Quran).</p>
<p><strong>Sebuah Agama Yang Sempurna</strong></p>
<p>Sehubungan dengan keistimewaan Islam dan pendakwaannya yang khas bahwa ajaran Al-Qur’an adalah lengkap dan sempurna dan sepenuhnya sesuai untuk menuntun manusia di segala zaman, hal ini, juga, disokong dengan dalil. Tidak mungkin dalam waktu yang singkat untuk membahas masalah ini secara rinci, dan saya terpaksa membatasi diri dengan satu rujukan ringkas pada beberapa petunjuk prinsip dasar dan contoh gambaran. Pertama, kita harus mengakui betapa Islam berhasil memenuhi tuntutan-tuntutan perubahan zaman, maka tidak perlu suatu perubahan dalam ajaran-ajarannya. Hal itu sungguh mengagumkan untuk mengkaji petunjuk praktis Islam dalam hubungan ini, yang darinya kini saya akan berikan satu contoh belaka di hadapan saudara-saudara:</p>
<p>   1. Hanya Islam yang mengajarkan prinsip-prinsip dasar dan menghindarkan penjelasan terperinci sebab akan memerlukan banyak [keterangan] untuk mengatasi perubahan zaman dan suasana.<br />
   2. Islam sepenuhnya sesuai dengan evolusi akal, kemasyarakatan dan politik manusia, dan ajaran-ajarannya memenuhi untuk segala suasana. Ia tidak hanya mengakui kenyataan bahwa terjadi perubahan dan perkembangan terus-menerus di kalangan bangsa-bangsa, melainkan juga kenyataan bahwa tidak semua kaum tetap dalam keadaan perkembangan mereka pada suatu masa. Misalnya, adalah mungkin bahwa bumi ini masih ada bagian yang dihuni oleh masyarakat Zaman Batu, dan sebagian kaum dan suku mungkin masih berada seribu tahun di belakang zaman kita, bahkan meskipun kita mengalami zaman yang sama. Akal, sosial dan politik mereka mungkin berasal dari zaman yang jauh di belakang. Saya yakin kita semua akan setuju bahwa akan sangat bodoh untuk memaksakan ideologi politik modern kepada penduduk asli Australia, atau Pigmi di Kongo (Afrika).<br />
   3. Islam adalah satu agama yang menentramkan fitrat manusia dan memenuhi segala keperluan umat manusia. Tak perlu ada perubahan dalam ajaran-ajarannya, jika tidak ada juga perubahan mendasar dalam fitrat manusia, sebuah prospek yang dapat kita tolak sama sekali.</p>
<p>Inilah beberapa segi dari prinsip-prinsip ajaran Islam; saya kini akan membahasnya agak lebih jauh supaya penyajian saya boleh dipahami lebih banyak.</p>
<p><strong>Zakat Vs Riba</strong></p>
<p>Islam mengutuk lembaga riba (uang bunga) dalam segala bentuknya dan secara kuat mendorong penghapusannya secara keseluruhan. Dengan dorongan kuat ia menyediakan pengganti riba, untuk menggerakkan roda ekonomi, yang disebut zakat. Secara jelas, saya tidak dapat menjelaskan masalah ini dengan rinci dalam waktu yang tersedia, dan oleh sebab itu, hanya akan mengatakan beberapa patah kata atas dasar yang diambil oleh Al-Quran untuk menyajikan inti sari dari ajaran-ajarannya pada kesempatan penting ini. Zakat adalah satu sistem modal pajak, diwujudkan (diambil) dari orang-orang kaya. Selain dari memenuhi keperluan-keperluan negara, pajak ini dimaksudkan untuk memenuhi keperluan-keperluan kaum miskin. Dengan kata lain, sistem ini bukan hanya memenuhi tuntutan-tuntutan kerja pemerintah, melainkan juga menjamin pemenuhan tuntutan keperluan kesejahteraan sosial. Semua itu telah dikerjakan untuk meletakkan prinsip dasar, meninggalkannya kepada mereka dengan pengertian dan pemahaman untuk menetapkan perinciannya sesuai dengan keadaan yang timbul pada waktu yang ditetapkan. Al-Qur’an mengatakan bahwa dalam harta kekayaan mereka yang memiliki lebih banyak dari pada keperluan-keperluan pokok mereka, juga ada bagian untuk mereka yang tidak mampu memenuhi keperluan-keperluan pokok mereka dan dianggap tertekan dalam lingkungan mereka. Ini secara jelas menguatkan bahwa merupakan hak setiap orang untuk mendapatkan keperluan-keperluan dasar hidup tertentu yang disediakan untuknya di setiap kawasan dan masyarakat, dan mereka yang bertanggung jawab untuk memenuhi kewajiban ini adalah orang-orang yang memiliki lebih dari pada keperluan-keperluan pokok mereka, menyerahkan kepada negara untuk memutuskan pelaksanaannya, yang menjamin bahwa sistem itu seimbang, adil serta layak dan secara memadai memenuhi tujuan pokoknya.</p>
<p><strong>Petunjuk-Petunjuk Dalam Masalah Politik</strong></p>
<p>Persoalan besar internasional lainnya yang kita hadapi hari ini adalah penetapan bentuk pemerintahan yang diberikan untuk satu kawasan atau Negara. Di sini, juga, prinsip-prinsip petunjuk Islam adalah begitu berkaitan, berbobot dan luwes (tidak kaku) sehingga kebenaran dan pengamalannya sendiri menjadi bukti nyata. Tak seorang pun dapat mengingkari bahwa satu bentuk pemerintahan tertentu dipertimbangkan sesuai atau tak sesuai hanya apabila diterapkan keadaan-keadaan tertentu, adalah khayalan untuk memikirkan bahwa satu sistem politik tertentu dapat memenuhi keperluan-keperluan setiap kaum untuk segala zaman. Inilah sebabnya mengapa Islam tidak mengkhususkan satu bentuk pemerintahan tertentu. Ia tidak menyajikan bentuk demokrasi atau sosialis, tidak pula mengusulkan kerajaan atau diktator. Bahkan memperluas cara-cara pemerintahan yang berdiri, Islam menerangkan prinsip pelaksanaan urusan-urusan politik dan pemerintahan dengan cara yang khas, dan menentukan syarat bahwa, tak masalah apa pun bentuknya, tanggung jawab pemerintah akan selalu diwajibkan dengan [bertindak] secara adil dan wajar, dengan simpati; selalu memenuhi dan menjunjung hak-hak asasi manusia. Maka, Al-Qur’an dari pada menekankan bagian pertama definisi demokrasi yang diterima secara umum, yakni,</p>
<p>“pemerintahan oleh rakyat:, Islam menekankan bahwa, apa pun bentuk pemerintahan, ia wajib dalam semua kejadian adalah: untuk rakyat.”</p>
<p>Maka apabila demokrasi disebutkan di antara bentuk-bentuk pemerintahan yang sungguh-sungguh menekankan kualitasnya. Ditekankan bahwa itu hendaknya tidak merupakan satu demokrasi palsu, tapi seharusnya bahwa orang-orang yang dipilih [jadi] pemimpin mereka adalah orang-orang yang mampu, berniat dengan segala kejujuran untuk memilih hanya mereka yang benar-benar layak dan mampu bertugas. Hal ini telah dijadikan prasyarat untuk pemilihan satu jabatan oleh Al-Qur’an. Dikatakan:</p>
<p>“Sesungguhnya, Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya dan ketika kalian memutuskan di antara manusia maka putuskanlah dengan adil.” (QS:4:59).</p>
<p>Dan kemudian, apa pun hasil pemerintahan yang mungkin berdiri, ia berkewajiban untuk memerintah dengan adil, tanpa membeda-bedakan ras, warna kulit, atau keturunan.</p>
<p>Kini saya akan menyimpulkan secara singkat aturan-aturan yang berasal dari dasar-dasar yang diberikan dalam Al-qur’an mengenai sistem pemerintahan:</p>
<p>   1. Suatu pemerintahan terikat kewajiban untuk melindungi kehormatan, kehidupan dan harta benda rakyatnya.(1)<br />
   2. Seorang penguasa wajib bertindak dengan adil, di antara pribadi-pribadi dan di antara masyarakat (2)<br />
   3. Masalah-masalah kaum hendaknya ditetapkan dengan musyawarah.(3)<br />
   4. Pemerintah wajib mengatur untuk memenuhi keperluan-keperluan pokok manusia: katakanlah, menyediakan makanan, pakaian dan tempat tinggal.(4)<br />
   5. Masyarakat hendaklah disediakan lingkungan yang aman dan damai, serta kehidupan, harta dan kehormatan mereka dilindungi.(5)<br />
   6. Sistem ekonomi hendaknya seimbang dan teratur.5)<br />
   7. Pelayanan kesehatan hendaknya ditetapkan.5)<br />
   8. Hendaklah ada kebebasan agama sepenuhnya.(6)<br />
   9. Kaum yang ditaklukkan wajib diperlakukan dengan adil.(7)<br />
  10. Tawanan perang hendaklah diperlakukan dengan cinta kasih.(8)<br />
  11. Perjanjian dan persetujuan wajib dihormati.(9)<br />
  12. Perjanjian-perjanjian berat sebelah tidak boleh dipaksakan atas pihak yang lemah.9)<br />
  13. Warga-warga Muslim diwajibkan taat kepada pemerintah yang berkuasa. Satu-satunya kekecualian untuk aturan ini adalah pada perkara dimana pemerintah secara nyata menentang dan mencegah pengamalan kewajiban agama.(10)<br />
  14. Jika timbul perbedaan dengan penguasa, maka hal ini harus dikembalikan dengan berpedoman pada prinsip yang ditetapkan Al-Qur’an dan Nabi Suci (s.a.w.). Tak seorang pun akan diarahkan dengan niat pribadi.(11)<br />
  15. Masyarakat digalakkan untuk membantu penguasa dengan menyokong rancangan-rancangan yang bertujuan untuk meningkatkan kebaikan dan kesejahteraan umum. Adalah terlarang untuk melancarkan apa yang disebut gerakan non-koperasi.(12) Sama halnya, pemerintah juga diwajibkan untuk membantu dalam tindakan-tindakan yang bermanfaat, apakah secara perorangan atau kelompok, dan jangan menghalangi usaha-usaha semacam itu.<br />
  16. Suatu Negara dilarang melakukan tindakan agresi terhadap Negara lain: pengadaan persenjataan diizinkan hanya untuk mempertahankan diri.(13)</p>
<p><strong>Konsep Keadilan Islam</strong></p>
<p>Saya kini akan mengutip beberapa contoh prinsip Islam yang penting yang mungkin perlu penekanan-penekanan khusus di dunia hari ini. Perhatian awal ajaran Islam pada persamaan dan keadilan. Agama-agama lain tidak menyajikan pengarahan yang mantap mengenai peraturan keadilan dan persamaan, dan bahkan tidak menyebutkan hal ini sama sekali, yaitu dalam istilah-istilah secara sederhana yang dapat diterapkan pada kita sekarang. Sebenarnya, sebagian dari ajaran-ajaran ini tampak bertentangan secara langsung dengan akal dan perasaan kita masa kini, dan seseorang tidak dapat menyimpulkan kecuali bahwa ajaran-ajaran ini telah rusak atau hanya dimaksudkan untuk tempat dan zaman tertentu. Sebagaimana ajaran Yahudi mengemukakan Tuhan hanya sebagai Tuhan bangsa Israel dengan mengecualikan semua manusia lainnya – maka tak heran, bahwa hal itu bahkan tidak sesuai dengan persoalan pokok Hak Asasi Manusia juga.</p>
<p>Untuk Hindu tampak sepenuhnya bahwa tidak hanya berlawanan dengan non Hindu tapi juga kepada kaum Hindu dari kasta rendah, mempersempit lingkup kasih sayang Tuhan kepada kelompok yang lebih kecil dari umat manusia. Ajaran Hindu menetapkan:</p>
<p>“Jika seorang Brahmana tak dapat mengembalikan pinjaman kepada seseorang dari kasta yang lebih rendah, yang lain tak punya hak menuntut pengembaliannya. Tapi jika seseorang dari kasta yang rendah tak dapat mengembalikan pinjaman yang diambil dari seorang Brahmana, dia akan dipekerjakan sebagai buruh untuk Brahmana itu hingga waktunya dia dapat membayar kembali hutang sepenuhnya.” (Manu Smriti 10:35).</p>
<p>Lagi, dalam ajaran Yahudi kita gagal untuk melacak satu konsep keadilan terhadap seorang musuh. Dikatakan:</p>
<p>“Dan Tuhan, Allah-mu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka“.(Ulangan 7:2)</p>
<p>Saya kini akan, dengan cara perbandingan, mengutip beberapa contoh ajaran Islam dalam bidang yang sama. Al-Qur’an memerintahkan – dan saya kutip:</p>
<p>   1. Dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kalian menetapkannya dengan adil. (QS 4:59).<br />
   2. Jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun bertentangan dengan diri kalian sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabat kalian. (QS 4:136).<br />
   3. Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Sebab adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:9).<br />
   4. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS 2:191).<br />
   5. Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS 8:62).</p>
<p>Contoh lain saya ingin mengutip ajaran-ajaran Islam yang abadi berkenaan dengan pembalasan (hukuman) dan pemaafan (pengampunan). Ketika kita membandingkan ajaran-ajaran Islam dalam lingkup ini dengan apa yang ada pada agama-agama lain, kita seketika didorong oleh perintah Perjanjian Lama:</p>
<p>“Mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki“ (Keluaran 21:24).</p>
<p>Tanpa keraguan, penekanan pada pembalasan tidak hanya menyebabkan keheranan, melainkan juga menyedihkan hati kita. Bagaimanapun, saya mengutip contoh ini bukan untuk mengritik ajaran [agama] lain, tapi untuk menunjukkan bahwa, ketika memandang dengan cahaya prinsip Al-Qur’an, bahkan ukuran-ukuran yang begitu drastis kadang-kadang dibenarkan. Al-Qur’an, dengan demikian membantu kita dalam menyikapi pertentangan ajaran-ajaran dari agama-agama lain dengan jiwa simpati dan pengertian, yang juga merupakan ciri khas Islam yang istimewa. Menurut Al-Qur’an, penghapusan hukuman sepenuhnya hanya diputuskan untuk menghadapi keperluan-keperluan khusus pada masanya. Ini perlu untuk memberi hati kepada Bani Israil untuk membuat mereka berani menuntut hak-hak mereka sesudah mereka tetap menjadi korban dan diperbudak dalam masa yang panjang, dan sebagai hasilnya, menjadi penakut dan berubah menjadi kaum yang rendah diri. Secara nyata, dalam suasana demikian, akan tidak tepat untuk menekankan pemaafan, sebab itu hanya akan menjadikan Bani Israil tenggelam lebih dalam pada keadaan mereka dan tidak memberikan mereka rasa percaya diri dan keberanian untuk memutuskan ikatan belenggu keputus asaan. Ajaran ini, oleh sebab itu, benar dan tepat dalam suasana yang diperlukan, dan sungguh diberikan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana. Sebaliknya, ketika kita renungkan Perjanjian Baru, kita jumpai bahwa ada pertentangan dengan Kitab Suci sebelumnya, ia menekankan pengampunan sampai suatu batas yang secara total menghilangkan hak Bani Israil untuk melakukan pembalasan apa pun juga. Dasar yang sebenarnya untuk hal ini adalah bahwa pengamalan ajaran terdahulu selama rentang masa yang panjang, Bani Israil telah menjadi keras hati dan ganas, dan ini hanya dapat diobati dengan mencabut hingga waktu tertentu hak mereka untuk melakukan pembalasan. Inilah sebabnya Nabi Isa (Yesus) memperingatkan mereka:</p>
<p>“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. “(Matius 5:38-40).</p>
<p>Islam menetapkan dua ajaran yang saling berlawanan ini sebagai saling melengkapi, masing-masing sesuai untuk keadaan dan suasana zaman yang ditetapkan, dan oleh sebab itu, tidak dapat mendakwakan sebagai universal atau abadi. Dan hal ini sepenuhnya memberikan dalil, karena manusia masih akan berkembang maju melalui tahap-tahap perkembangan terdahulu dan belum menjadi satu kaum yang dapat dibebani satu hukum syariat terakhir dan universal. Kita percaya bahwa Islam adalah syariat terakhir itu dan menyajikan satu ajaran yang tidak dipengaruhi oleh tempat atau waktu yang kenyataannya dilukiskan oleh ajarannya sebagai bahan pertimbangan (renungan). Al-Qur’an mengatakan:</p>
<p>“Dan balasan suatu kejahatan adalah hukuman yang setimpal, tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik [kepada orang yang berbuat jahat] maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS:42:41).</p>
<p>Maka Islam menggabungkan unsur-unsur terbaik kedua ajaran terdahulu, dengan tambahan penting bahwa pemaafan (pengampunan) diberikan jika menghasilkan suatu perubahan dan perbaikan orang yang bersalah itu, sehingga menjadi tujuan yang benar. Jika tidak, maka hukuman perlu dilakukan, tapi tidak melebihi batas kesalahan [yang dia lakukan]. Sesungguhnya, petunjuk ini sepenuhnya sesuai dengan fitrat manusia dan dapat diamalkan hari ini seperti juga ketika diwahyukan empat belas abad yang lampau.</p>
<p><strong>Beberapa Keistimewaan Lainnya</strong></p>
<p>Pembahasan ciri-ciri khas Islam yang istimewa merupakan satu hal yang sangat luas, dan saya telah dapat menerangkan hanya beberapa segi yang telah saya pilih untuk penyajian ini. Waktu tak akan mengizinkan lebih lama dari pada menerangkan beberapa segi tertentu lainnya yang saya tidak ingin lewatkan:</p>
<p>   1. Islam meyakini Tuhan sebagai Pencipta alam semesta dan menghadirkan Ketunggalan-Nya dalam istilah-istilah yang jelas, berbobot dan menyentuh hati dan akal. Islam menyebut Tuhan sebagai Wujud Yang Sempurna, sumber segala kebaikan dan bebas dari segala kekurangan. Dia adalah Tuhan Yang Hidup menampakkan Kebesaran-Nya di setiap tempat dan Yang mencintai makhluk-makhluk-Nya dan mendengarkan permohonan-permohonan mereka. Tak satu pun dari sifat-Nya berhenti bekerja; Dia, oleh sebab itu, berhubungan dengan manusia seperti dahulu juga, dan tidak menghalangi jalan untuk mencapai Dia secara langsung.<br />
   2. Islam meyakini bahwa tak ada pertentangan antara firman Tuhan dan perbuatan-Nya. Maka, hal itu membebaskan kita dari persaingan tradisional antara ilmu pengetahuan dan agama, dan tidak menuntut manusia untuk mempercayai sesuatu melampaui hukum alam yang ditetapkan-Nya. Dia menggalakkan kita untuk merenungkan [kejadian] alam dan menjadikannya bermanfaat, sebab segala sesuatu telah diciptakan untuk manfaat bagi manusia.<br />
   3. Islam tidak membuat pendakwaan-pendakwaan kosong atau pun memaksa kita untuk mempercayai apa yang kita tidak pahami. Ia menyokong ajaran-ajarannya dengan dalil-dalil dan keterangan, memuaskan akal kita dan juga kedalaman ruh kita.<br />
   4. Islam tidak berdasarkan pada mitos atau dongeng. Ia mengajak setiap orang untuk mengalami sendiri dan berpegang bahwa kebenaran selalu dapat dibuktikan, dalam satu atau lain bentuk.<br />
   5. Kitab Suci Islam yang diwahyukan adalah khas, yang membedakannya dari seluruh agama lainnya. Meskipun mereka berusaha selama berabad-abad, para penentangnya tidak dapat menandingi bahkan sebagian kecil pun dari Kitab luar biasa ini. Kelebihannya tidak hanya terletak pada keunggulan sastranya, tetapi juga dalam kesederhanaan dan bobot ajaran-ajarannya. Al-Qur’an mengumumkan bahwa ia merupakan ajaran terbaik – satu pendakwaan yang tak dibuat oleh Kitab wahyu lainnya.<br />
   6. Al-Qur’an mendakwakan bahwa ia menggabungkan ciri-ciri khas terbaik dari kitab-kitab suci sebelumnya, dan semua ajaran yang berlanjut dan berbobot telah dihimpun di dalamnya. Al-Qur’an mengatakan: ”Di sinilah perintah-perintah terakhir.” dan ”Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, [yaitu] kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”<br />
   7. Satu ciri khas Islam yang istimewa adalah bahwa Kitab Sucinya mempunyai satu bahasa yang hidup. Tidakkah luar biasa bahwa semua bahasa dari kitab-kitab suci lain telah mati atau tak digunakan lagi secara umum? Sebuah kitab yang hidup, tampaknya, haruslah ada dalam bahasa yang hidup dan tahan uji.<br />
   8. Sebuah ciri khas lain dari Islam adalah bahwa Nabinya telah melalui setiap tahap yang dapat dibayangkan pengalaman manusia, bermula dari masa kanak-kanak yang penuh derita dan yatim serta berakhir sebagai penguasa kaum yang tak tergoyahkan. Kehidupan beliau telah tercatat dengan sangat rinci dan mencerminkan keimanan yang tak ada taranya kepada Tuhan serta pengorbanan yang dawam di jalan-Nya. Beliau menjalani kehidupan yang sempurna dan menarik dengan amal perbuatan, dan meninggalkan contoh-contoh amal perbuatan yang sempurna dalam setiap segi kehidupan manusia. Hanya inilah yang tepat dan layak, sebab beliau merupakan tafsir Al-Qur’an yang hidup, dan dengan contoh pribadi menerangi jalan manusia untuk masa-masa mendatang – suatu peranan yang tidak dipenuhi oleh nabi-nabi lain secara memuaskan.<br />
   9. Satu ciri khas Islam lainnya adalah banyak nubuatan (khabar ghaib)-nya yang telah terpenuhi sepanjang zaman dan telah menguatkan kembali iman para pengikutnya tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Hidup. Proses ini berlanjut hingga hari ini, seperti yang disaksikan dengan penemuan tubuh yang diawetkan dari Fir’aun yang mengejar Musa (a.s.) dan kaum beliau keluar dari Mesir. Contoh segar lainnya dari Nubuatan Al-Qur’an adalah mengenai pengembangan alat-alat penghancur yang baru, dimana api akan dikunci dalam partikel-partikel kecil yang akan mengembang dan meningkat sebelum meledak dengan satu kekuatan yang akan menyebabkan gunung-gunung hancur.<br />
  10. Satu ciri khas lain dari Islam adalah, bahwa ketika mengatakan mengenai akhirat dan hidup sesudah mati, ia juga menubuatkan kejadian-kejadian masa depan di dunia ini, yang penggenapannya menguatkan iman para pengikutnya akan kehidupan sesudah mati.<br />
  11. Islam adalah menonjol dari agama-agama lain dalam menyediakan aturan-aturan yang berbobot dalam urusan-urusan pribadi, masyarakat dan antar bangsa. Petunjuk-petunjuk ini sesuai untuk segala suasana yang dapat dibayangkan dan termasuk hubungan antara tua dan muda, majikan dan buruh, antara anggota-anggota keluarga, antara kawan dan rekan, dan bahkan antara musuh-musuh. Perintah dan prinsip yang ditetapkan adalah benar-benar universal dan telah teruji sepanjang zaman.<br />
  12. Islam mengumumkan persamaan penuh di kalangan umat manusia, tanpa memandang perbedaan kasta, keturunan dan warna kulit. Satu-satunya ukuran kemuliaan yang diterima adalah ketakwaan, bukan keturunan, kekayaan, ras ataupun warna kulit. Al-Qur’an mengatakan: ”Sungguh, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS 49:14). Dan juga: ”Dan barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga.” (QS 40:41).<br />
  13. Islam menyajikan batasan (pengertian) baik dan jahat yang membedakannya dari agama-agama lain. Ia tidak memandang hasrat-hasrat alami manusia sebagai kejahatan; ia hanya menyebut pemenuhan hasrat yang berlebihan dan tak layak itu sebagai kejahatan. Islam mengajarkan bahwa kecenderungan-kecenderungan alami kita hendaknya diatur dan disalurkan supaya menjadi konstruktif dan bermanfaat bagi masyarakat.<br />
  14. Islam tidak hanya menjadikan wanita berhak mewarisi harta, melainkan juga memberikan mereka hak yang setara dengan laki-laki, tetapi tidak dengan cara yang akan melecehkan kekhususan jasmani mereka dan tanggung jawab khusus mereka dalam melahirkan dan mengasuh anak-anak.</p>
<p><strong>Agama Perdamaian</strong></p>
<p>Terakhir, saya akan memberikan kepada semua pencari perdamaian kabar gembira bahwa Islam sajalah agama yang menjamin perdamaian di semua lingkungan dan pada semua lapisan; pribadi, masyarakat, ekonomi, bangsa dan antar bangsa. Islam sajalah yang menyandang nama, yang makna harfiahnya adalah ’damai’, dan orang yang menjadi seorang Muslim, tidak hanya memasuki suasana damai bagi dirinya tapi juga menjamin hal itu untuk yang lain, dan menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat membawa kekacauan dan kerusuhan. Nabi Suci (s.a.w.) bersabda bahwa seorang Muslim adalah dia yang tidak menyakiti orang lain dengan perkataan dan perbuatannya (Bukhari – Kitabul Iman). Pidato Rasulullah (s.a.w.) yang disampaikan secara singkat sebelum kewafatan beliau, dan sesudah melaksanakan apa yang kemudian disebut sebagai Haji Perpisahan, merupakan piagam perdamaian abadi bagi seluruh umat manusia. Islam menggalakkan perdamaian bukan hanya di antara manusia, tapi juga antara manusia dan Pencipta mereka, sehingga tidak hanya orang-orang lain selamat dari perkataan dan perbuatan seorang Muslim, melainkan dia juga selamat dari kemurkaan dan kutukan Tuhan – sebagai balasan yang diterima akibat berbuat pelanggaran. Maka, kedamaian seorang Muslim berbuah di dunia ini dan juga berlanjut ke akhirat.</p>
<p>Ajaran Islam, jika diikuti oleh bangsa-bangsa di dunia ini, sepenuhnya mampu menyelamatkan mereka dari kekacauan dan kehancuran. Islam merupakan agama yang hidup dan menyatakan mampu untuk menempatkan hubungan manusia dengan Tuhan dengan rencana yang sama seperti di masa lalu. Islam tidak menganggap wahyu dan hubungan dengan Tuhan sebagai sesuatu [yang dapat terjadi hanya di] masa lalu. Ia mempercayai bahwa derajat-derajat ruhani yang dilimpahkan kepada Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan, di atas mereka semua, Nabi Islam (s.a.w.), adalah masih terbuka dan menjadi tanda untuk mereka yang mengharapkan hubungan yang dekat dengan Tuhan.</p>
<p>Jama’at Ahmadiyah</p>
<p>Jama’at Ahmadiyah dalam Islam meyakini bahwa pendakwaan-pendakwaan ini telah sempurna di zaman kita dalam wujud pendirinya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (a.s.), yang lahir tahun 1835 di kampung terpencil Qadian di India. Beliau dikaruniakan dengan kasih sayang Ilahi untuk menempuh jalan kesalehan dan kesucian, dan, secara tegas mengikuti ajaran-ajaran Islam, diberkati dengan hubungan yang dekat dengan Allah Ta’ala. Beliau menerima wahyu Ilahi, yang juga berbentuk khabar-khabar ghaib kepada beliau, yang tak gagal penggenapannya bahkan berlanjut sesudah masa hidup beliau.</p>
<p>Sesuai dengan petunjuk Ilahi, beliau mendirikan Jama’at Ahmadiyah dalam Islam tahun 1889, dan, meninggalkan sekelompok pengikut yang mukhlis dan bersemangat sejumlah beberapa ratus ribu orang, beliau wafat tahun 1908. Kerja beliau berlanjut, dan Jama’at selama ini telah dipimpin oleh para penerus beliau yang terpilih.</p>
<p>Ketika menggambarkan tugas beliau, pendiri Jama’at kita telah bersabda:</p>
<p>”Aku telah diutus bahwa aku harus membuktikan bahwa Islam sajalah agama yang hidup. Aku telah diberkati dengan kekuatan-kekuatan ruhani yang menyebabkan mereka dari agama-agama lain dan juga orang-orang dari antara kita yang buta secara ruhani putus asa. Aku dapat memperagakan kepada setiap penentang bahwa Al-Qur’an merupakan mukjizat dalam ajaran-ajarannya, ilmu-ilmu pencerahannya, kandungannya yang dalam dan pendekatannya, dan dalam pengungkapannya yang sempurna.” (Anjam-i-Atham (Ruhani Khazain) jil. 11, hal. 345-346).</p>
<p><strong>Beliau selanjutnya bersabda:</strong></p>
<p>”Akulah cahaya bagi zaman kegelapan ini. Barang siapa mengikuti aku, dia akan diselamatkan dari jurang dan lubang-lubang yang telah dipersiapkan syaitan bagi orang-orang yang berjalan dalam kegelapan. Dia telah mengutus aku agar aku menuntun dunia ke arah Tuhan Hakiki dengan damai dan lemah lembut. Serta supaya aku menegakkan kembali keunggulan-keunggulan akhlak Islam. Dan Dia telah menganugrahkan pula tanda samawi kepadaku untuk memberikan ketentraman kepada para pencari kebenaran.” (Almasih Di Hindustan).</p>
<p>Saya kini mengakhiri ceramah saya dengan sebuah kutipan lain dari tulisan-tulisan Pendiri Jama’at Ahmadiyah, yang merupakan satu seruan kepada seluruh manusia:</p>
<p>”Aku ingin meyakinkan para pendengar bahwa Tuhan – yang dengan menemukan-Nya timbul keselamatan dan kebahagiaan abadi bagi manusia – sama sekali tidak akan dapat ditemukan tanpa mengikuti Al-Qur’an Suci….Siapa saja yang di dalam ruhnya terdapat kedambaan untuk meraih kebenaran, bangkit dan carilah. Aku mengatakan dengan sebenarnya, jika di dalam ruh timbul gejolak pencarian sejati dan di dalam hati timbul kehausan hakiki, maka orang-orang hendaknya mencari jalan ini dan sibuk di dalam upaya untuk menemukannya. Akan tetapi, dari arah mana jalan ini akan terbuka dan dengan obat apa tirai ini akan tersingkap? Aku pastikan kepada para pencari kebenaran bahwa hanya Islam sajalah yang memberikan khabar suka tentang jalan ini. Sedangkan umat-umat lain sejak lama telah memasang segel penutup ilham Ilahi. Jadi, pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa segel ini bukanlah berasal dari Tuhan, melainkan suatu dalih yang diciptakan oleh manusia karena dia sendiri tidak menerimanya. Dan pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa sebagaimana kita tidak mungkin dapat melihat tanpa mata, atau mendengar tanpa telinga, atau bicara tanpa lidah, demikian pula kita tidak mungkin dapat melihat Wajah Sang Kekasih Tersayang itu tanpa Al-Qur’an. Dahulu aku muda, sekarang sudah tua, namun aku tidak menemukan seorang pun yang telah berhasil meneguk minuman dari piala makrifat yang nyata itu tanpa melalui mata air suci ini.” (Filsafat Ajaran Islam).</p>
<p>Tanpa keraguan, seruan ini merupakan pesan yang memberi kehidupan kepada setiap jiwa yang mendambakan kebenaran hakiki.</p>
<p><strong>Catatan :</strong></p>
<p>   1. Sesungguhnya, Allah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanat kepada yang berhak menerimanya (QS 4:59).<br />
   2. Dan jika kalian menghakimi di antara manusia, hakimilah dengan adil (QS 4:59).<br />
   3. Dan urusan-urusan mereka diputuskan dengan musyawarah (QS 42:39).<br />
   4. Sesungguhnya ada [jaminan] bagi engkau bahwa engkau tidak akan kelaparan di dalamnya, tidak pula engkau akan telanjang. Dan engkau tidak akan kehausan di dalamnya, tidak pula engkau akan terkena panas matahari. (QS 20:119-120).<br />
   5. Dan ketika dia berpaling [dari engkau], dia berbuat kerusakan di bumi dan menghancurkan ladang dan ternak. Dan Allah tidak menyukai kerusuhan/kerusakan. (QS 2:206).<br />
   6. Tak ada paksaan dalam agama. (QS 2:257).<br />
   7. Dan janganlah kebencian terhadap kaum lain membuat kalian tidak berlaku adil. Berbuatlah adil, sebab adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS 5:9).<br />
   8. Tidak layak bagi seorang nabi mengambil tawanan perang hingga dia terlibat dalam perang yang sesungguhnya di bumi. (QS 8:68).<br />
   9. Maka sesudah itu bebaskanlah mereka sebagai belas kasihan atau dengan mengambil tebusan – hingga perang meletakkan bebannya (selesai). (QS 47:5).<br />
  10. Taatlah kepada Allah dan Rasul dan orang-orang yang memerintah di antara kalian (QS 4:60).<br />
  11. Dan jika kalian berselisih mengenai sesuatu hal, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS 4:60).<br />
  12. Dan saling menolonglah dalam kebaikan dan takwa. Tapi jangan saling menolong dalam dosa dan pelanggaran. (QS 5:3).<br />
  13. Dan janganlah engkau tujukan pandangan kepada apa yang Kami anugrahkan kepada beberapa golongan dari mereka dari nikmat dunia. (20:132).</p>
<p>http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&#038;task=view&#038;id=103&#038;Itemid=1</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ahamadiyahkepbabel.wordpress.com&amp;blog=10338617&amp;post=58&amp;subd=ahamadiyahkepbabel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahamadiyahkepbabel.wordpress.com/2009/11/09/khalifah-ahmadiyah-beberapa-ciri-khas-islam-yang-istimewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8cc2364cf1ca355643482f75e7d9ab71?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Jamaluddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
