Jamaluddin Feeli

Ahmadiyah : Pendiri Ahmadiyah : Shalat menuntun manusia kepada Tuhan

In Ahmadiyah, Para Pemimpin Ahmadiyah, Shalat, Tarbiyat on November 9, 2009 at 11:32 am

Setelah memahami makna daripada Tidak ada yang patut disembah selain Allah selanjutnya laksanakanlah shalat sepenuh hati karena mengenai ini selalu ditekankan kewajibannya oleh Al-Qur’an seperti pada ayat:

“Maka celakalah mereka yang bersembahyang, tetapi lalai dari sembahyang mereka” (S.107 Al-Maun:5-6).

Patut kiranya dimengerti bahwa yang namanya shalat itu adalah bentuk permohonan yang diajukan oleh seorang pengabdi kepada Tuhan pada saat ia merasakan kesedihan karena merasa terpisah dari Wujud-Nya. Dengan hati yang mencair ia memohon dapat diizinkan bertemu dengan Tuhan-nya, karena tidak ada yang bisa disucikan kecuali Tuhan mensucikannya dan tidak ada yang dapat bertemu dengan Tuhan hingga Dia berkenan.

Manusia terbelenggu oleh berbagai kekang rantai dan jerat leher. Ia menginginkan kebebasan tetapi belenggu-belenggu tersebut tetap menjerat. Seberapa besarnya niat manusia menginginkan kesucian namun jiwanya yang sangat menyesali (nafs lawwamah) masih juga terkadang tergelincir. Hanya rahmat Tuhan saja yang bisa mensucikan manusia dari dosa. Tidak ada kekuasaan yang dapat mensucikan kalian berdasar daya kekuatan sendiri semata. Tuhan sudah memberikan jalan berupa shalat guna menumbuhkan perasaan-perasaan yang suci. Shalat merupakan doa yang diajukan kepada Allah s.w.t. saat merasakan kegalauan dengan hati yang terbakar sedemikian rupa sehingga segala pikiran keji dan jahat bisa dienyahkan dan sebagai gantinya muncul hubungan suci dengan Allah s.w.t. melalui pelaksanaan firman-firman Tuhan.

Arti kata shalat itu sendiri mengindikasikan bahwa doa hakiki tidak semata diutarakan oleh lidah saja, tetapi juga harus disertai rasa seperti kalbunya itu solah-olah terbakar dan terpanggang dalam api. Allah s.w.t. tidak akan menerima doa hamba-Nya kecuali yang bersangkutan pada saat berdoa itu seolah-olah mengalami kematian.

Sesungguhnya shalat merupakan doa dalam bentuknya yang paling luhur, tetapi manusia tidak menyadarinya. Di zaman ini banyak sekali umat Muslim yang melakukan pengulangan rumusan-rumusan kesalehan seperti halnya kaum tarekat Naushahi dan Naqshbandi1 dan lain-lain. Sayang sekali tidak ada dari mereka yang menyadari bahwa ajaran mereka tidak sepenuhnya bersih dari segala bid’ah. Mereka ini tidak menyadari realitas shalat dan karenanya mengecilkan arti firman-firman Allah s.w.t. Bagi seorang pencari tidak ada dari bid=ah-bid=ah tersebut yang bermanfaat dibandingkan dengan shalat sendiri. Cara yang diperlihatkan Hazrat Rasulullah s.a.w. ialah ketika sedang menghadapi kesulitan maka beliau mengambil air wudhu, lalu menegakkan shalat dimana segala doa beliau panjatkan saat shalat tersebut. Pengalamanku sendiri mengatakan bahwa tidak ada yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah s.w.t. kecuali melalui shalat.

Berbagai sikap yang dilakukan saat shalat menggambarkan rasa hormat, rendah hati dan kelembutan. Dalam Qiyam (sikap berdiri tegak) si pelaku shalat berdiri sopan dengan kedua tangan terlipat di dada laiknya seorang hamba yang berdiri takzim di hadapan tuan atau rajanya. Dalam sikap Ruku (membungkukkan tubuh) si pelaku shalat membungkukkan dirinya dengan segala kerendahan hati. Puncak dari kerendahan hati itu dicapai saat Sujud yang menggambarkan puncak rasa ketidak-berdayaan si penyembah. (Khutbah dalam Jalsah Salanah, 1906; hal. 6-8).

* * *

Lakukanlah shalat secara teratur. Ada orang-orang yang merasa cukup dengan melakukan shalat hanya sekali dalam sehari. Mestinya mereka menyadari bahwa tidak ada manusia yang dikecualikan dari ketentuan tersebut, tidak juga para Nabi. Ada diutarakan dalam sebuah Hadith bahwa sekelompok orang yang baru saja baiat ke dalam Islam, memohon kepada Hazrat Rasulullah s.a.w. agar mereka dibebaskan dari kewajiban melakukan shalat. Beliau berujar: ‘Agama yang tidak menentukan suatu kewajiban, bukanlah suatu agama sama sekali’ (Malfuzat, vol. I, hal. 263).

* * *

Sekali lagi aku tekankan kepada kalian bahwa jika kalian ingin mencipta hubungan hakiki dengan Allah s.w.t., kerjakanlah shalat sedemikian rupa sehingga tubuh kalian, lidah kalian, ruhani kalian dan perasaan kalian semuanya menjadi perwujudan daripada shalat. (Malfuzat, vol. I, hal. 170).

* * *

Apakah shalat itu?

Apakah shalat itu? Shalat adalah permohonan doa yang diajukan kepada Allah yang Maha Agung dimana tanpa itu maka seseorang tidak bisa sepenuhnya dianggap bisa hidup dan memperoleh sarana keamanan dan kebahagiaan. Hanya berkat Rahmat Ilahi saja maka manusia bisa memperoleh keselesaan hakiki. Dari sejak saat itu maka yang bersangkutan akan merasakan kenikmatan dan kesenangan daripada shalat.

Sebagaimana ia mendapat kenikmatan dari makanan lezat, ia pun akan memperoleh kenikmatan dari isak dan tangisnya saat shalat. Sebelum ia mencapai kondisi demikian dalam shalatnya itu, perlu kiranya ia bersiteguh dalam shalatnya tersebut sebagaimana halnya orang yang harus menelan obat pahit agar pulih kembali kesehatannya. Perlu baginya tetap runut melaksanakan shalat dan mengajukan doanya meski saat itu ia belum merasakan kenikmatannya. Dalam keadaan seperti itu, ia harus mencari kepuasan dan kesenangan dalam shalat melalui pengajuan doa berikut:

Ya Allah, Engkau melihat betapa butanya diriku dan saat ini aku sepertinya seperti orang yang sudah mati. Aku menyadari bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi aku ini akan kembali menghadap kepada-Mu dimana tidak ada seorang pun bisa mencegahnya. Namun hatiku ini buta dan belum mendapat pencerahan. Turunkanlah ke dalam hatiku nyala nur yang terang agar hatiku diilhami dengan kecintaan kepada-Mu dan pengabdian kepada Engkau. Berkatilah aku dengan Rahmat-Mu ini agar aku tidak dibangkitkan nanti dalam keadaan buta atau bersama mereka yang tidak melihat.

Jika ia berdoa dengan cara ini dan bersiteguh dalam doanya maka ia akan melihat satu waktu akan datang ia merasakan sesuatu turun ke dalam hatinya ketika ia sedang berdoa demikian yang akan meluluhkan hatinya. (Malfuzat, vol. IV, hal. 321-322).

* * *

“Dan mereka yang memelihara dengan ketat sembahyangnya” (S.23 Al-Muminun:10)

Makna daripada ayat ini ialah mereka yang beriman yang selalu menjaga keutuhan shalatnya dan tidak perlu diingatkan lagi oleh siapa pun. Hubungan mereka dengan Allah s.w.t. sedemikian rupa sehingga ingatan akan Wujud-Nya menjadi suatu hal yang amat berharga bagi mereka, menjadi sumber segala keselesaan dan bahkan hidup mereka itu sendiri. Karena itu mereka selalu menjaga ketat shalat mereka dan tidak pernah ingin meninggalkannya.

Jelas bahwa seseorang akan menjaga sesuatu jika ia menyadari bahwa kehilangannya akan menghancurkan hidupnya. Orang yang akan menempuh perjalanan di gurun yang diduga tidak memiliki mata air atau pun makanan dalam jarak ratusan kilometer, dengan sendirinya akan menjaga persediaan bekal miliknya seolah-olah nyawanya sendiri karena keyakinan bahwa kehilangan benda-benda itu berarti kehilangan nyawanya. Karena itu mukminin hakiki akan selalu menjaga keutuhan shalatnya seperti si petualang di atas. Mereka tidak akan mengabaikan shalatnya meski pun menghadapi risiko kehilangan kekayaan atau kehormatan atau pun mengundang ketidak-senangan orang lain. Setiap kekhawatiran akan kehilangan kesempatan bershalat menjadikan mereka menderita dan terasa seperti mau mati. Mereka tidak bisa memikul beban perasaan telah mengabaikan ingatan kepada Tuhan meski hanya sekejap saja. Mereka menganggap shalat dan dzikir kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan dimana tergantung nyawa mereka.

Kondisi seperti itu akan tercapai ketika Allah s.w.t. mengasihi mereka dimana nur terang dari Kasih-Nya turun ke dalam kalbu mereka dan memberikan suatu kehidupan baru bagi mereka sedemikian rupa sehingga ruhani mereka dicerahkan dan menjadi hidup. Dalam keadaan seperti itu, kesibukan mereka berdzikir dan mengingat Tuhan bukan lagi karena formalitas atau penampilan semata tetapi karena kesadaran bahwa Tuhan telah menjadikan kalbu mereka menjadi bergantung pada sumber makanan ruhani yang menjadi keniscayaan karena ingatan kepada Wujud-Nya sebagaimana halnya tubuh phisik bergantung pada makanan jasmani. Hal inilah yang menjadikan mereka lebih menyukai sumber makanan ruhani ini dibanding makanan jasmani dan mereka selalu ketakutan akan kehilangan hal itu.

Semua itu sebagai akibat dari ruh yang turun ke diri mereka laiknya sebuah nyala yang menimbulkan mabuk hakiki akan kecintaan kepada Tuhan dalam hati mereka. Mereka tidak ingin dipisahkan daripadanya meski hanya sekejap. Mereka siap menderita dan disiksa demi kedekatan demikian dan karenanya selalu menjaga ketat shalat mereka. Hal ini menjadi suatu yang alamiah bagi mereka bahwa shalat yang menjadi sarana keingatan kepada Tuhan lalu menjadi sumber makanan ruhani yang pokok. Manifestasi kecintaan Allah s.w.t. kepada mereka adalah dalam bentuk dzikir kepada Tuhan yang menyenangkan hati. Karena itulah dzikir kepada Tuhan lalu menjadi suatu hal yang amat berharga bagi mereka yang bahkan lebih berharga dari nyawa mereka sendiri. Kasih Allah s.w.t. merupakan jiwa baru yang turun ke hati mereka laiknya sebuah nyala cahaya dan menjadikan shalat serta dzikir sebagai sumber makanan keruhanian mereka. Mereka meyakini bahwa yang menghidupkan mereka bukanlah roti dan air semata tetapi adalah karena shalat dan dzikir kepada Allah s.w.t.

Shalat memperkuat fitrat keruhanian

Ingatan kepada Tuhan yang dilambari dengan rasa kasih yang juga disebut sebagai shalat, sesungguhnya telah menjadi makanan ruhani bagi mereka dimana mereka tidak akan bisa hidup tanpanya. Mereka menjaganya secara ketat seperti seorang petualang yang berada di tengah gurun menjaga persediaan makanan dan minuman mereka. Sang Maha Pengasih telah menentukan kondisi ini sebagai tahapan terakhir dari kemajuan ruhani seorang manusia.

Ingatan kepada Allah s.w.t. yang dilambari dengan rasa kasih yang secara tehnikal disebut sebagai shalat, sesungguhnya bagi seorang pengabdi telah menjadi substitusi dari makanan. Ia berulangkali berusaha mengurbankan raga phisikalnya guna memperoleh makanan ruhani ini dan tidak bisa hidup tanpanya seperti ikan tak mungkin hidup tanpa air. Ia menganggap keterasingan dari Tuhan-nya meski hanya sekejap sebagai maut itu sendiri. Jiwanya selalu bersujud di pintu gerbang Tuhan dan ia memperoleh kegembiraan dalam Tuhan-nya. Ia merasa yakin bahwa jika ia terpisah dari dzikir Ilahi meski hanya sekejap maka ia akan mati.

Sebagaimana makanan menimbulkan kesegaran di dalam tubuh dan memperkuat indera jasmani seperti daya penglihatan dan pendengaran, begitu pula dengan dzikir Ilahi yang dilambari dengan kasih dan pengabdian akan memperkuat fitrat keruhanian manusia. Dengan kata lain, matanya akan mampu melihat kashaf yang halus secara jelas, telinganya akan mendengar firman Allah s.w.t. dan lidahnya menjadi fasih memberikan ekspresi pada setiap kata-kata secara jernih dan memikat hati. Ia akan sering melihat ru’ya (mimpi) hakiki yang kemudian dipenuhi sebagaimana halnya fajar yang merekah. Karena hubungannya yang demikian dekat kepada Allah s.w.t. maka ia akan memperoleh banyak ru=ya hakiki yang menyampaikan kabar suka kepadanya. Inilah tahapan dimana seorang mukminin merasa bahwa kasih Allah cukup baginya sebagai sumber makanan yang menghidupi. Kelahiran baru ini mewujud setelah kerangka keruhanian dalam dirinya telah siap, dimana ruh yang menyala karena kasih Allah akan turun ke kalbu seorang mukminin dan kemudian mengangkatnya dengan tenaga penuh di atas derajat kemanusiaan biasa.

Tahapan inilah yang secara keruhanian disebut sebagai mahluk ciptaan baru. Pada tahapan demikian maka Allah s.w.t. akan menyebabkan nyala dahsyat dari kasih-Nya yang disebut sebagai ruh, untuk turun ke kalbu seorang mukminin yang memupus segala kegelapan, kekotoran dan kelemahan dirinya. Dengan hembusan nafas ruh tersebut maka kecantikan si mukminin yang tadinya amat rendah, lalu merona mencapai klimaksnya dan ia memperoleh keagungan ruhani dimana segala kecupatan pandangan akan pupus sama sekali dan si mukminin merasa ada ruh baru memasuki dirinya yang tadinya tidak pernah ada. Ia kemudian memperoleh rasa ketenangan dan kepuasan hakiki melalui ruh tersebut. Rasa kasihnya akan membeludak seperti air mancur dan mengairi pohon pengabdiannya. Api yang tadinya panas suam-suam, pada tahapan ini akan membara yang membakar segala jerami dan serpihan ego dirinya serta membawanya di bawah kendali total Ilahi yang mencakup keseluruhan anggota tubuhnya. Kemudian sebagaimana laiknya sepotong besi yang dipanaskan di api yang ganas akan merona merah seperti api itu sendiri, seorang mukminin akan memanifestasikan tanda-tanda dan tindakan Ilahi sebagaimana juga besi yang menyala marong memanifestasikan efek dan fitrat dari api itu sendiri.

Tidak berarti bahwa sang mukminin tersebut lalu menjadi Tuhan. Adalah karakteristik kasih Ilahi yang telah mengaruniakan warna-Nya atas segala sesuatu yang nyata, sedangkan sifat batiniah dan kelemahan dirinya tetap ada. Pada tahapan ini maka Tuhan menjadi roti bagi si mukminin yang akan memelihara kelangsungan hidupnya, dan Tuhan menjadi air yang jika diminum akan menyelamatkannya dari kematian serta menjadi angin sejuk semilir yang menenteramkan hati sang mukminin. Pada tahapan demikian tidaklah salah jika dikatakan secara metaforika bahwa Tuhan telah masuk ke dalam diri si mukminin yang meresapi seluruh wujud dirinya dan menjadikan kalbunya sebagai tahta Wujud-Nya. Ia selanjutnya akan melihat tidak lagi dengan mata ruhani dirinya tetapi melalui ruh Ilahi, mendengar melalui ruh tersebut, berbicara dengannya, berjalan bersamanya dan mengalahkan para musuhnya melalui bantuannya. Pada tahap demikian ia menjadi tiada dan ruh Ilahi mengaruniakan kepadanya hidup baru melalui manifestasi kasih-Nya terhadap dirinya. Ia kemudian menjadi ilustrasi dari ayat:

“Kemudian Kami tumbuhkan dia menjadi mahluk lain. Maka Maha Berberkat Allah , sebaik-baik Pencipta”(S.23 Al-Muminun:15)

(Barahin Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 212-216, London, 1984).

* * *

Shalat dilakukan dengan cara yang tertib

Bodoh sekali jika merasa puas hanya dari tampak luar pelaksanaan suatu shalat. Kebanyakan orang melaksanakan shalat hanya sebagai formalitas dan bersigegas sepertinya shalat itu menjadi beban bagi dirinya yang harus segera diselesaikan. Kemudian ada lagi orang yang bersicepat dalam bershalat tetapi setelah itu berdoa panjang yang menghabiskan waktu dua atau tiga kali waktu shalat, padahal shalat itu sendiri tidak lain adalah doa semata.

Mereka yang melaksanakan shalat tidak dalam kerangka pikiran demikian dan tidak menyibukkan diri dengan permohonan doa saat itu, sesungguhnya telah gagal dalam bershalat. Kalian harus menjadikan shalat kalian menjadi nikmat seperti makanan yang lezat atau air minum yang sejuk, karena jika tidak maka shalat hanya akan menjadi beban dan bukannya rahmat. Shalat adalah kewajiban yang harus dilaksanakan kepada Tuhan. Seyogyanya shalat dilakukan dengan cara yang tertib. (Malfuzat, vol. VI, hal. 370).

* * *

Doa dalam shalat

Shalat merupakan kriteria yang efektif dari kesalehan seorang mukminin. Mereka yang menangis dalam shalatnya akan memperoleh keamanan. Sebagai¬mana seorang anak yang menangis di pangkuan ibunya dan kemudian mendapat ketenangan karena kasih dan sayang ibunya itu, begitu juga halnya dengan ia yang memohon kepada Allah s.w.t. dalam shalat dengan kerendahan dan hati yang mencair, samanya menempatkan dirinya dalam pangkuan kasih sayang Ilahi.

Ia yang belum memperoleh kenikmatan dalam shalatnya, sesungguhnya belum mendapatkan kenikmatan keimanan. Shalat tidak semata-mata hanya gerakan dan sikap tubuh. Sebagian orang bersicepat dalam shalat seperti ayam yang mematuk remah-remah di tanah, tetapi setelah itu berdoa panjang-panjang. Keadaannya sama dengan mengatakan bahwa shalat dilakukan secara cepat sebagai suatu acara formil, padahal itulah saatnya berdoa kepada Allah s.w.t. Selesai melaksanakan shalat tanpa hasil maka mereka lalu menyambungnya dengan doa-doa panjang. Lakukanlah pengajuan permohonan doa kalian pada saat bershalat, jadikanlah shalat sebagai sarana untuk mengajukan permohonan doa. (Malfuzat, vol. II, hal. 145).

* * *

Pengucapan Al-Fatihah dalam shalat

Doa adalah tujuan dan ruh daripada shalat. Bagaimana tujuan itu bisa dicapai kecuali dengan cara mendoa di dalam shalat. Sang penyembah sepertinya mendapat kesempatan audiensi di hadapan Raja untuk menyampaikan permohonannya tetapi ia malah tidak berbicara apa-apa saat itu. Setelah selesai kesempatan audiensi dan meninggalkan hadirat sang Raja, barulah ia bermaksud menyampaikan petisinya. Cara demikian tidak akan ada manfaatnya bagi yang bersangkutan. Keadaan seperti itulah yang terjadi pada orang-orang yang tidak mengajukan doanya secara khusuk dan tekun pada saat sedang shalat. Lakukanlah pengajuan doa kalian ketika sedang dalam keadaan shalat dan laksanakan dengan cara yang tertib.

Allah s.w.t. telah mengajarkan kepada kita sebuah doa di awal mula Al-Qur’an dan memerintahkan kepada kita untuk membacanya sebagai persyaratan keabsahan shalat. Pengucapan Surah Al-Fatihah merupakan kewajiban dalam setiap shalat, hal mana menjadi indikasi bahwa doa hakiki seharusnya diajukan ketika sedang shalat. (Malfuzat, vol. III, hal. 258).

* * *

Shalat dilakukan dalam bahasa Arab

Shalat hanya boleh dilakukan dalam bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an. Namun setelah selesai dengan bacaan yang diwajibkan, kalian boleh saja mengajukan permohonan doa dalam bahasa kalian sendiri. Bacaan yang diwajibkan itu sendiri tidak boleh diabaikan. Umat Kristiani yang meninggalkan prinsip ini sekarang telah kehilangan segalanya. (Malfuzat, vol. III, hal. 288).

* * *

Apakah shalat itu sebenarnya? Shalat adalah permohonan yang diajukan dengan segala kerendahan hati dengan mengemukakan keagungan dan pujian bagi Allah s.w.t., pengakuan atas Kesucian-Nya, menghimbau sifat Pengampunan-Nya dan memohonkan berkat-Nya atas diri Hazrat Rasulullah s.a.w. Jika kalian sedang shalat, janganlah kalian membatasi diri hanya pada bacaan doa wajib sebagaimana halnya shalat dari orang-orang acuh yang shalatnya hanya merupakan formalitas tanpa realitas di dalamnya.

Ketika kalian sedang melakukan shalat, disamping bacaan doa wajib sebagai-mana diajarkan Al-Qur’an dan Hazrat Rasulullah s.a.w., sebaiknya kalian juga mengajukan doa-doa kalian dalam bahasa sendiri agar hati kalian tergugah oleh kerendahan hati dan hasrat dirimu. (Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 68-69, London, 1984).

* * *

Doa bisa diajukan dalam bahasa sendiri

Ajukanlah permohonan doa kalian dalam shalat lima waktu yang kalian dirikan. Kalian tidak dilarang untuk mengajukan permohonan doa dalam bahasa sendiri. Shalat tidak bisa dikatakan telah dilaksanakan dengan baik jika tidak dilambari konsenstrasi, dan konsentrasi tak mungkin dicapai tanpa kerendahan hati, sedangkan kerendahan hati hanya mungkin dicapai karena memahami apa yang diucapkan. Karena itu hasrat dan getaran sukma hanya mungkin dihasilkan bila berdoa dalam bahasa sendiri. Namun tidak berarti kalian boleh mengabaikan doa-doa wajib dan kemudian mengerjakan shalat dalam bahasa sendiri. Bukan itu yang aku maksud. Maksud yang ingin kusampaikan ialah setelah bacaan doa wajib, perlu juga kiranya kalian mengajukan permohonan doa dalam bahasa sendiri.

Dalam doa-doa wajib tersebut terdapat berkat-berkat khusus. Shalat sendiri berarti doa. Karena itu ketika sedang shalat, ajukanlah doa agar memperoleh keselamatan dari bencana di dunia ini maupun di akhirat dan agar kalian nantinya bisa mengakhiri hidup ini dalam keadaan yang baik. Doakanlah juga isteri dan anak-anak kalian. Berbuatlah baik dan jauhilah segala dosa. (Malfuzat, vol. VI, hal. 146).

* * *

Filsafat shalat lima waktu

Apa sebenarnya makna dari shalat lima waktu? Shalat lima waktu sebenarnya merupakan gambaran dari berbagai kondisi kalian yang berbeda-beda sepanjang hari. Kalian juga melewati lima tahapan kondisi pada saat sedang mengalami musibah dan fitrat alamiah kalian menuntut bahwa kalian harus melewatinya. Pertama, adalah ketika kalian mendapat amaran bahwa kalian akan menghadapi musibah. Sebagai contoh, bayangkan ada surat panggilan bagi kalian untuk menghadap ke suatu pengadilan. Kondisi pertama ini akan langsung meruyak rasa ketenangan dan keteduhan kalian. Kondisi seperti menerima surat panggilan pengadilan ini mirip dengan saat ketika matahari mulai menggelincir. Sejalan dengan kondisi keruhanian tersebut ditetapkanlah shalat Dhuhur yaitu ketika matahari mulai menggelincir.

Kalian mengalami kondisi kedua ketika kalian sepertinya mendekat kepada tempat musibah terjadi. Sebagai contoh, setelah ditahan berdasar surat panggilan, tiba waktunya kalian diajukan ke hadapan hakim. Pada saat demikian kalian merasakan kegalauan perasaan dan beranggapan bahwa semua rasa keamanan telah meninggalkan diri kalian. Kondisi seperti itu mirip dengan keadaan ketika sinar matahari mulai suram dan manusia bisa melihat matahari secara langsung serta menyadari bahwa sebentar lagi matahari itu akan terbenam. Sejalan dengan kondisi keruhanian seperti itu maka ditetapkanlah shalat Asyar.

Kondisi ketiga adalah keadaan ketika kalian merasa kehilangan segala harapan memperoleh keselamatan dari musibah. Sebagai contoh, setelah mencatat bukti-bukti tuntutan yang akan membawa kehancuran diri kalian, kalian didakwa dengan bentuk pelanggaran dimana telah disiapkan surat dakwaan. Pada saat demikian, kalian merasa sepertinya kehilangan semua indera dan mulai berfikir menganggap diri sebagai narapidana. Kondisi seperti itu mirip dengan saat ketika matahari terbenam dan harapan melihat terang hari sudah pupus karenanya. Diperintahkanlah shalat Maghrib yang sejalan dengan kondisi keruhanian demikian.
Kondisi keempat adalah ketika kalian ditimpa musibah secara langsung dimana kegelapannya yang kelam telah menyelimuti diri kalian. Sebagai contoh, setelah pembacaan bukti-bukti maka kalian sepertinya lalu divonis dan diserahkan untuk dipenjarakan. Kondisi seperti itu mirip dengan keadaan malam ketika semuanya diselimuti kegelapan yang kelam. Untuk kondisi keruhanian seperti itu ditetapkanlah shalat Isya.

Setelah menghabiskan satu kurun waktu dalam kegelapan dan penderitaan, datanglah rahmat Ilahi yang meluap mengemuka dan menyelamatkan kalian dari kegelapan dengan datangnya fajar yang menggantikan kegelapan malam dimana sinar pagi mulai muncul. Shalat Subuh ditetapkan untuk kondisi keruhanian seperti itu.

Berdasarkan kelima kondisi yang berubah terus tersebut maka Allah s.w.t. telah mengatur shalat lima waktu bagi kalian. Dengan demikian kalian bisa memahami bahwa shalat tersebut diatur waktunya bagi kemaslahatan kalbu kalian sendiri. Bila kalian menginginkan keselamatan dari segala musibah, janganlah kalian sampai mengabaikan shalat lima waktu karena semua itu merupakan refleksi dari kondisi internal dan keruhanian kalian. Shalat merupakan obat penawar bagi segala musibah yang mungkin mengancam. Kalian tidak pernah mengetahui keadaan bagaimana yang dibawa oleh hari berikutnya. Karena itu sebelum awal hari, mohonlah kepada Tuhan kalian yang Maha Abadi agar hari tersebut menjadi sumber kemaslahatan dan keberkatan bagi kalian. (Kishti Nuh, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 19, hal. 69-70, London, 1984).

* * *

Shalat sebagai perlindungan terhadap dosa

Shalat merupakan instrumen untuk keselamatan daripada dosa. Adalah mutu dari shalat itu yang menjadikan seseorang terlindung terhadap dosa dan kejahatan. Karena itulah carilah bentuk shalat yang demikian dan jadikanlah shalat kalian seperti itu. Shalat merupakan jiwa dari segala keberkatan. Rahmat Allah s.w.t. diterima melalui shalat. Jadi, laksanakanlah shalat itu secara disiplin agar kalian bisa menjadi pewaris dari rahmat-rahmat Ilahi. (Malfuzat, vol. V, hal. 126).

* * *

Makna sikap dalam shalat

Apakah shalat itu? Shalat adalah perwujudan dari kerendahan hati dan kelemahan seseorang kepada Tuhan dan mencari pemenuhan kebutuhan dirinya dari Allah s.w.t. Pada saat shalat, si pelaku berdiri tegak di hadapan Tuhan-nya dengan lengan yang terlipat sebagai gambaran kesadaran yang bersangkutan terhadap keagungan Allah s.w.t. dan hasratnya untuk melaksanakan segala firman-Nya. Di saat lainnya ia bersujud sebagai gambaran kerendahan hati dan rasa pengabdian yang sempurna serta memohonkan pemenuhan dari kebutuhannya. Terkadang laiknya seorang pengemis, yang bersangkutan memuji-muji Wujud kepada siapa ia memohon dengan cara melantunkan Keagungan dan Keakbaran-Nya dengan harapan dapat menggugah turun rahmat-Nya.

Agama yang tidak memiliki sesuatu yang mirip dengan shalat, sesungguhnya adalah kosong semata. Shalat mengandung arti kecintaan dan ketakutan kepada Tuhan serta kesibukan hati manusia dalam mengingat Wujud-Nya. Itulah yang dimaksud dengan agama. Mereka yang mengelak melakukan shalat sebenarnya tidak lebih baik dari hewan. Makan, minum dan tidur untuk menghabiskan waktu sebagaimana halnya hewan bukanlah suatu yang bisa disebut sebagai agama. Hal demikian itu adalah kelakuan orang-orang kafir. Bagi mereka yang ingin bertemu dengan Tuhan dan berhasrat mencapai-Nya maka shalat merupakan sarana dengan apa ia bisa mencapai sasarannya dengan cepat. Mereka yang meninggalkan shalat, bagaimana mungkin akan sampai di tujuan yang dimaksud?

Saat umat Muslim mulai meninggalkan shalat atau tidak lagi melaksanakan-nya dengan ketenangan, keselesaan dan kecintaan hati, karena tidak lagi memahami makna hakikinya, maka sejak itu Islam mulai menurun. Ketika shalat masih dilaksanakan secara patut maka saat itu adalah masa kejayaan Islam dimana agama ini telah mendominasi seluruh dunia. Setelah kemudian umat Muslim tidak lagi melaksanakan shalat secara patut, maka mereka mulai ditinggalkan Tuhan.

Adalah shalat yang dilaksanakan dengan sepenuh hati yang akan bisa mengangkat seseorang dari segala kesulitan. Adalah pengalaman diriku berulang-kali bahwa Tuhan telah menyelesaikan segala kesulitanku saat shalat di dalam mana doa-doa aku ajukan belum lagi selesai.
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam suatu shalat? Sang manusia mengangkat kedua tangannya dalam rangka memohon, sedangkan Yang Maha Kuasa mendengar¬kannya dengan baik. Kemudian tiba saatnya Dia yang biasanya mendengarkan lalu berbicara dan menanggapi si pemohon. Situasi demikian itulah yang terjadi di dalam shalat. Si penyembah menyungkurkan dirinya di hadapan Allah yang Maha Kuasa sambil mengemukakan segala masalah dan kesulitannya serta mengemukakan segala kebutuhannya kepada Wujud-Nya.
Natijah dari shalat hakiki adalah segera tiba waktunya bagi Allah yang Maha Agung untuk menanggapi si pemohon dan menenangkan hati yang bersangkutan dengan firman-firman-Nya. Apakah mungkin bisa memperoleh pengalaman demikian tanpa melaksanakan shalat secara patuh? (Malfuzat, vol. V, hal. 253-255).

* * *

Shalat hakiki

Disebut sebagai shalat hakiki ketika bisa tercipta hubungan yang tulus dan suci dengan Allah yang Maha Agung dimana si penyembah menjadi demikian mengabdi kepada kehendak Allah dan kepatuhan kepada-Nya. Ia menjunjung keimanannya di atas segala nilai-nilai keduniawian dan ia akan selalu siap mengurbankan jiwanya di jalan Tuhan.

Pada keadaan demikian itulah dikatakan bahwa shalat seseorang patut disebut sebagai shalat hakiki. Sepanjang kondisi ini tidak tercapai dan si pelaku tidak menjadi teladan ketulusan dan keimanan bagi yang lainnya maka segala doa dan tindakan lain yang dilakukannya menjadi tiada arti. (Malfuzat, vol. VI, hal. 240).

* * *

Shalat, doa dan kepastian keimanan

Jangan melakukan shalat hanya sebagai bentuk pelaksanaan suatu upacara belaka. Lakukanlah shalat dengan hati seperti terbakar dan mencair serta berdoalah terus menerus di dalam shalat. Shalat menjadi kunci bagi penyelesaian segala kesulitan. Disamping doa-doa dan pengagungan yang diwajibkan dalam shalat, ajukan juga doa-doa dalam bahasa kalian sendiri agar dengan demikian maka hati kalian bisa luluh. Teruslah dalam upaya ini sampai kalian tiba pada suatu kondisi dimana kondisi itu menjadi sarana guna mencapai tujuan-tujuan hakiki.

Semua sikap phisik yang diperagakan dalam shalat harus mencerminkan keadaan hati juga. Ketika si pelaku shalat berdiri tegak, hatinya juga harus berdiri tegak di hadirat Ilahi sebagai tanda kepatuhan. Ketika ia melakukan ruku maka hatinya juga membungkuk dan saat bersujud maka hatinya juga bersujud dengan pengertian bahwa hatinya tidak pernah melepaskan Tuhan-nya walau sekejap pun. Dengan tercapainya kondisi seperti itu maka ia akan mulai terbebas dari dosa. (Malfuzat, vol. VI, hal. 367-368).

* * *

Pengabdian manusia dan pemeliharaan Tuhan

Kitab Suci Al-Qur’an mengutarakan ada dua macam kebun atau taman. Satu di antaranya adalah kebun yang dikaruniakan dalam kehidupan ini juga dan itulah yang disebut sebagai kenikmatan shalat.

Shalat bukanlah suatu beban yang memberatkan tetapi merupakan hubungan permanen di antara kondisi pengabdian manusia dan pemeliharaan Tuhan. Allah s.w.t. sudah menetapkan shalat sebagai sarana untuk membentuk hubungan demikian dan mengisinya dengan kenikmatan yang menjadikan terpeliharanya hubungan tersebut. Sebagai contoh, jika sepasang manusia yang terikat hubungan perkawinan kemudian tidak mendapati kenikmatan dalam hubungan mereka, maka besar kemungkinan hubungan itu tidak akan berumur lama. Begitu juga jika tidak ada kenikmatan dalam shalat maka hubungan di antara hamba dengan Tuhan-nya akan menjadi terganggu.

Berdoalah di balik pintu yang tertutup agar hubungan tersebut tetap terpelihara dan menjadi sumber kenikmatan. Hubungan antara pengabdian manusia dengan pemeliharaan Tuhan bersifat sangat dalam dan penuh nur cahaya yang hakikatnya tidak bisa diuraikan dalam kata-kata. Sampai kenikmatan seperti itu bisa dialami maka manusia tetap saja berada dalam keadaan yang mendekati hewaniah. Meski kenikmatan seperti itu mungkin hanya pernah dialami dua atau tiga kali, namun masih lebih baik dari mereka yang buta dan tidak pernah mengalaminya sama sekali seperti kata ayat:

“Barangsiapa buta di dunia ini, maka di akhirat pun ia akan buta juga” (S.17 Bani Israil:73).
(Malfuzat, vol. VI, hal. 371).

* * *

Istighfar mengandung makna bahwa nur yang telah diperoleh dari Allah s.w.t akan bisa dipelihara dan dikembangkan terus. Untuk tujuan ini ditetapkan shalat agar lima kali dalam sehari nur itu bisa dicari dari Tuhan. Mereka yang memiliki wawasan menyadari bahwa shalat merupakan pengagungan keruhanian dan bahwa satu-satunya cara penyelamatan bagi sakit ruhani adalah permohonan doa berulang di dalam shalat yang dilambari dengan hasrat dan luluhnya hati yang mencair. (Malfuzat, vol. VII, hal. 124-125).

* * *

Jika seorang penyembah merasa bahwa ia telah kehilangan hasrat dan kenikmatan yang biasanya ia rasakan dalam shalat, janganlah yang bersangkutan menjadi lesu dan patah hati. Ia harus memulihkan kembali dengan hasrat menggebu segala sesuatu yang telah hilang. Cara yang terbaik adalah dengan melakukan taubat, istighfar dan kesungguhan. Shalat jangan sampai ditinggalkan hanya karena merasa kurang nikmat lagi, justru karena itu harus ditimbulkan keinginan melipat-gandakan dan mengintensif¬kannya agar kenikmatan tersebut bisa kembali. Seorang pecandu alkohol tidak akan berhenti minum karena merasa tidak bisa lagi mabuk, malah ia akan terus minum sampai kembali memperoleh rasa nikmat yang dicarinya dalam minuman keras.
Karena itu seorang penyembah yang merasakan shalatnya tidak lagi menyenangkan, malah harus melipat-gandakan shalatnya dan jangan sampai menjadi jemu karenanya. Pada akhirnya rasa tawar yang dirasakan akan kembali menjadi kenikmatan. Seseorang yang menggali sumur untuk mencari air harus terus menggali sampai ia menemukan air. Mereka yang berputus asa dan berhenti sebelum mencapai permukaan air malah akan kehilangan semuanya sama sekali, sedangkan mereka yang bersiteguh dan tidak mengenal lelah, pasti akan memperoleh air pada akhirnya.

Guna memperoleh kenikmatan di dalam shalat yang diperlukan adalah istighfar, shalat secara dawam dan teratur, mendoa secara tekun, hasrat hati dan keteguhan batin. (Malfuzat, vol. V, hal. 432).

* * *

Senjata guna mencapai keunggulan adalah melalui istighfar, taubat, pengetahuan yang mendalam akan agama menegakkan Keagungan Allah s.w.t. serta melaksanakan shalat lima waktu secara teratur. Shalat adalah kunci kepada pengabulan doa. Berdoalah melalui shalat dan jangan melalaikannya. Jauhi segala kejahatan yang berkaitan dengan kewajiban terhadap Tuhan dan hak dari sesama mahluk. (Malfuzat, vol. V, hal. 303).

* * *

Bagaimana mengukur derajat rasa takut seseorang kepada Tuhan-nya bisa dilihat dari kedawaman shalatnya. Aku yakin bahwa orang yang melaksanakan shalat secara rajin serta tidak mundur daripadanya karena takut atau sakit atau pun cobaan duniawi, sesungguhnya ia meyakini sepenuhnya keberadaan Allah s.w.t. Hanya saja tingkat keimanan demikian lebih banyak ditemukan pada orang-orang miskin. Hanya sedikit dari orang kaya yang memperoleh karunia ini. (Izalai Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 3, hal. 540, London, 1984).

* * *

Baik shalat mau pun puasa merupakan bentuk peribadatan. Puasa besar pengaruhnya atas tubuh sedangkan shalat mempengaruhi kalbu secara langsung. Shalat menghasilkan kondisi terbakar dan luluhnya hati, karena itu merupakan bentuk ibadah yang lebih tinggi daripada puasa. Namun puasa mengembangkan kemampuan untuk menerima kashaf. (Malfuzat, vol. VII, hal. 379).

* * *

Shalat dan puasa untuk mensucikan ruhani

“Ramadhan ialah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan” (S.2 Al-Baqarah:186)

Ayat dari Al-Qur’an ini menggambarkan keagungan dari bulan Ramadhan. Kaum Sufi umumnya sepakat bahwa bulan ini adalah saat terbaik untuk pencerahan kalbu. Orang yang melaksanakan puasa, sering memperoleh kashaf dalam bulan ini.

Shalat mensucikan ruhani dan puasa mensucikan kalbu. Pensucian ruhani mengandung arti bahwa manusia bisa dilepaskan dari segala nafsu ego yang membawanya kepada dosa, sedangkan pensucian kalbu mengandung makna bahwa pintu gerbang kashaf akan dibukakan sehingga manusia bisa melihat Tuhan-nya. (Malfuzat, vol. IV, hal. 256-257).

* * *

Suatu ketika aku sedang merenungi tujuan dari cara menebus puasa yang terlewat dan aku berkesimpulan bahwa penebusan tersebut diatur agar manusia dikaruniai kemampuan dan kekuatan untuk melaksanakan puasa secara sempurna. Hanya Allah s.w.t. yang bisa memberikan kekuatan dimaksud dan segala sesuatu sebaiknya diminta dari Tuhan. Dia itu Maha Kuasa, jika Dia berkehendak maka Dia akan menganugrahkan kekuatan melaksanakan puasa kepada seorang yang menderita tuberkulosa.

Tujuan dari peraturan tentang membayar puasa adalah agar manusia diberikan kekuatan guna melaksanakan puasa, dimana hal ini hanya bisa diperoleh berkat rahmat Ilahi. Sewajarnya kita berdoa:

‘Ya Allah, ini adalah bulan-Mu yang berberkat sedangkan aku telah dikucilkan dari keberkatan tersebut. Aku tidak tahu apakah aku masih tetap hidup pada tahun mendatang atau punya kesempatan untuk melaksanakan puasa yang telah terlewatkan. Berkatilah aku dengan rahmat-Mu berupa kekuatan melaksanakan puasa ini’.

Aku yakin bahwa ia yang memohon demikian akan dikaruniai Allah s.w.t. dengan kekuatan yang diperlukan. Jika Allah s.w.t. berkehendak, mungkin Dia tidak akan memberikan batasan bagi umat Muslim sebagaimana Dia telah tentukan-Nya bagi umat terdahulu. Tetapi tujuan dari batasan itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umat dimaksud. Menurut pendapatku, jika seseorang berdoa kepada Allah s.w.t. dengan segala ketulusan memohon agar ia tidak diasingkan dari berkat-berkat bulan Ramadhan maka ia tidak akan diasingkan. Jika kemudian yang bersangkutan jatuh sakit dalam bulan Ramadhan maka sakitnya menjadi sumber rahmat baginya karena nilai setiap tindakan ditentukan oleh niat yang mendasari. Sepatutnya bagi mukminin jika ia bisa membuktikan dirinya memiliki keberanian di jalan Allah s.w.t.

Ia yang sepenuh hati bertekad untuk melaksanakan puasa tetapi terhalang karena sakit yang diderita sedangkan hatinya sangat ingin mengerjakan puasa tersebut, ia tidak akan dikaliskan dari rahmat pelaksanaan puasa dan adalah para malaikat yang menggantikannya berpuasa. Hal ini merupakan suatu hal yang pelik. Jika seseorang merasa berpuasa itu sulit karena kemalasan ruhaninya dan berkhayal bahwa ia sedang kurang sehat sehingga tidak boleh melewatkan waktu makan karena dianggapnya akan membawa berbagai penyakit, maka orang seperti ini jika menganggap rahmat Tuhan akan tetap berada di sisinya, sesungguhnya ia tidak berhak atas pahala ruhani apa pun. Sebaliknya dengan seseorang yang bergembira atas kedatangan bulan Ramadhan dan berhasrat melaksanakan puasa tetapi tertahan karena sakit yang dideritanya, ia malah tidak akan dikaliskan dari berkat Ramadhan.

Banyak orang yang mencari-cari alasan tidak berpuasa dan membayangkan jika mereka bisa menipu manusia lain maka mereka juga bisa mengelabui Tuhan. Orang-orang seperti ini membuat penafsiran sendiri yang dianggapnya benar, padahal sesungguhnya mereka keliru dalam pandangan Tuhan. Ruang lingkup penafsiran seperti itu sebenarnya amat luas dan ada yang terbiasa menafsirkan sendiri sehingga misalnya ada yang melakukan shalat sambil duduk sepanjang hidupnya atau sama sekali tidak melaksanakan puasa. Sesungguh¬nya Allah s.w.t. amat mengetahui motivasi dan niat tiap orang dalam beribadah. Allah s.w.t. mengetahui niat dan hasrat yang tulus dan Dia akan memberkati yang bersangkutan, mengingat hasrat hati seseorang dianggap suatu yang berharga dalam pandangan Tuhan.

Mereka yang mencari-cari helah sebenarnya bertumpu pada penafsiran mereka sendiri, sedangkan penafsiran seperti itu tidak ada nilainya di hadapan Tuhan. Suatu ketika, saat sedang melanjutkan puasaku selama enam bulan, aku bersua dengan sekelompok Nabi-nabi yang menegur karena dianggap aku terlalu keras membebani diriku sendiri dan memerintahkan kepadaku untuk menghentikannya. Jadi jika seseorang membebani dirinya terlalu keras demi Tuhan-nya maka Dia akan berbelas-kasihan seperti orang tua kita yang melarang kita meneruskannya. (Malfuzat, vol. IV, hal. 258-260).

http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&task=view&id=103&Itemid=1